Membangun Indonesia Damai di Ruang Maya dan Nyata

Membangun Indonesia Damai di Ruang Maya dan Nyata

- in Suara Kita
1147
1
Membangun Indonesia Damai di Ruang Maya dan Nyata

Sejatinya dalam kehidupan yang dibutuhkan manusia adalah kedaamaian. Berbicara kedamaian bukan hanya manusia saja yang butuh tetapi semua mahluk hidup. Maka untuk mewujudkan kedamaian perlu kerjasama semua pihak terkait, terutama manusia yang menjadi Pemimpin (Khalifah) mahluk di bumi. Sebagai pemimpin mahluk di bumi manusia harus bisa menciptakan dan mempertahankan kedamaian untuk mengayomi manusia khususnya.

Kedamaian berasal dari kata damai, damai atau peace secara etimologis ditemukan sekitar abab 12 dari bahasa Inggris abad pertengahan yaitu pees, yang diambil dari bahasa anglo-perancis pes dimana kata pes sendiri diambil dari bahasa latin yaitu pax yang bearti persetujuan, diam atau damai dan keselarasan.

Sedangkan pengertian peace atau kedamaian secara terminologis (istilah) adalah tidak adanya peperangan atau konflik kekerasan, sedangkan arti perang adalah konflik kekerasan secara langsung. Jadi perang terjadi ketika tidak bisa dicapainya penyelesaian konflik melalui metode tanpa kekerasan, sehingga memaksa pihak-pihak yang terlibat perselisihan tadi untuk melakukan aksi kekerasan sebagai satu-satunya cara, dari sini bisa diperhatikan bahwa konflik sendiri terbagi menjadi dua, yaitu konflik tanpa kekerasan dan konflik dengan menggunakan kekerasan atau perang (Graham Evans and Jeffrey Newnham, 1998).

Berbicara soal kedamaian ada informasi menarik yang dikeluarkan oleh situs resmi Vision Of Humanity, Rabu (19/6/2019) mereka mengeluarkan penilaian tahunan Global Peace Index (GPI) yang mengukur posisi relatif kedamaian negara dan kawasan. Ada sejumlah negara yang dianggap paling aman dan damai. Misalnya, 15 negara paling aman dan damai di dunia dan posisi Indonesia versi data GPI: 1. Islandia, 2. Selandia Baru, 3. Portugal, 4. Austria, 5.Denmark, 6. Kanada, 7. Singapura, 8. Slovania, 9. Jepang, 10. Republik Ceko, 11. Swiss, 12. Irlandia, 13. Australia, 14. Finlandia, 15. Bhutan, sedangkan Indonesia di urutan 41.

Dari penilaian GPI Indonesia masuk ke daftar dari total 163 negara yang dinilai. Ternyata, Indonesia naik peringkat yang sebelumnya pada tahun 2018 menduduki posisi 55, kini naik ke posisi peringkat 41. Indonesia perlu belajar lagi pada dua tetangganya yaitu Singapura dan Australia yang masuk peringkat 15 versi GPI. Apa yang perlu dipelajari? Ada 3 aspek penilaian yang jadi acuan utama GPI yang perlu dipelajari. Ketiga aspek yakni konflik domestik dan internasional yang sedang dialami negara tersebut, keamanan sosial serta faktor militer.

Baca juga : Smart Netizen: Merajut Jejaring Perdamaian di Dunia Maya

Di era kemajuan teknologi informasi yang pesat kedamaian perlu dibangun di dunia maya dan nyata. Kemajuan itu dibarengi dengan arus media sosial (medsos) yang trend digunakan netizen. Netizen dengan smaetphone-nya rata-rata memiliki akun medsos terutamanya whatsapp, facebook, instagram dan twitter. Penggunaan medsos yang tidak dibarengi pengontrolan dan pembatasan tentunya akan melanggar aturan yang berdampak terhadap stabilitas keamanan sosial.

Berbagai macam bentuk konflik dan kekerasan yang ditimbulkan medsos menjadi stimulan untuk menerapkan metode-metode baru konsep perdamaian agar bisa menjawab tantangan yang ada. Salah satu konsep dasar dan konvensional yang ditawarkan adalah konsep negative peace, negative peace lebih menekankan pada aspek meniadakan perang saja (David P. Barash, 2000). Masih menurut David P. Barash, bentuk lain dari metode perdamain selain negative peace adalah positif peace. Karakter epistemologi dari positive peace adalah kedekatan multi-disiplin dan memiliki nilai-nilai moral. Metode-metode ini bisa diterapkan dalam mengatasi kekerasan dan perpecahan yang ditimbulkan oleh medsos.

Medsos saat ini banyak digunakan untuk menyebar hoax dan ujaran kebencian oleh pelaku yang sengaja mencari keuntungan. Padahal Polri (Polisi Republik Indonesia) dan Kominfo (Kementerian Informasi dan Komunikasi) selama ini selalu menggalakkan patroli siber terkait maraknya hoax atau berita bohong dan ujaran kebencian. Siapa saja yang terbukti menyebar hoax dan ujaran kebencian, bisa dijerat pidana tanpa pandang bulu. Sebagai masyarakat pengguna medsos juga aktif melaporkan jika menemui konten-konten negatif ke pihak yang berwajib, menginggat tanpa kerjasama tidak mungkin patroli siber di medsos bisa dijangkau semua.

Belajarlah menjadi penguna smartphone yang bijak. Para warganet harus cerdas mengidentifikasi mana berita hoaks dan konten kekerasan. Mulai dari hati-hati dengan judul provokatif, mencermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto dan ikut serta grup diskusi anti-hoaks dan kekerasan. Semoga para netizen yang smart tidak salah ketik dan share di medsos.

Facebook Comments