Memaknai Hari Pahlawan di Tengah Krisis Idola dan Distorsi Keteladanan

Memaknai Hari Pahlawan di Tengah Krisis Idola dan Distorsi Keteladanan

- in Suara Kita
1085
0
Memaknai Hari Pahlawan di Tengah Krisis Idola dan Distorsi Keteladanan

Hari Pahlawan yang diperingati saban tanggal 10 November ialah ikhtiar merawat memori kolektif bangsa atas dedikasi para pejuang Indonesia melawan tentara Inggris. Pertempuran Surabaya, yang terjadi pada Oktober sampai November 1945 tercatat dalam sejarah sebagai sebuah peristiwa penting dalam sejarah revolusi Indonesia. Perang Surabaya ialah upaya pamungkas anak bangsa dalam mempertahankan kemerdekaannya yang baru berusia seumur jagung.

Kini, 76 tahun sejak peristiwa perang Surabaya itu berlalu, bangsa Indonesia terutama para generasi mudanya tengah mengalami semacam krisis keteladanan. Adanya keterputusan garis sejarah dalam memahami peran para pahlawan revolusi dan kemerdekaan serta penetrasi budaya asing, turut andil menjerumuskan anak muda dalam kekosongan keteladanan. Akibatnya, terjadi semacam ketersesatan bahkan krisis identitas yang melanda kaum muda.

Situasi kekosongan keteladanan dan krisis identitas itu kian diperparah dengan fenomena munculnya idola-idola baru di kalangan generasi muda. Idola-idola yang diciptakan secara sengaja baik untuk kepentingan ekonomi (industri hiburan) maupun kepentingan ideologi (gerakan keagamaan). Maka, hari ini kaum muda terjebak di antara idola-idola semu yang sengaja diglorifikasi tersebut.

Antara Idola Palsu dan Heroisme Semu

Di satu sisi, kaum muda yang cenderung sekuler tergila-gila pada idola-idola yang diciptakan oleh industri hiburan (musik, film, dan sejenisnya). Maka, lahirlah barisan para fans yang memuja idolanya dan rela melakukan apa saja untuk meniru sang pujaan. Di sisi lain, kaum muda yang cenderung relijius memilih sosok-sosok idola yang sengaja diglorifikasi oleh kelompok radikal.

Narasi heroisme semu dan glorifikasi perjuangan yang sengaja dikemas oleh kelompok radikal ini ironisnya cukup menarik perhatian kaum muda muslim. Fenomena ini tidak pelak telah menyumbang andil pada maraknya kaum muda muslim terpapar paham radikal keagamaan bahkan terlibat jaringan terorisme. Salah kaprah dalam memahami sosok pahlawan telah mengaburkan persepsi sebagian kaum muda muslim ihwal siapa sosok yang layak dijadikan idola dan diteladani sikapnya.

Sesat pikir yang demikian itu jelas harus didekonstruksi. Diperlukan upaya untuk membangun kesadaran di kalangan generasi muda bahwa bangsa ini lebih membutuhkan sosok pahlawan ketimbang idola. Pahlawan ialah sosok yang memiliki sikap hidup, cara pandang dan kiprah nyata yang dilakukan secara organik (alami). Sebaliknya, idola ialah sosok yang sengaja dicitrakan sebagai pahlawan dengan narasi heroisme semu dan glorofikasi palsu.

Peringatan Hari Pahlawan yang tahun ini mengusung tema “Pahlawanku Inspirasiku” kiranya menjadi momentum bersama untuk meneladai dedikasi para pahlawan yang rela berkorban demi keutuhan NKRI. Di era sekarang, etos kepahlawanan para pejuang kemerdekaan itu idealnya diejawantahkan ke dalam spirit menjaga NKRI dari ancaman gerakan dan paham radikalisme-ekstremisme terutama yang barbaju agama.

Perang Melawan Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme

Tugas generasi muda saat ini ialah membumikan spirit kepahlawanan, bukan lagi untuk menghadapi kolonialisme, melainkan untuk menangkal radikalisme, ekstremisme dan terorisme. Itulah musuh utama bangsa dan negara yang selama beberapa tahun belakangan ini menjadi bahaya laten. Radikalisme, ekstremisme dan terorisme lebih berbahaya ketimbang kolonialisme.

Jika kolonialisme dipahami sebagai penjajahan fisik, radikalisme, ekstremisme dan terorisme tidak hanya mengekang kebebasan fisik, namun juga pikiran, bahkan kebudayaan. Efek destruktif radikalisme, ekstremisme dan terorisme tidak hanya hilangnya nyawa dan rusaknya harta-benda, namun juga keutuhan negara menjadi taruhannya. Maka dari itu, spirit kepahlawanan yang relevan untuk kondisi hari ini ialah komitmen dan dedikasi untuk menjaga NKRI dari paham dan gerakan radikalisme, ekstremisme dan terorisme.

Spirit kepahlawanan idealnya menginspirasi kaum muda zaman sekarang untuk berpartisipasi aktif menyebarkan spirit kebangsaan sekaligus moderasi beragama. Menjadi agen penyebar semangat kebangsaan dan moderasi beragama ialah salah satu wujud perilaku kepahlawanan dan keteladanan yang relevan dengan situasi serta tantangan kebangsaan yang tengah kita hadapi saat ini.

Berbeda dengan zaman kolonialisme, perjuangan generasi sekarang lebih banyak terjadi di medan pertempuran wacana, kontestasi ideologi dan konfrontasi opini. Tidak hanya di dunia nyata, namun juga di dunia maya. Di tengah situasi krisis idola dan distorsi keteladanan inilah kaum muda idealnya tampil dengan semangat kepahlawanan dan keteladanan baru. Yakni semangat untuk menjaga NKRI dari segala anasir ekstremisme, radikalisme dan terorisme.

Facebook Comments