Membantah Doktrin Al Wala’ wal Bara’ Jihadis ; Bukan Mengokohkan Keimanan, Justru Terjebak Kedzaliman

Membantah Doktrin Al Wala’ wal Bara’ Jihadis ; Bukan Mengokohkan Keimanan, Justru Terjebak Kedzaliman

- in Narasi
402
1
Membantah Doktrin Al Wala' wal Bara' Jihadis ; Bukan Mengokohkan Keimanan, Justru Terjebak Kedzaliman

Secara etimologi, al Wala’ berarti kesetiaan. Sedangkan al Bara’ artinya terlepas atau bebas. Kelompok jihadis yang mempopulerkan istilah tersebut. Bahkan, mereka menjadikan doktrin al Wala’ wal Bara’ sebagai syarat keimanan.

Kaum jihadis adalah mereka yang beragama secara ekstrem (ghuluw). Memahami jihad hanya bermakna “perang”. Menganggap non muslim sebagai musuh yang harus diperangi, baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Bahkan, muslim sekalipun kalau tidak sama dengan madhab tafsir keagamaan mereka juga harus dilenyapkan karena dianggap musyrik dan kafir.

Dalam pandang kelompok jihadis mukmin tidak boleh Wala’ (loyal) terhadap orang kafir, mukmin wajib Bara’ (lepas, bebas) dari kekafiran mereka.

Konsep ini pertama kali dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah dan kemudian diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Menurut Ibnu Taimiyah al Wala’ wal Bara’ adalah syarat sah keimanan. Konsekuensinya, mukmin yang memiliki sikap al Wala’ terhadap non muslim otomatis keimanannya tidak sah.

Pemaknaan lebih ekstrem dilakukan oleh pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yaitu kelompok Wahabi atau Salafi Wahabi. Mereka mendoktrin jamaahnya untuk al Bara’ kepada orang yang berbeda pendapat meski dalam persoalan khilafiyah.

Sebagai argumen, diantaranya adalah surat al Muntahanah ayat 4. Namun bisa dilihat, cara pembacaan mereka sangat tekstual. Struktur pemahaman yang hurufiah itu berakibat pada pemahaman al Wala’ wal Bara’ sampai pada batas ekstrem (ghuluw). Alih-alih memperkuat tauhid, justru terjebak pada larangan agama.

Disamping ayat al Qur’an, mereka mendalilkan juga kepada hadits, “Ikatan iman paling kokoh adalah setia karena Allah, memusuhi karena Allah, demikian pula mencintai dan membenci karena Allah”.

Padahal, hadits riwayat al Baghawi di atas tidak spesifik berbicara dan memiliki keterkaitan khusus dengan konsep al Wala’ wal Bara’. Terbukti dalam literatur-literatur ulama salaf tidak ada yang membicarakannya.

Lima Hal yang Harus Diperhatikan terkait al Wala’ wal Bara’

Apakah konsep al Wala’ wal Bara’ kontradiktif dengan ajaran Islam? Tidak. Selama dipahami secara syamil dan komprehensif dan dengan penalaran intelektual yang jujur, al Wala’ wal Bara’ tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Tetapi, konsep itu bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan ajaran Islam manakala dipahami dengan ego kebencian dan tafsir yang didorong oleh hawa nafsu. Misalnya, beranggapan bahwa orang kafir adalah musuh yang harus diperangi secara mutlak sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena fakta sejarah Nabi di Madinah justru hidup bersama secara damai dengan non muslim.

Karenanya, al Wala’ wal Bara’ tidak boleh dipahami secara dangkal dan beku, karena ia memiliki batasan-batasan yang yang tidak boleh dilampaui.

Pertama, umat Islam tidak boleh memusuhi orang kafir karena tetap memeluk agama mereka semula. Memusuhi, membenci atau memerangi orang kafir dengan alasan mereka tetap patuh terhadap agama nenek moyangnya tidak diperbolehkan oleh aturan Islam. Kecuali kalau mereka menampakkan permusuhan dengan umat Islam atau bermaksud mengusir kaum muslimin dari negara atau tempat tinggalnya.

Kedua, tidak boleh berlebih-lebihan dalam praktiknya,  karena ghuluw (ekstrem) dalam konteks al Wala’wal Bara’ merupakan kesalahan.

Ghuluw atau berlebih-lebihan dalam al Wala’ wal Bara’ sangat dilarang karena akan berakibat pada pemahaman yang ekstrem. Ghuluw dilarang karena terjadi akibat lemah dan dangkal dalam memahami agama. Sehingga gagal memahami ajaran agama sesuai perspektif syariat Islam yang benar.

Ketiga, tetap belas kasih dan bersikap lemah lembut terhadap kafir dzimmi (orang-orang kafir yang bersedia hidup damai berdampingan dengan umat Islam). Mereka tidak boleh disakiti, boleh hidup di negara yang dikuasai umat Islam dan tidak boleh memaksa mereka untuk memeluk Islam. Relasi muslim-non muslim telah diatur oleh syariat Islam seperti praktik Nabi sewaktu memimpin Madinah.

Keempat, walaupun demikian, umat Islam tidak boleh menyebrang dengan membenarkan akidah dan kekufuran mereka. Tiga poin sebelumnya, hanya sebatas relasi sosial yang sifatnya duniawi. Artinya, umat Islam hanya menghormati, hidup damai berdampingan, tidak memaksakan agama dan keyakinan. Tidak lebih hanya itu.

Al Wala’ wal Bara’ dalam Konteks Keindonesiaan

Harus dipahami, al Wala’ wal Bara’ bukanlah perintah yang menegasikan perdamaian, kerukunan, persaudaraan dan saling menghormati antar umat beragama. Memahami al Wala’ wal Bara’ harus paralel dengan ayat al Qur’an yang tegas mengatakan “Tidak ada paksaan dalam (urusan) agama”.

Agenda-agenda al Qur’an tentang persatuan, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan begitu jelas. Maka, kalau al Wala’ wal Bara’ kemudian menegasikan hal tersebut berarti menyalahi aturan syariat Islam.

Kesimpulannya, al Wala’ wal Bara’ benar adanya sebagai bagian syariat Islam untuk mengokohkan keimanan. Tapi, ia juga tidak menegasikan nilai kemanusiaan yang juga dihormati oleh Islam.

Al Wala’ wal Bara’ menemukan relevansinya dalam situasi seperti saat invasi tentara Tar-tar yang meluluhlantakkan daerah kekuasaan umat Islam. Sangat mungkin Ibnu Taimiyah memfatwakan al Wala’ wal Bara’ untuk situasi seperti itu. Bukan dalam situasi damai seperti saat ini. Dengan demikian, telah terjadi kesalahan komunikasi intelektual antara Ibnu Taimiyah dan pengikutnya hari ini.

Facebook Comments