Melestarikan Kesenian untuk Membendung Wabah Radikalisme

Melestarikan Kesenian untuk Membendung Wabah Radikalisme

- in Suara Kita
267
1
Melestarikan Kesenian untuk Membendung Wabah Radikalisme

Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa radikalisme ada dimana-mana, mulai dari sekolah, masyarakat, kampus bahkan sampai menjamah rumah ibadah. Fenomena seperti ini menjadi tugas bersama baik masyarakat dan pemerintah. Membendung wabah radikalisme di Indonesia yang penuh keragaman orangnya, sukunya, bahasanya, RAS-nya, bangsanya dan kepercayaannya perlu kreatifitas tinggi. Misalnya menggunakan cara melestarikan budaya lokal yang baik, tentunya juga tidak menolak budaya baru yang lebih baik.

Radikalisme (dari bahasa Latin radix yang berarti “akar”) adalah istilah yang digunakan pada akhir abad ke-18 untuk pendukung Gerakan Radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di Britania Raya ini meminta reformasi sistem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Begitu “radikalisme” historis mulai terserap dalam perkembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 makna istilah radikal di Britania Raya dan Eropa daratan berubah menjadi ideologi liberal yang progresif.

Menurut Encyclopædia Britannica, kata “radikal” dalam konteks politik pertama kali digunakan oleh Charles James Fox. Pada tahun 1797, ia mendeklarasikan “reformasi radikal” sistem pemilihan, sehingga istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi pergerakan yang mendukung reformasi parlemen.

Salah satu ciri radikalisme yang terjadi sekarang ini adalah sifatnya yang acak dan global. Mark Juergensmeyer (2000), misalnya, berpendapat ada arah baru radikalisme dan juga kekerasan kini dibanding masa lalu, katakanlah sebelum globalisasi benar-benar menjadi mewabah seperti sekarang ini. Yaitu, bahwa dimasa lalu, radikalisme dan kekerasan termasuk yang bersumber dari keyakinan agama, lebih mudah diidentifikasi kelompok maupun locusnya. Yaitu mereka umumnya berasal dari kelompok-kelompok masyarakat yang tersisih dari mainstream kekuasaan atau akibat marjinalisasi.

Di samping itu, radikalisasi dan kekerasan juga muncul dari mereka yang menuntut wilayah tertentu untuk tidak bergabung atau ingin memisahkan diri dari negara tertentu dengan berbagai sebab atau separatis. Dengan demikian kelompok-kelompok tersebut dengan mudah bisa diidentifikasi dan diantisipasi.

Saat ini banyak salah paham bahwa radikalisme tidak hanya terjadi di kalangan Islam, melainkan juga di kalangan agama lain seperti terjadi pada partai Hindu beraliran kanan BJP (The Bharatiya Janata Party) atau Indian People’s Party yang di dalamnya terdapat unsur-unsur radikal dan fanatik dalam Hindu di India, serta keterlibatan sebagian kalangan Bikhu atau Monks Buddhis atas serangan terhadap Rohingya di Myanmar. Hal yang sama terjadi pada kalangan fundamentlisme Kristen yang sering melakukan kristenisasi secara agresif dinegara-negara berkembang namun berasal dari negara-negara maju.

Baca juga : Moderasi Agama dan Literatur Pro-Kebhinekaan

Indonesia dalam membentengi diri dari radikalisme perlu melakukan revitalisasi tradisi. Revitalisasi tradisi adalah suatu proses atau cara dan perbutan untuk menghidupkan kembali suatu hal yang sebelumnya terberdaya sehingga revitalisasi bearti menjadikan sesuatu atau perbutan untuk menjadi vital, sedangkan kata vital mempunyai arti penting atau sangat diperlukan sekali untuk kehidupan dan sebagainya.

Gerakan revitalisasi tradisi yang disebut Reuter tersebut juga merupakan wajah baru dari cara tradisi lokal merespon terhadap pengaruh luar. Di masa lalu, respon itu lebih bersifat defensif atau resisten (resistance), sejauh mungkin menolak atau menerima secara sangat selektif. Salah satu revitalisasi bisa dilakukan dengan keseniaan. Menurut Ki Hadjar Dewantara, “Seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan perasaan indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang dapat mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.”

Seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, fungsinya, bentuknya, makna dari bentuknya, dan sebagainya), seperti tari, lukisan, ukiran. Seni meliputi banyak kegiatan manusia dalam menciptakan karya visual, audio, atau pertunjukan yang mengungkapkan imajinasi, gagasan, atau keperigelan teknik pembuatnya, untuk dihargai keindahannya atau kekuatan emosinya. Kegiatan-kegiatan tersebut pada umumnya berupa penciptaan karya seni, kritik seni, kajian sejarah seni dan estetika seni.

Di Indonesia tradisi dan ritual lokal selalu mengandung toleransi yang tinggi terhadap pemahaman lain termasuk ide-ide dan pemahaman baru yang datang dari luar sehingga di dalamnya inhern pendidikan bagi masyarakat luas untuk selalu terbuka dan berdialog. Berbagai kajian tentang keagamaan di nusantara menunjukkan lenturnya hubungan agama atau keyakinan dengan agama-agama lain yang datang dari luar nusantara. Hal ini terjadi berkat kearifan dari para pemimpin masyarakat dan pemimpin agama yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Pendidikan agama di dalam perguruan tinggi agama sekalipun, seharusnya tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan yang bersifat akademik tetapi penting untuk memperkenalkan mereka tentang kearifan lokal dan cara kerja para tokohnya yang hidup di dalam masyarakat secara langsung (organik). Lembaga pendidikan atau perguruan tinggi agama penting untuk mengambil peran memediasi antara dunia akademik dan dunia nyata dalam masyarakat dan dalam waktu yang sama memediasi antara pandangan-pandangan baru dari luar dengan masyarakat luas melalui para tokoh organik tersebut.

Peran kesenian dalam membendung radikalisme yaitu untuk mencairkan suasana kehidupan beragama supaya tidak tegang. Semisal membendung radikalisme agama di Jawa bisa dengan melestarikan budaya Jawa. Mengingat bidang seni budaya, masyarakat Suku Jawa bisa dibilang memiliki kekayaan seni yang beragam.

Setidaknya seni tradisonal ini dibagi menjadi 3 kelompok menurut akar budayanya, yakni Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ludruk dan Reog). Untuk seni musik, masyarakat Jawa memiliki Langgam Jawa yang merupakan adaptasi musik keroncong ke dalam Musik Tradisonal Jawa, khususnya Gamelan. Selain itu, Suku Jawa memiliki ragam seni tari dari berbagai daerah, yakni tari Bambangan Cakil dari Jawa Tengah, Tari Angguk dari Yogyakarta, Tari Ebeg dari Banyumas, Tari Gandrung dari Banyuwangi, Tari Kridhajati dari Jepara, Tari Kuda Lumping dari Jawa Tengah, Tari Reog dari Ponorogo, Tari Remo dari Jawa Timur dan masih banyak lagi jenis lainnya.

Tentunya daerah lainnya memiliki jenis dan ciri khas seni tradisional yang bisa dilestarikan untuk membendung wabah radikalisme. Bagaimana relevansi pelestarian keseniaan terhadap perannya membendung wabah radikalisme? Hal ini bisa di jawab dengan pendapat Aristoteles terkait seni. Menurut Aristoteles, “Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.” Orang yang berjiwa seni memiliki jiwa tidak menyimpang dan mencintai keindahan. Maka orang seni suka kerukunan dan kedamaian, sebab tanpa kedamaian seni tidak bisa dipanggungkan.

Facebook Comments