Membaca Argumen Di Balik Penerimaan Abu Bakar Ba’asyir terhadap Pancasila

Pribadi saya mengatakan Abu Bakar Ba’asyir (selanjutnya saya sebut ABB)  seorang yang jujur. Penegasannya tentang keselarasan Pancasila dengan agama berangkat dari kesadaran intelektual. Mungkin, ia telah melakukan pengkajian secara dalam sehingga simplifikasi atau reduksi dalam memahami ajaran agama telah lenyap.

ABB mulai sadar akan kealfaannya selama ini. Pancasila yang ia duga bertentangan dengan ajaran agama Islam, ternyata tidak bertentangan sama sekali. Ia sadar, Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dalam seluruh aspek dan dimensinya ternyata merupakan terjemahan dari syariat Islam.

Ada kesadaran, bagaimana bisa dikatakan bertentangan, padahal agama Islam mendapatkan tempat istimewa dalam Pancasila. Dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, nilai-nilai ajaran agama Islam sangat mewarnai. Apa yang dikatakan oleh Pancasila dikatakan juga oleh agama Islam.

ABB telah sadar. Hukum Islam sangat mempengaruhi hukum negara, seperti dalam UU Perkawinan, UU Sistem Pendidikan, UU Peradilan agama, dll. Ia sadar, Pancasila menjadi dasar negara sekaligus sumber hukum terbukti menampilkan cerminan kehidupan berbangsa dan bernegara yang ideal, seperti Piagam Madinah yang dipakai Rasulullah sebagai Undang-undang negara Madinah.

Watak retak ABB yang mencurigai Pancasila sebagai musuh agama telah hilang, tergantikan oleh kesadaran akan kekuatan Indonesia yang berasal dari Pancasila. Dimana, Pancasila memperlakukan seluruh rakyat dalam posisi yang sama secara hukum; tidak membedakan suku, warna kulit, bahasa, budaya dan kelompok. Bukankah semua manusia sama dihadapan Tuhan, kecuali hanya takwa yang membedakan tinggi rendahnya derajat seseorang? Ini ajaran Islam.

ABB sadar, ideologi radikalisme yang selama ini diagungkan olehnya, yang tidak menerima kebenaran kecuali seperti penafsiran kelompoknya, yang selalu berprasangka buruk terhadap kelompok lain, mengkafirkan yang tidak sealiran, dan aksi-aksi terorisme atas nama agama, seluruhnya adalah bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan tidak hanya itu, efeknya dapat membuat kerenggangan secara sosial, dan mengancam persatuan.

ABB sadar, selama ini telah kehilangan pikiran jujurnya. Dan, kini pikiran jujur itu telah ada dalam dirinya. Bahwa selama ini dirinya tidak jujur menilai Pancasila, menilai kelompok lain dan menganggap diri paling superior dalam hal agama. Padahal, perbedaan sangat diapresiasi oleh agama Islam. Ada empat madhab fikih otoritatif yang selalu menampilkan perbedaan sebagai sesuatu sah-sah saja. ABB sadar akan hal itu  setelah memakai kaca mata yang pas untuk melihat Pancasila.

Mungkin pula ABB telah membaca Piagam Madinah dan mampu menangkap dan memahami lima pokok isi Piagam Madinah.

Pertama, perinsip persaudaraan dalam Islam (ukhuwah Islamiah). Bahwa, semua umat Islam, apapun latar belakang suku dan kelompok semuanya sama dan pada hakikatnya bersaudara.

Kedua, prinsip saling menolong dan melindungi. Penduduk Madinah yang terdiri dari beragam suku, etnis, dan agama, harus saling membantu menghadapi lawan.

Ketiga, prinsip melindungi yang teraniaya tanpa memandang agama, suku dan lainnya.

Keempat, prinsip saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

Kelima, prinsip kebebasan dalam beragama.

ABB mungkin telah menyadari, bahwa Nabi tidak memakai al Qur’an sebagai Undang-undang negara. Tapi memakai piagam Madinah untuk mengatur mekanisme hubungan antar umat beragama, dan mekanisme hubungan antar pemeluk agama.

Pancasila dan piagam Madinah bagaikan pinang dibelah dua. Pancasila mengajarkan bagaimana berbuat baik tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Tentang semangat nasionalisme dan egalitarianisme. Pancasila sebagai ideologi bangsa merespon dengan baik semangat kesatuan dan persatuan.

ABB mungkin juga telah membaca “Piagam Deklarasi Hubungan Pancasila dan Agama Islam” hasil muktamar NU tahun 1983 di Situbondo. Ia menyadari, waktu itu dihadiri oleh perwakilan ulama se Indonesia. Dan, mereka semua menerima Pancasila sebagai ideologi negara. Dalam hati ABB, mungkin, terbersit perkataan, “mereka yang hadir waktu itu adalah para ulama yang keilmuan tentang agama Islam begitu sempurna, apalah diriku dibandingkan dengan mereka”?

Semoga kesadaran seperti ini yang membuat ABB mendadak Pancasila. Dan, kita berdoa semoga kesadaran tersebut menghinggap di lubuk hati paling dalam kelompok radikal yang lain.

This post was last modified on 31 Agustus 2022 2:19 PM

Nurfati Maulida: