Membangkitkan 3 Mentalitas Kejayaan Nusantara

Membangkitkan 3 Mentalitas Kejayaan Nusantara

- in Suara Kita
266
0

Kita memiliki sejarah peradaban yang sangat begitu gemilang. Kita tidak boleh menghilangkan itu. Karena, sejarah kejayaan Nusantara adalah spirit besar bagi kita hari ini. Maka sangat logis, jika Ibu Kota Negara IKN yang Baru ini, diberi nama Nusantara. Dengan harapan besar, agar bangsa ini bisa jaya layaknya Nusantara di masa lalu dengan kunci spirit persatuan dalam segala hal.

Sebagaimana, ada 3 mentalitas yang menjadi spirit besar kejayaan Nusantara yang harus kita pahami. Misalnya yang pertama, Masyarakat Nusantara yang condong (terbuka). Sebagaimana kita tahu, kunci kejayaan Nusantara itu, tidak terlepas dari apa yang disebut dengan keterbukaan sosial.

Hal itu sangat dipengaruhi oleh (keterhubungan sosial) antar masyarakat Dunia lewat jalur perdagangan. Hal ini bisa menghubungkan Nusantara dengan Dunia. Bahkan, secara fungsional, keterbukaan itu tidak hanya berperan dalam konteks perdagangan semata.

Maka, di sinilah terjadinya (interaksi sosial yang harmonis). Di mana, Nusantara menjadi pusat pertukaran tradisi, pengetahuan dan budaya. Terkumpulnya orang dengan latar-belakang agama/ keyakinan yang berbeda-beda. Mereka tidak lagi saling menegasi atau saling membenci. Tetapi, mereka membangun interaksi sosial yang damai dan saling berhubungan, termasuk dalam konteks perdagangan itulah yang membuat Nusantara menjadi pusat peradaban yang mapan di kala itu.

Hal ini menandakan bahwa, kejayaan Nusantara sejatinya tidak terlepas dari apa yang disebut dengan (keterbukaan sosial) tadi. Artinya, kita saat ini sebetulnya harus bisa membuka ruang sosial yang tidak saling membeda-bedakan. Kita bisa saling menerima satu-sama-lain sebagai bagian dari masyarakat Nusantara. Sebagaimana yang kita harus jalani, yaitu kehidupan sosial yang tidak eksklusif dan condong tertutup. Karena, hal ini justru akan membuat kita semakin retak dan mengalami disentegritas yang akan berujung kepada kehancuran.

Kedua, kejayaan Nusantara tidak terlepas dari prinsip sosial yang (kosmopolitan). Hal itu ditandai dengan hadirnya orang-orang dari Persia, Gujrat, Arab, India, Tiongkok dan Bengali. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Tome Pires. Bahwa, di abad ke-16 itu, Nusantara terbangun tatanan sosial yang tidak membeda-bedakan. Semua dianggap sama dan saling membangun hubungan sosial yang baik secara etika-moral.

Jadi, kejayaan Nusantara di masa lalu sebetulnya tidak terlepas dari prinsip sosial yang tidak membeda-bedakan manusia secara ras, agama atau-pun budaya. Mereka diperlakukan sama. Artinya, mereka yang dari Islam, Kristen, Hindu, Buddha, itu tidak ada semacam “pelabelan” identitas tertentu. Semua dianggap sama dan saling berhubungan satu sama lain tanpa saling mereduksi atau saling berpecah-belah.

Ketiga, Nusantara yang condong (plural). Sebagaimana yang kita lihat dalam relasi sosial yang begitu terbuka dan condong kosmopolitan. Hal itu menandakan adanya semacam interaksi sosial-budaya, agama dan tradisi yang beragam satu-sama lain. Mereka membangun sirkulasi sosial yang bisa saling menghargai.

Karena memang, interaksi sosial antar umat beragama atau dengan mereka yang berbeda budaya sejatinya begitu solid. Hal ini sebagai satu bukti penting dalam catatan sejarah. Bahwa nilai-nilai pluralitas masyarakat Nusantara di masa lalu, sejatinya menjadi satu faktor terpenting dari kejayaan Nusantara itu.

Oleh karena itulah, mengapa 3 spirit kejayaan Nusantara yang saya sebutkan di atas sebagai modal penting. Untuk kembali membangkitkan kejayaan Nusantara yang mengacu ke dalam tiga hal tersebut. Sebagaimana dalam konteks, hadirnya Ibu Kota Negara Baru (New IKN) yang diberi nama Nusantara. Dengan harapan besar untuk kembali membangkitkan kejayaan Nusantara di masa lalu. Agar bisa memperkuat sendi-sendi kebangsaan yang begitu terbuka, kosmopolitan dan begitu plural.

Facebook Comments