Membebaskan Indonesia dari Jeratan Para Penunggang Agama

Membebaskan Indonesia dari Jeratan Para Penunggang Agama

- in Suara Kita
1194
1
Membebaskan Indonesia dari Jeratan Para Penunggang Agama

Indonesia yang majemuk, sebetulnya telah memiliki karakteristik keagamaan yang egalitarian. Mampu menyokong kemajemukan itu berada dalam prinsip hidup yang (harmonis dan saling menghargai). Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Indonesia berada dalam titik krusial. Semenjak dihadapkan dengan virus “Para penunggang agama”. Mereka mulai menjembatani adanya konflik, aksi intoleransi dan perpecahan yang mengatasnamakan agama.

Dari kenyataan yang demikian, membuat Indonesia semakin mengalami krisis identitas keagamaan yang condong (terbuka, penuh toleran dan egalitarian). Karena, para penunggang agama membawa basis keagamaan yang sentiment, penuh kebencian dan membawa klaim eksklusif untuk menghapus keragaman.

Jadi, secara tidak langsung. Para penunggang agama ini sedang ingin menghancurkan rumah kita NKRI yang terdiri dari kemajemukan yang penuh harmonis dan tolerant. Maka, dari sinilah kita memiliki tugas besar. Untuk membebaskan Indonesia dari jeratan para penunggang agama itu.

Karena, identitas agama yang hidup di Indonesia itu mengikat dalam wadah (toleransi) dan meniscayakan pola hidup (bersama) meskipun berbeda. Karena, Indonesia tidak lain adalah manifestasi dari jalan beragama yang condong anti-perpecahan dan anti-permusuhan. Sebab, karakteristik agama di Indonesia itu condong mengilhami secara kebenaran-Nya yang membawa kasih sayang dan penuh dengan maslahat.

Pemuda Bergerak Membebaskan Indonesia dari Jeratan Para Penunggang Agama

Tentu kita butuh pemuda Indonesia yang jiwanya pemberani. Sebagaimana dulu, pemuda Indonesia membangun sumpah pemuda untuk berjuang membela bangsa Indonesia agar merdeka. Maka, saat ini pula, Indonesia dengan mengoptimalkan peran pemuda untuk membebaskan Indonesia dari jeratan para penunggang agama.

Sebagaimana, pemuda dengan kreativitas, kemampuan dan keahlian yang beragam. Tentu, ini dapat dijadikan jalan secara revolutif. Untuk membebaskan Indonesia dari para penunggang agama di berbagai aspek ranah dan aspek. Baik di dunia maya untuk menyuarakan anti para penunggang agama. Sebagaimana karakteristiknya, di dunia maya para penunggang agama selalu membawa narasi keagamaan yang memecah-belah atau condong mengajak untuk pesimis di dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Karena, para penunggang agama itu condong membawa isu agama untuk dijadikan umpan umat Indonesia agar berpecah-belah. Atau-bahkan dijadikan alat untuk bertindak anarkis dan intolerant. Karena, para penunggang agama ini selalu membawa sentiment keagamaan yang sejatinya akan merusak kehidupan umat beragama yang harmonis dan damai itu.

Maka dari situlah, sebagai pemuda Indonesia, perlu membebaskan Indonesia dari jeratan para penunggang agama itu sendiri. Artinya, kita merebut ciri khas keagamaan yang mulai dihilangkan oleh para penunggang agama. Yaitu, ciri khas keagamaan yang condong harmonis, tolerant dan damai. Karena, para penunggang agama itu selalu membawa isu agama untuk merusak tatanan yang harmonis, penuh tolerant dan penuh kedamaian.

Jadi, konteks perjuangan pemuda Indonesia saat ini adalah membebaskan atau memerdekakan Indonesia dari jeratan para penunggang agama. Sebab, para penunggang agama selalu ingin menghancurkan Indonesia dari dalam. Dalam arti pemahaman, mereka ingin memporak-porandakan Indonesia dengan cara, memecah-belah masyarakat beragama. Mereka membawa sentiment keagamaan sebagai jalan untuk meracuni masyarakat Indonesia.            

Oleh sebab itulah, menjadi penting bagi pemuda untuk membebaskan Indonesia dari jeratan para penunggang agama itu. Tumpahkan tekad untuk bersumpah membebaskan Indonesia dari jeratan para penunggang agama. Lalu, menghidupkan kembali karakteristik keagamaan ala Indonesia yang penuh dengan kedamaian, harmonis dan saling menghargai. Karena, Indonesia yang majemuk itu, telah bersepakat sejak dulu untuk hidup bersama di tengah perbedaan karena memiliki satu tujuan yaitu untuk NKRI.

Facebook Comments