Memaknai Ulang Khilafah dan Jihad dari Stigma

Memaknai Ulang Khilafah dan Jihad dari Stigma

- in Suara Kita
1291
1
Memaknai Ulang Khilafah dan Jihad dari Stigma

Pelabelan terhadap mereka yang bercelana cingkrang, berjenggot, bercadar, atau berhijab panjang sebagai kelompok radikal ekstrim kerap terjadi. Identifikasi seperti itu terhadap kelompok teroris saat ini tidaklah tepat. Kita harus jeli melihat itu semua di era ini.

Memang, penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa pelaku teror kerap kali berpenampilan seperti itu. Tapi, saat ini ada perubahan perilaku dari mereka yang perlu diwaspadai. Dari kejelian kita menilai orang lain, menentukan kedamaian pada diri kita.

Hantu radikal terorisme dengan ledakan-ledakan bombastis hingga menewaskan ribuan orang, seperti bom bali, menjadi momok kita semua. Sebagai bangsa yang beragam budaya dan agama, kita harus membuka pemikiran kita terhadap segala kemungkinan.

Kritis terhadap kondisi sekitar misalnya. Sikap kritis ini bukan berarti sikap yang penuh dengan curiga. Misalnya saja mencurigai orag lain sebagai pendukung khilafah (negara islam), atau mencurigai orang lain sebagai kelompok jihadis, dan kecurigaan lain.

Sikap ingin tahu dan peka terhadap kondisi sekitar ini bukan pula mudah menstigma orang lain. Sebenarnya apa itu khilafah, apa itu jihad, dan apa itu simbol-simbol keagaman yang sering kita temukan.

Salah kaprah khilafah islamiyah yang paling fatal adalah memaknainya dengan harfiah. Makna khilafah sebagai negara islam, di mana negara harus menggunakan hukum-hukum islam, menuduh yang tidak beragama islam adalah kafir dan layak dibunuh, pemerintah atau system pemerintahannya haruslah dari kalangan islam dan berpedoman Al- Qur’an.

Negara islam akan seram jika dimaknai seperti itu. Lupakah kita dengan piagam Madinah, di mana kebaragaman dan perdamaian dunia menjadi prioritas kemajuan demokrasi saat itu, saat dipimpin Muhammad Saw.

Negara islam jika dimaknai dengan negara yang senantiasa selamat, sejahtera, dan damai – maka khilafah akan mudah diterima. Penerimaan masyarakat akan makna islam yang progresif itu bukan hal yang tak mungkin. Semangat islam adalah semangat pembebasan, semangat keberagaman, dan semangat perdamaian.

Semangat negara islam adalah semangat menjadi warga negara yang menghargai keberagaman, cinta tanah air, dan juga semangat menggapai perdamaian dunia. Hal itu sudah pula tertuang dalam semangat kebangsaan Indonesia.

Khilafah yang kolot dan tidak mau mendengar masukan dari orang lain bukanlah Indonesia, bukanlah bangsa Indonesia. Bangsa ini sangat mencintai negerinya dan mengamalkan Pancasila. Jika khilafah disikapi dengan hal brutal dan merugikan warga negara lainnya, maka itu kejahatan yang perlu kita perangi.

Selain khilafah, stereotip terhadap jihadis pun demikian. Jihad yang disalahartikan sebagai membenci agama lain, memerangi agama lain, hingga merusak tempat ibadah orang lain perlu dimusnahkan. Jihad tidak merusak dan melukai. Jihad mengajak orang lain menjadi tentram hatinya dan damai berdampingan bersama siapapun.

Jihad dalam islam memiliki makna yang mulia. Jihad di jalan Allah merupakan perjalanan spiritual yang dilandaskan cinta kepada Allah Swt. di mana cintanya kepada Allah itu diluapkan melalui cintanya kepada makhluk-Nya. MakhlukNya dalam hal ini ialah manusia, hewan, tumbuhan, dan segala yang hidup di dunia ini.

Jihad juga memiliki arti sangat penting dalam kehidupan orang islam. Misal saja, beberapa jargon yang pernah dirumuskan NU, Jihad NU Melawan Korupsi. Dari sanalah jihad bisa diartikan sebagai usaha besar NU dalam melewan korupsi yang sangat merugikan bangsa dan negara.

Jihad memiliki misi yang besar. Dahulu, Ketika sahabat bertanya kepada Nabi, “Jihad apa yang paling besar nilainya?”, Nabi pun menjawab, “Jihad melawan diri sendiri, melawan marah pada diri sendiri.”

Jadi, dari sanalah jihad itu berasal dari diri sendiri dan musuhnya ada dalam diri sendiri. Bayangkan saja, mereka yang korup, mereka telah mencurangi dirinya sendiri, mereka yang menistakan dirinya sendiri, dan mereka yang medzolimi dirinya sendiri.

Dirinya adalah manusia ciptaan Tuhan yang dikaruniai akal dan hati nurani, belum lagi ia adalah manusia yang beragama. Tapi, pada dirinya bersarang keserakahan, kecurangan, dan amarah. Oleh sebab itu, ia menjadi gagal menjadi manusia. Ia telah kalah melawan dirinya sendiri.

Khilafah dan jihad sangat keren bila kita memaknainya dari sudut pandang yang berbeda. Negara islam secara politis memang keliru, tapi negara islam jika dimaknai sebagai negara yang baik penuh pengampunan Tuhan, maka negara ini akan selamat untuk umat manusia. Begitu pula dengan jihad, jihad yang dengan tujuan besar mengharap Ridha Allah dengan cara memanusiakan manusia dan tidak merugikan/curang dalam laku hidup ini.

Facebook Comments