Melawan Pengasong Agama yang Melecehkan Tuhan

Melawan Pengasong Agama yang Melecehkan Tuhan

- in Narasi
1075
32
Melawan Pengasong Agama yang Melecehkan Tuhan

Dalam peluncuran Aksi Moderasi Beragama yang diadakan Kementerian Agama RI pada 23 September lalu, aktris Cinta Laura Kiehl menyampaikan pidato yang membangkitkan semangat banyak orang, khususnya dalam isu-isu berkaitan dengan anak muda dan keberagaman.

Cinta Laura membuka dengan penegasan bahwa generasi muda bukanlah “penghuni” masa depan semata, generasi muda disebut oleh Cinta adalah generasi yang akan bertanggung jawab di masa depan agar negara menjadi maju, modern, sejahtera, dan terkemuka di mata dunia, dan untuk tanggung jawab itu generasi muda mesti membangun kesepakatan bersama agar Indonesia benar-benar menjadi negara yang kuat.

Seturut dengan gagasan Cinta, RM BTS dalam UN General Assembly 2021 juga menyampaikan bahwa generasi ini bukan generasi yang hilang (Lost Generation), tetapi generasi yang membuat gerakan luar biasa dengan pilihan terbatas yang mereka miliki. Hal ini menegaskan bahwa generasi milenial dapat melakukan gerakan perubahan terhadap tantangan dunia. Jimin BTS juga mengatakan, “Kita tidak bisa tinggal diam ketika berada di masa yang tepat untuk menghadapi tantangan baru. Kita bisa menyalahkan siapapun, kalian pasti merasakan betapa mengesalkan ketika dunia berubah seketika, seolah kita dipindahkan ke dunia yang lain”. Maka, meski berada di tengah-tengah carut marut persoalan sosial, generasi muda mesti ambil bagian menjadi solusi.

Cinta, RM, Jimin, Anthony Ginting, dan generasi muda lainnya merupakan harapan bahwa masa depan dunia berada di tangan tangan yang tepat. Melalui prestasi dan kolaborasi, generasi muda membangun dunia yang lebih damai dan aman untuk dihuni. Meski begitu, kita juga harus peka terhadap aksi-aksi generasi muda yang menjatuhkan satu sama lain atas dasar perbedaan ras, suku, dan khususnya agama.

Di tengah harapan dan optimisme kita juga masih melihat dan mesti melawan aksi generasi muda merusak simbol dan tempat ibadah agama lain untuk menimbulkan perpecahan, para pemuka agama gadungan yang jualan ayat-ayat perpecahan, dan para politisi yang mengadu domba perbedaan untuk mendulang suara.

Pemahaman yang terbatas dan pikiran yang tidak pernah dilatih untuk kristis dan analitis merupakan penyebab dari mudahnya generasi muda diprovokasi dan diadu oleh isu-isu remeh temeh soal SARA ketimbang memikirkan bagaimana berkolaborasi dengan sesama anak bangsa dan lintas negara. “Orang-orang terjebak dalam cara berpikir mereka yang telah memanusiakan Tuhan, merasa memiliki hak dalam mendikte kemauan Tuhan, merasa tahu pikiran Tuhan, dan merasa berhak bertindak atas nama Tuhan. Inilah yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal,” tutur Cinta dalam pidatonya.

Untuk melawan radikalisme berbalut agama, Cinta menwarkan tiga hal untuk sama-sama diperjuangakan. Pertama, pengenalan kekayaan budaya Indonesia. Setiap generasi yang lahir di Indonesia harus mengenal keberagaman satu dengan lainnya dan menjunjung tinggi perbedaan sebagai kekayaan Indonesia. Kedua, dunia pendidikan dari usia dini hingga perguruan tinggi harus mempresentasikan semua agama di Indonesia dengan narasi yang sejuk. Pengajaran agama tidak hanya terjebak pada doktrin dan sejarah tetapi lebih filosofis sampai pada pemahaman bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan tidak seharusnya melecehkan satu sama lain.

Ketiga, Cinta menegaskan pentingnya critical thinking atau berpikir kritis. Dengan nalar pikir yang kritis, generasi muda tidak muda diprovokasi dan disulut oleh isu-isu yang tak mengedepankan nalar. Dengan berpikir kritis, generasi muda juga mampu membedakan bahkan melawan narasi-narasi intolerasi dan radikal.

Sudah saatnya pepatah “Sing waras ngalah” tidak lagi digunakan dalam memerangi radikalisme. Orang waras harus ikut bertanggung jawab atas kedamaian dan kesejahteraan bangsanya. Maka saat ada kelompok pengasong agama melecehkan Tuhan demi kepentingan kelompoknya, anak bangsa harus bergandeng tangan melawan kelompok itu dengan berbagai cara yang damai.

Facebook Comments