‘Memayu Hayuning Bawana’ sebagai Strategi Menangkal Hoaks

‘Memayu Hayuning Bawana’ sebagai Strategi Menangkal Hoaks

- in Suara Kita
201
1
‘Memayu Hayuning Bawana’ sebagai Strategi Menangkal Hoaks

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bukan hanya membawa dampak positif, tapi juga dampak negatif. Di satu sisi, itu merupakan capaian be­sar dalam ke­hidupan ma­nusia. Di sisi lain, disrupsi informasi harus diha­dapi dan memaksa mereka terjebak dengan narasi hoaks yang berpotensi memicu perpecahan. Merebaknya jumlah sebaran informasi hoaks akhir-akhir ini merupakan dampak negatif kemajuan TIK yang patut untuk diwaspadai. Mudah percaya pada informasi bukan menambah pengetahuan, justru akan menjerumuskan peng­guna internet pada jurang kehancuran.

Menurut Kamus Merriam Webster, hoax adalah (1) sebu­ah perbuatan yang bertujuan mengelabui atau membohongi, dan (2) menjadikan sesuatu se­bagai kebenaran umum melalui fabrikasi dan kebohongan yang disengaja. Oleh karena itu, adakalanya hoaks tidak membahayakan bagi kehidupan manusia, namun tidak sedikit pula yang mengancam kehidupan manusia. Ironinya, berbagai berita hoaks yang disajikan belakangan ini lebih me­ngedepankan hasutan, keben­cian, dan kebohongan publik, tanpa merujuk pada data dan realitas sebenarnya.

Bagi sebagian kalangan, hoaks menjadi musuh bersama. Namun, tak sedikit pula yang memanfaatkan hoaks untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan politik. Dalam upaya menjatuhkan lawan, be­rita hoaks disebar di beragam platform media sosial. Pada ka­sus ini, para penyebar informasi hoaks barangkali mempercayai ungkapan Paul Joseph Goeb­bels, menteri propaganda era Nazi. Katanya, “A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes truth (berita palsu –fake news yang dikirim dan dikonsumsi oleh publik secara berulang-ulang, suatu saat dapat dipercaya se­bagai kebenaran).”

Memang, sejak media sosial (medsos) eksis dan dimanfaatkan secara luas untuk berkomunikasi, sekaligus menyampaikan isi hati dan pikiran, hoaks pun bermunculan. Ini ditandai dengan banyak sekali informasi yang disebar individu dan kelompok tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hasil survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) 2017 mengungkapkan bahwa dari 1.146 responden, 44,3% di antaranya menerima berita hoaks setiap hari dan 17,2% menerima lebih dari satu kali dalam sehari.

Baca juga : Genealogi Kaum Abritan

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan dalam menangkal hoaks dan adu domba di era disrupsi informasi yang sungguh mengancam kebinekaan? Harus dipahami, sesungguhnya meskipun budaya kita beragam, pada dasarnya terdapat kesepahaman bahwa keselamatan, kedamaian, keteraturan, ketentraman, dan kemakmuran masyarakat merupakan hal yang harus diupayakan dan diwujudkan bersama. Mengenai ini, sebagai orang Jawa, penulis akan menjelaskan salah satu falsafah hidup orang Jawa sebagai katalisator dalam mengedepankan perilaku kedamaian dan keselamatan di mana pun berada.

Strategi

Salah satu wujud kearifan lokal masyarakat Jawa yang sering diperdengarkan dan dapat digunakan sebagai strategi menangkal hoaks yaitu “hamemayu hayuning bawana”. ‘Hamemayu’ atau ‘memayu’ itu kata kerja, artinya ‘membuat ayu’ atau mempercantik, memperindah. ‘Hayuning’ itu kata keadaan, artinya keadaan yang ayu, cantik atau indah. ‘Bawana’ artinya benua atau bumi. Jadi, arti harafiah dari ‘memayu hayuning bawana’ adalah ‘membuat ayu bumi yang (diciptakan) sudah dalam keadaan ayu’. Kata ‘bumi’ dalam hal ini mempunyai arti ganda, yaitu bumi dan isinya secara fisik atau ekosistem dan kehidupan di bumi. ‘Memayu hayuning bawana’ secara utuh merupakan falsafah, tujuan dan landasan hidup manusia di bumi.

Falsafah yang diperkenalkan oleh Pujangga Besar Ronggowarsito ini pada dasarnya menjelaskan bahwa menjaga, memperindah, dan menyelamatkan dunia itu merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Dalam konteks sekarang, dunia yang dimaksud tentu saja bukan hanya dunia nyata, tapi juga dunia maya. Mengingat, dua dunia ini saling terkait erat. Konflik yang terjadi antarwarganet di dunia maya, bisa berimbas pada segregasi sosial dan konflik destruktif di kehidupan sehari-hari. Karenanya, membumikan falsafah memayu hayuning bawana dalam seluruh aspek kehidupan menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.

Hanya saja, seringkali falsafah ini hanya dianggap sekadar sebagai ungkapan (unen-unen) biasa, tanpa adanya pemahaman dan pelaksanaan menyeluruh. Alhasil, kita sebagai bangsa Indonesia, yang sejatinya masyarakat berbudaya (termasuk di dalamnya masyarakat Jawa), adapula yang sengaja memecah harmoni dengan menyebarkan konten hoaks dan adu domba di media sosial untuk mencapai kepentingan mereka sendiri.

