Membaca Glorifikasi dan Narasi Terdzalimi dari Penolakan UAS di Singapura

Membaca Glorifikasi dan Narasi Terdzalimi dari Penolakan UAS di Singapura

- in Suara Kita
280
0
Membaca Glorifikasi dan Narasi Terdzalimi dari Penolakan UAS di Singapura

Kabar penolakan Ustad Abdul Somad (UAS) oleh pemerintah Negara Singapura terus menjadi perhatian publik Indonesia. Sebagian di antaranya merasa marah dan tak terima Somad diusir secara tidak terhormat dari Singapura. Sebagian lagi merasa tidak kaget Somad diusir dari Singapura karena merasa isi dakwah yang dilontarkan Somad banyak mengandung unsur intoleran.

Ditegaskan sebelumnya tujuan Somad ke Singapura bukan untuk berdakwah melainkan untuk liburan, tetap saja pemerintah Singapura melarang Somad untuk masuk kenegara tersebut karena dianggap tidak memenuhi kriteria dan tidak memenuhi syarat untuk berkunjung ke Singapura. Persoalan ini sejatinya persoalan biasa dihadapi para pelancong. Tidak perlu didramatisir apalagi diglorifikasi.

Persoalan ini muncul ketika ada upaya glorifikasi bernuansa terdzalimi sebagaimana lazimnya terjadi. Akhirnya narasi yang muncul dari upaya glorifikasi itu adalah berdampak pada persoalan kerjasama, narasi islamophobia, Singapura tidak menghormati umat Islam Indonesia atau bahkan ajakan Somad sendiri untuk tidak belanja di Singapura. Glorifikasi Somad ke Singapura pada akhirnya melahirkan isu yang tidak produktif.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Singapura pun mengungkapkan, salah satu alasan penolakan dilakukan adalah terkait konten ceramah UAS. Kemendagri Singapura pun menyebut Somad sebagai penceramah ekstremis dan segregasionis, di mana ajaran-ajaran tersebut tidak diterima di Singapura dengan masyarakat yang multirasial dan agama. Singapura juga menjelaskan terdapat tiga alasan mengapa Somad ditolak di singapura.

Ternyata keputusan Singapura untuk mengusir UAS dari Negara karena alasan Radikalisme bukanlah pertama kalinya. Sebelum singapura, ternyata UAS juga sudah banyak di tolak di Negara-negara lainnya. Pada 2017, Pemerintah Hong Kong juga menolak kedatangan Ustaz Abdul Somad di negaranya.

Kala itu pemerintah Hong Kong sedang gencar-gencarnya mengawasi kegiatan komunitas asing yang ada di negaranya. Kepala Kantor IOM (International Organization for Migration) Hong Kong sempat menuturkan bahwa penolahan Hongkong terhadap Somad salah satunya adalah untuk memastikan tidak ada radikalisme masuk di Hong Kong.

Ditahun 2018 Timor Leste juga pernah menolak UAS. Saat itu, dia hendak mengisi acara tabligh akbar. Kala itu, acara Somad disana sudah disusun dengan Pak Xanana Gusmao (mantan Presiden Timor Leste) dengan uskup. Namun pihak imigran saat itu menerima informasi secara mendadak bahwa Somad masuk dalam jaringan terorisme, karena itulah meski ia mengisi acara bersama mantan Presiden, Somad tetap tidak diperkenankan masuk ke wilayan Timor Leste.

Dari keterangan ini sebenarnya bisa kita lihat bagaimana Negara-negara mengamankan negerinya dari isu perpecahan, intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Mereka secara tegas mengusir seseorang yang dianggap memiliki paham dan kemampuan untuk memecah belah bangsanya.

Penjelasan dari Singapura terkait ditolaknya Somad sekaligus jadi sindiran tajam buat pemerintah Indonesia. Mungkin Singapura juga merasa gregetan, kenapa penceramah yang bermasalah malah dibiarkan begitu saja di sini padahal jelas Somad bukan cuma ditolak di Singapura tapi juga di beberapa Negara lainnya. Negara lain menganggap Somad sebagai biang masalah dan tak layak masuk kenegaranya, namun anehnya di Indonesia justru penceramah modelan Somad justru di kasi panggung.

Sampai hari ini, masih banyak pihak yang merasa tidak terima Somad di perlakukan buruk oleh banyak Negara, namun perlu kita ingat. Bertamu juga memiliki adab, kita harus meminta ijin kepada pemilik rumah untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun jika tidak di ijinkan masuk, itu merupakan hak si pemilik rumah.

Mendatangi negara lain layaknya bertamu. Jika pemilik rumah tidak menghendaki karena alasan keamanan apa hak yang kita tuntut? Apakah berarti kita terdzalimi? Tentu justru menjadi intropeksi kenapa diri kita tidak diterima jangan hanya memainkan glorifikasi seolah terdzalimi.

Facebook Comments