Memaksakan Jilbab Merupakan Praktik Intoleransi dan Salah Secara Agama

Memaksakan Jilbab Merupakan Praktik Intoleransi dan Salah Secara Agama

- in Suara Kita
144
0
Memaksakan Jilbab Merupakan Praktik Intoleransi dan Salah Secara Agama

Kerudung atau jilbab kerap dianggap sebagai instrumen pengendalian. Seolah-olah jilbab merupakan indikasi pasti pilihan nilai. Yang berjilbab itu suci, yang tidak berarti kotor. Hijab seolah-olah menjadi penentu jalan ke surga dan neraka.

Padahal, kenyataannya tidak selalu begitu. Tidak sedikit mereka yang berhijab tapi kontradiktif dengan nilai luhur agama. Tidak sedikit pula orang yang memakai jilbab tidak berdasarkan pilihan nilai, cuma karena ikut tren busana. Ada pula yang hanya beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dan, ada pula yang karena dipaksa.

Jilbab tidak menjamin pemakainya tercetak sebagai orang yang ketat berpegang pada nilai-nilai Islam. Jilbab tidak secara otomatis menjamin perilaku yang baik dan yang tidak berjilbab otomatis buruk. Tidak seperti itu. Maka, yang dibutuhkan adalah penanaman nilai pada diri anak supaya memiliki kesadaran untuk mengapresiasi ajaran agama dengan tulus ikhlas, tanpa paksaan.

Dalam agama Islam, menutup rambut perempuan yang sudah baligh merupakan kewajiban karena rambut adalah bagian dari aurat perempuan yang tidak boleh dilihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Maka menutup rambut dengan jilbab atau busana semisal adalah perintah yang berkonsekuensi dosa. Sama dengan shalat, taat kepada orang tua, dan perintah-perintah agama yang lain.

Apa yang mestinya dilakukan orang tua dan guru dalam konteks memperkenalkan perintah agama seperti jilbab?

Orang tua dan guru sepatutnya tidak terjebak pada pola pikir sederhana bahwa perintah ajaran harus diberlakukan dengan cara apapun kepada anak, termasuk dengan cara pemaksaan. Agama memberikan edukasi yang baik dengan cara memperkenalkan setiap perintah dan pelaksanaannya secara bertahap.

Lihat misalnya, perintah shalat yang merupakan ibadah paling pokok dalam agama Islam. Ia dikenalkan dengan cara yang sangat beradab. Sebelum baligh apabila anak masih enggan mengerjakan diberikan pukulan ringan sebagai metode mendidik dan tidak menyakitinya. Ini cara maksimal. Apabila ada cara lain tidak harus dengan cara memberikan pukulan ringan tersebut.

Supaya dalam diri anak tertanam kesadaran untuk menjalankan perintah agama secar ikhlas memang rumit. Karenanya, orang tua dan guru tidak boleh berpikir sederhana untuk mengurai kerumitan tersebut, tapi mencoba mencari solusi yang efektif dan beradab sebagaimana dituntunkan oleh syariat.

Orang tua dan guru harus berpikir dan bekerja keras mengelola perilaku anak. Mereka harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anak, selalu hadir dengan memberikan kasih sayang dan perlindungan, dan memberikan uswah yang baik pula. Menyakiti anak-anak, seperti memaksa berjilbab sampai anak mengalami dipresi, justru menutup peluang anak menjadi muslimah yang taat dengan didasari oleh kesadaran dan keikhlasan.

Seperti telah maklum, sebagian ulama fikih tidak mewajibkan muslimah untuk berhijab atau memakai jilbab. Muslimah hanya diwajibkan untuk berpakaian secara pantas, memakai busana yang sopan menurut tradisi masyarakat sekitar. Sopan dan pantas tidak relatif, karena keduanya merujuk pada busana beradab yang mendahulukan kehormatan. Bukan mengikuti tren busana yang berkembang.

Dari sini jelas bahwa memaksa berjilbab melanggar kode etik yang ditetapkan oleh al Qur’an. Al Qur’an sangat menghargai kebebasan individu manusia dan melarang melakukan ikrah (pemaksaan). Kalimat “Tidak paksaan dalam (urusan) agama” menjadi kata kunci. Pilihan seseorang untuk beriman ataupun tidak merupakan hak dasar masing-masing. Artinya, Islam sangat menghargai pilihan setiap individu.

Kita sebagai umat Islam memang diberi tugas sebagai penyampai kebenaran risalah Rasulullah, untuk mengajak semua manusia masuk menjadi penganut agama Islam. Tapi perlu diingat, dakwah tidak boleh memaksa.

Kalau demikian, patutkah kita memaksakan sesuatu yang oleh para ulama fikih masih diperdebatkan?

Facebook Comments