Memaknai Haji, Ajang Jihad atau Sekedar Eksistensi

Memaknai Haji, Ajang Jihad atau Sekedar Eksistensi

- in Suara Kita
220
2

Dzulhijjah bulan penuh sejarah bagi umat muslim. Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail menjadi momentum yang menjadikan bulan ini bersejarah. Yakni peristiwa Berqurban. Itulah mengapa bulan ini dikenal sebagai Hari Raya Qurban. Selain itu sering pula disebut sebagai Bulan Haji, karena dibulan ini pula prosesi haji berlangsung. Ibadah Haji awal mulanya telah ada sejak zaman Nabi Adam, kemudian disempurnakan ibadahnya pada masa Nabi Ibrahim.

Ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima. Penyempurna dari empat rukun islam yang lainnya. Jika kita telaah Haji adalah ibadah yang kompleks. Mengapa demikian? Karena ibadah haji adalah satu-satunya ibadah yang mengandung segala unsur ibadah dalam Rukun Islam mulai dari ibadah fisik, seperti sholat. Ibadah mengorbankan harta, seperti zakat. Juga ibadah menahan hawa nafsu layaknya puasa.

Memaknai haji, adalah suatu ibadah yang suci. Penuh sejarah pengorbanan dan juga perjuangan bagi setiap yang terpanggil ke Baitullah.  Ibadah haji tak memandang muda atau tua. Kaya atau miskin. Sehat atau sakit. Ketika Tuhan telah mengundang, tak ada alasan yang tepat menggambarkan seseorang yang akan menjadi tamuNya. Karena ibadah haji adalah tentang seberapa kuat keinginan dan niat kita untuk menuntaskan rindu di Tanah Haram. Labbaikalla humma labbaik.

Namun, ironisnya bagi sebagian orang Ibadah Haji menjadi ajang pencitraan semata. Agar dipanggil Pak Haji ataupun Bu Haji di kampungnya. Bahkan tak jarang orang yang ke Baitullah hanya melaksanakan ibadah Umroh, pulang-pulang ke Tanah Air memproklamirkan dirinya telah haji dan layak untuk dipanggil Pak Haji dan Bu Haji. Lantas apakah ibadah haji hanya sebatas eksistensi menyempurnakan nama di masyarakat semata?  Dan ajang pencitraan untuk meningkatkan derajat dimata manusia saja?

Ibadah Haji pada hakikatnya adalah pensuci jiwa. Setiap yang berhasil menutaskan Ibadah Haji hingga mendapatkan derajat Haji Mabrur, dia seperti terlahir kembali diampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu. Bahkan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Jihad yang paling afdhol adalah Haji yang Mabrur. Memaknai jihad di era modern ini tidak melulu perihal bertempur di medan perang saja, masih banyak ajang jihad lainnya yang dapat kita tempuh tanpa harus terjadi pertumpahan darah.

Baca Juga : Haji sebagai Jihad yang Paling Afdol

Ibadah Haji setara dengan jihad di medan perang, jika diniati dengan ikhlas beribadah kepada Allah SWT tanpa diimbuhi ingin dipuji di mata manusia. Susah memang, itulah mengapa kemudian haji digolongkan sebagai jihad. Untuk melaksanakan ibadah haji, kita telah berjihad sejak memantapkan niat awal untuk sowan ke Baitullah. Berjihad mengumpulakan rezeki untuk biaya Ibadah Haji. Berjihad menunggu antrian keberangkatan. Berjihad untuk tidak merasa terpanggil lebih dahulu diantara orang yang lainnya. Serta mengorbankan harta untuk berangkat dan menyisihkan untuk keluarga yang ditinggalkan .

Selain pra keberangkatan kita menuju Tanah Haram. Selama ibadah haji kita juga berjihad melawan hawa nafsu dengan banyaknya hal-hal yang diharamkan dilakukan selama melaksanakan Ibadah Haji. Dan kita juga berjuang secara fisik untuk melaksanakan ibadah haji bersama dengan umat muslim sedunia. Berdesak-desakan ketika tawaf, merasakan suhu ekstrim di Jazirah Arab dan masih banyak lagi perjuangan fisik selama kita melaksanakan Ibadah Haji. Jika ikhlas dan diniati ibadah kepadaNya, insyaAllah akan menjadi sebab Haji Mabrur.

Itulah mengapa Rasulullah SAW mengatakan haji adalah Jihad. Karena perjuangan dan perngorbanan seorang hamba baik dari segi harta dan jiwa untuk melaksanakan ibadah ini. Sesuai firman Allah dalam Q.S. Al Hujuraat ayat 15, yang artinya Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Momentum Ibadah Haji sebagai ajang Jihad Fii Sabilillah seharusnya tidak dikontaminasi dengan virus-virus pencitraan diri semata. Namun, jadilah bijak dan mendewasa dengan menata niat secara ikhlas dan ibadah kepadaNya. Karena setiap kita hanya menunggu panggilan saja. Panggilan untuk mengunjungi Baitullah sebelum kemudian kita dipanggil ke Rahmatullah. Lantas apa guna eksistensi kehormatan nama jika ibadah menjadi sia-sia di sisiNya.

Wallahu’Allam.

Facebook Comments