Memaknai Kembali “Hakikat Jihad” di Era Modern

Memaknai Kembali “Hakikat Jihad” di Era Modern

- in Suara Kita
1132
5
Memaknai Kembali “Hakikat Jihad” di Era Modern

Dalam satu dekade terakhir, terminologi “jihad” menjadi buah bibir yang sangat seksi, baik dalam kancah nasional maupun internasional. Pasalnya, beragam aksi kekerasan yang kerap terjadi di pelbagai belahan dunia, misalnya peristiwa bom di Bali, Amerika dan bahkan di negeri-negeri Islam sendiri; seperti Irak, Afghanistan dan Palestina. Semua aksi kekerasan tersebut acapkali mengatasnamakan atau minimal mengonotasikannya sebagai perbuatan “jihad”.

Kemudian beragam aksi kekerasan tersebut oleh orang-orang Barat dijadikan stigma dan dipopulerkan menjadi sebuah perbuatan kejahatan yang dikenal dengan sebutan “teroris”. Maka tidak heran, jika istilah terorisme kerap dihubungkan dengan Islam, baik individu, kelompok dan bahkan dengan institusi yang lebih besar seperti negara, kendati tidak sedikit aksi kekerasan di belahan dunia yang dilakukan oleh non-muslim, baik individu maupun institusi.

Munculnya stigmatisasi tersebut sekurang-kurangnya disebabkan karena beberapa hal; Pertama, beberapa tahun terakhir terminologi “jihad” mengalami distorsi makna bahkan kerap dimanipulasi oleh sebagian kelompok atau oknum-oknum tertentu dengan tujuan untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya. Di antara adalah: JI, ISIS, JAD maupun FPI, HTI dan lain sebagainya. Kedua, adanya kesalahan dalam penafsiran dan pemahaman, baik di kalangan kaum muslimin maupun non-muslim tentang makna, hakikat dan penerapan jihad yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata.

Tak ayal, yang tampak ke permukaan adalah sikap radikal-ekstremis, klaim kebenaran tunggal hingga aksi teror dan lain sebagainya. Maka dari itu, fenomena demikian ini tentu saja menuntut kita semua untuk lebih proaktif dalam memberikan pemahaman ihwal hakikat jihad itu sendiri. Apalagi, di era modern seperti saat ini menjadi suatu keniscayaan untuk selalu menggalakkan dan mengonstruksi “makna dan hakikat” jihad, yang tentu sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Hakikat Jihad

Dalam Islam sendiri, pada dasarnya istilah jihad memiliki dua pengertian; pertama, jihad dengan pengertian dakwah Islam, dan kedua, jihad dengan pengertian perang. Jihad dalam pengertian pertama, harus (wajib) diimplementasikan kapan saja dan dimana saja, sebab hal ini didasarkan atas cara-cara yang santun, toleran, damai dan jauh dari unsur-unsur pemaksaan apalagi kekerasan. Sedangkan jihad dalam pengertian kedua, hanya boleh diaplikasikan dalam kondisi yang sangat terpaksa disebabkan adanya ancaman yang nyata dari musuh.

Misalnya, dalam QS. Al-Baqarah (2): 190, Allah menyatakan dengan tegas yaitu:

وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

Artinya, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Baqarah (2): 190)

Menurut Asghar Ali Engineer, ayat di atas menunjukkan paling tidak dua hal yang sangat penting. Pertama, berperang hanya diperbolehkan bagi kaum Muslimin tatkala diri mereka diperangi terlebih dahulu. Kedua, ketika kaum Muslimin berperang, sangat dilarang untuk berbuat melampaui batas.

Lebih jauh lagi, Engineer menyatakan bahwa pedang bukanlah satu-satunya senjata dalam berjihad. Namun, senjata yang sebenarnya adalah keyakinan diri dan usaha tanpa henti dalam menebarkan cinta-kasih dan kedamaian serta keadilan dalam menjalani kehidupan. Karena, Al-Quran menganjurkan untuk senantiasa menyampaikan segala sesuatu dengan cara yang baik dan penuh hikmah, sebab hal itu lebih baik daripada menggunakan kekerasan.

Oleh karena itu, jika diletakkan dalam konteks kehidupan modern saat ini, tidak tepat kiranya apabila jihad sekadar dimaknai “perang”. Namun lebih dari itu, yakni jihad haruslah dimaknai dalam arti yang lebih makro dan holistik, sehingga segala bentuk al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy an al-munkar sesuai dengan konteksnya. Misalnya, adanya upaya untuk meningkatkan taraf pendidikan yang lebih tinggi bagi umat manusia, meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia, baik secara ekonomi, politik maupun budaya, dan yang tidak kala urgennya adalah menjaga keutuhan dan kesatuan institusi negara dari pelbagai ancaman yang mengitarinya. Karena, untuk konteks saat ini hal itulah yang sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia di muka bumi ini. Wallahu A’lam

Facebook Comments