Alhasil, banyak di antara masyarakat kita yang terjebak dalam narasi hoaks tersebut. Mastel (2017) menyebut, sebanyak 84% masyarakat merasa dirugikan akibat hoaks yang tersebar bebas di jagat medsos. Dan, apabila dibiarkan, fitrah kebinekaan yang kita bangga-banggakan sebagai kekayaan bangsa, semakin berpotensi berada di ujung tanduk. Sewaktu-waktu amarah dan emosi warga negara tersulut akibat konten hoaks dan adu domba, terbitlah kehancuran nyata dalam relasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai falsafah dan tujuan hidup yang banyak dipakai orang Jawa terutama penganut kepercayaan kejawen, Memayu Hayuning Bawana menganjurkan agar semasa hidup, manusia harus terus-menerus meningkatkan kualitas hidup dan kualitas ekosistem bumi dan jagad raya. Agar, kelak ketika manusia meninggal (mulih mulamulanira) dapat mencapai manunggaling kawula-Gusti dan mengantarkannya menuju sangkan paraning dumadi (menuju asal-usul hidup) dengan benar. Dengan bahasa sederhana, Mulder (2001:59) menjelaskan bahwa pengertian memayu hayuning bawana adalah norma ideal menuju kehidupan nyata.

Secara lebih lanjut, hal yang dibicarakan dalam falsafah memayu hayuning bawana ialah mencakup tiga hal berikut. Pertama, berbicara tentang hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Manusia memiliki kewajiban penting terhadap diri sendiri, agar hidupnya selamat. Prinsip waspada, taat aturan, dan tidak grusa-grusu adalah kunci keselematan diri sendiri. Oleh karena itu, dalam melakukan setiap hal, kewaspadaan, memanfaatkan penalaran, sikap tidak asal-asalan, sabar, dan seluruh hal dilakukan dengan olah rasa, harus didahulukan agar segala hal dapat terselesaikan dengan baik.

Kedua, tentang hubungan antara manusia dan manusia. Setiap tindakan manusia harus memperhatikan: (1) sopan santun atau unggah-ungguh harus dijaga baik-baik dalam hubungan sosial; (2) menghormati orang yang lebih tua; (3) menghargai sesama; (4) membina persaudaraan; (5) bertindak tepa salira; dan (6) dilarang banyak mencela, iri hati, tamak, dan sombong.

Dalam konteks ini, watak membuat lestari (memayu) sangat dibutuhkan dalam relasi sosial sesama manusia. Sikap ini selain menunjukkan pada moralitas luhur, juga akan mengarah pada tindakan karyenak tyasing sesama, artinya membuat pihak lain nyaman. Satu sama lain saling berbelas kasih sehingga dapat membangun harmoni hidup, ketenteraman, dan kedamaian.

Terakhir, hubungan manusia dengan Tuhan. Perlu dipahami, manusia dikatakan mencapai derajat paripurna apabila di dalam perilakunya dijiwai sifat-sifat Tuhan. Artinya, apabila manusia berhasil membumikan sifat-sifat ketuhanan sebagai pandangan hidup, maka watak tercela yang sejatinya menjadi kerikil hidup akan tersingkirkan. Watak buruk akan dijauhi, hidup manusia akan sempurna lahir batin.

Dalam aspek religiusitas ketuhanan tersebut, memayu hayuning bawana juga didasari prinsip kehidupan sepi ing pamrih rame ing gawe. Artinya, keadaan dunia yang selamat, sejahtera, dan bahagia, manusia bekerja tidak lagi didorong oleh kepentinganku, tetapi sepenuhnya didorong oleh kepentingan bersama (Endraswara, 2012). Makna tersebut diwujudkan dalam sikap dan perilaku aktif berbuat kebaikan di mana pun tanah dipijak, termasuk di dalamnya  membangun dan memelihara dunia maya agar nyaman dihuni oleh semua warganet, terlepas dari ras, etnis, suku bangsa, agama, dan budaya.

Dari itu, dengan berpegang teguh pada falsafah memayu hayuning bawana, seharusnya harmoni kebinnekaan dapat diwujudkan meski di tengah gempuran disrupsi informasi. Meski hoaks kian marak, kita tetap bisa memanfaatkan media digital sebagai sarana menyebarkan informasi sejuk, kontra hoaks dan adu domba. Hal ini sebagai upaya nyata mempercantik (memayu) jagat maya dan merawat persatuan dalam keberbedaan. Menghindarkan media sosial dari ujaran-ujaran kebencian yang berpotensi memecah persatuan.

Caroline Tyan (2017) mencatat dalam tulisannya berjudul Nationalism in the age of social media, bahwasanya media digital dapat berperan sebagai penguat dari nasionalisme. Dari itu, marilah kita tumbuhkan benih-benih perdamaian dan persatuan lewat akun-akun media sosial. Jikalau twitter, facebook, instagram, telegram, WhatsApp, Line, dan media sosial lainnya dipenuhi dengan konten-konten bermanfaat, sejuk, dan tidak provokatif, niscaya konsep hayuning bawana akan benar-benar berwujud nyata dalam kehidupan umat manusia. Tidak akan ada lagi adu domba dan perpecahan. Yang ada, satu sama lain saling bersinergi membuat bumi pertiwi menjadi wilayah yang aman, damai, nyaman, dan tentram untuk dihuni oleh siapa pun.

Soekarno pernah berujar dalam pidatonya pada 1 Juni 1945, “Kita hendak mendirikan suatu negara ‘semua untuk semua’. Kebangsaan Indonesia yang bulat. Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia yang bersama-sama menjadi dasar nationale staat.”

Wallahu a’lam!

Facebook Comments