Maulid Nabi, Muhasabah Kebangsaan dan Ukhuwah Wathoniyah

Maulid Nabi, Muhasabah Kebangsaan dan Ukhuwah Wathoniyah

- in Suara Kita
981
0
Maulid Nabi, Muhasabah Kebangsaan dan Ukhuwah Wathoniyah

Bulan Rabiul Awal begitu istimewa bagi umat Islam. Tersebab, di bulan itulah Nabi Muhammad Saw dilahirkan. Annie Marie Schimmel dalam bukunya Dan Muhammad ialah Utusan Allah: Cahaya Purnama Kekasih Tuhan menyebut kelahiran Nabi Muhammad Saw ialah berkah tidak hanya bagi umat Islam, namun juga umat manusia secara universal.

Di era sekarang, kiranya sudah tidak relevan lagi membahas apakah peringatan maulid Nabi Muhammad itu bidah atau tidak. Yang lebih penting dari itu ialah bagaimana peringatan maulid Nabi itu bisa menjadi semacam momentum muhasabah kebangsaan. Yakni proses evaluasi menyeluruh dari semua entitas dan elemen masyarakat untuk mengurai berbagai problem kebangsaan. Salah satu problem kebangsaan yang mencuat belakangan ini ialah potensi disintegrasi bangsa, baik karena faktor eksternal maupun internal.

Dari luar, kita menghadapi gelombang penyebaran ideologi radikal-transnasional yang memiliki agenda menggugat finalitas NKRI dan Pancasila. Gugatan terhadap keabsahan NKRI dan Pancasila tidak pelak telah membuat bangsa terpecah-belah. Dari dalam, kita menghadapi fenomena polarisasi dan fragmentasi politik akibat praktik politik identitas dan kebangkitan populisme agama (Islam). Beragam krisis kebangsaan itulah yang mengancam persaudaraan dan persatuan kita.

Refleksi Kebangsaan

Disinilah pentingnya kita melakukan muhasabah kebangsaan untuk membangun sense of chaos, yakni kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi konflik dan kekacauan sosial akibat perpecahan tersebut. Salah satu hal urgen yang wajib kita teladani dari Rasulullah saat ini ialah ihwal konsepsinya tentang membangun persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathoniyah). Khususnya ketika Rasulullah mendakwahkan Islam di Madinah.

Sebagaimana tercatat dalam sejarah, periode dakwah Islam Rasulullah di Madinah atau kerap disebut addaur al madani dikenal penuh tantangan. Masyarakat Madinah ialah komunitas heterogen lintas-iman dan suku. Di tengah kondisi yang plural tersebut, Nabi Muhammad tidak membangun masyarakat yang homogen dan melakukan penyeragaman (uniformity). Sebaliknya, nabi justru membangun sebuah komunitas besar yang bertumpu pada filosofi ukhuwah wathoniyah (persaudaraan kebangsaan) sekaligus ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan itu dibangun di atas fondasi konstitusional, yakni shahifatul Madinah atau Piagam Madinah. Martin Lings dalam bukunya berjudul Muhammad; His Life Based on Earliest Sources menjelaskan bahwa Piagam Madinah mengandung dua unsur penting, yakni agama dan sosial Dari sisi agama, Piagam Madinah menjunjung tinggi kebebasan beragama. Dari sisi sosial, Piagam Madinah mengakui persamaan hak dan menolak diskriminasi sosial.

Meski telah berabad lamanya, konsepsi Piagam Madinah tetap relevan sebagai semacam fondasi filosofis dalam membangun ukhuwah wathoniyah di era kiwari. Khususnya dalam konteks keindonesiaan kekinian yang diwarnai berbagai ancaman dan potensi perpecahan. Ukhuwah wathoniyah dimulai dari menumbuhkan rasa cinta tanah air (nasionalisme) dan sikap rela membela tanah air (patriotisme). Selanjutnya ialah membangun persaudaraan sesama anak bangsa yang mengeliminasi segala perbedaaa suku, agama, ras, gender, warna kulit, dan identitas lainnya.

Mengelaborasi Warisan Nabi

Persaudaraan kebangsaan dibangun di atas nalar pluralisme, yakni pengakuan terhadap perbedaan agama dan kesediaan untuk hidup berdampingan antar-entitas yang majemuk. Juga multikulturalisme yakni pengakuan terhadap keanekaragaman budaya yang tumbuh di masyarakat. Dengan begitu, kita akan mampu menjalin relasi kebangsaan yang solid dan steril dari potensi perpecahan.

Hal lain yang patut kita teladani dari Rasulullah ialah komitmennya untuk membangun masyarakat Islam yang berperadaban (madani) dan moderat. Jauh sebelum masyarakat Barat menemukan konsep civil society yang adaptif pada nilai demokrasi dan HAM, Rasulullah sebenarnya telah meletakkan dasar-dasar pembentukan masyarakat moderat. Gagasan ihwal masyarakat madani dan moderat (wasathy) itulah yang juga sangat relevan diimplementasikan di era sekarang.

Oleh karena itu, peringatan maulid Nabi Muhammad Saw yang kita helat saban tahun idealnya tidak hanya menjadi seremoni. Jauh lebih penting dari itu ialah mengelaborasi warisan gagasan dan praktik hidup (agama, sosial, politik) Rasulullah untuk kita relevansikan dan kontekstualisasikan di era sekarang. Meneladani Nabi tidak hanya dilakuan dengan meniru gaya Nabi dalam berpakaian, makan, dan hal simbolistik lainnya. Jauh lebih esensial dari itu ialah menerjemahkan setiap gagasan dan pemikirannya demi kemaslahatan umat.

Facebook Comments