Membedah Arus Kebencian terhadap Syiah di Indonesia

Membedah Arus Kebencian terhadap Syiah di Indonesia

- in Narasi
145
0
Membedah Arus Kebencian terhadap Syiah di Indonesia

Baru-baru ini Walikota Bandung meresmikan gedung Dakwah ANNAS atau Alliansi Nasional Anti Syiah yang menimbulkan kontroversi. Langkah Walikota ini memantik banyak kritikan termasuk dari Stafsus menteri Agama dan sejumlah pegiat demokrasi lainnya seperti Setara dan AMAN yang dianggap bagian afirmasi mendukung kelompok intoleran .

Kritik terhadap langkah Sang Wali Kota ini cukup beralasan mengingat ormas tersebut dianggap sudah dilarang oleh Pemerintah dan MUI sendiri telah menetapkan bahwa Syiah adalah bagian dari Islam. Mengakomodir dan mengafirmasi keberadaan kelompok yang secara eksplisit menyatakan ‘anti” terhadap aliran tertentu jelas akan mempengaruhi kerukunan antar umat beragama di tanah air, apalagi Syiah merupakan salah satu komunitas di Indonesia yang juga memiliki banyak pengikut.

Saya secara pribadi tidak ingin mengomentari lebih panjang tentang langkah Sang Wali Kota. Entah, ada pertimbangan politik elektoral atau politik ideologis, hanya Sang Wali Kota yang memahami. Namun, sepintas ANNAS sepertinya komunitas yang sangat eksklusif apalagi menamakan dirinya sebagai “anti Syiah” sehingga menempatkan Syiah seakan-akan bukan bagian dari umat Islam

Jika ditelusuri dan dipahami secara baik dan lebih dalam sebenarnya baik Syiah maupun mereka yang terlibat dalam ANNAS keduanya adalah sesama muslim hanya berbeda dalam beberapa hal yang terkait pandangan keagamaan itupun hanya masalah-masalah furu atau bukan yang esensial dalam agama. Menurut saya menggunakan kata ‘anti’ terlalu provokatif karena mengekspresikan ketidaksukaan atau bahkan menegasikan kelompok lain yang juga mempunyai hak sosial yang sama sebagai warga negara.

Karena itulah, Pemerintah menganggap bahwa keberadaan Annas atau kelompok lain yang jelas menegasikan hak kelompok lain dipandang bisa memicu masalah antara sesama umat. Terbukti beberapa kali komunitas ini protes terhadap keberadaan Syiah di Indonesia dan menimbulkan resistensi bahkan kebencian masyarakat terhadap eksistensi Syiah.

Saya melihat bahwa mereka yang tergabung dalam komunitas ANNAS bisa dipastikan berasal dari kelompok yang anti terhadap perbedaan manhaj dan madzhab dalam Islam. Tidak jarang pula, komunitas inilah yang selama ini sering kali menuduh orang lain Syiah meskipun orang itu bukan Syiah, hanya karena tidak sepaham dengan pandangan mereka. Mereka rajin melakukan labelling Syiah terhadap tokoh tertentu yang mengemukakan pandangan keagamaan yang lebih komprehensif dan terbuka yang berbeda dengan corak pemikiran intoleran dan diskriminatif.

Eksistensi dan Sebaran Syiah di Dunia

Jika kita memahami secara mendalam, pandangan keagamaan dalam Islam secara garis besar terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu Sunni dan Syiah. Kedua kelompok ini merupakan perwakilan dari kelompok-kelompok kecil dalam Islam. Sunni misalnya memiliki kelompok tersendiri yang juga belum tentu sepaham antara satu dengan yang lain apakah itu masalah teologis, ubudiyah, dan muamalah. Anggaplah misalnya kelompok Salafi, sebuah istilah yang disematkan kepada mereka yang sangat konservatif yang sesungguhnya juga bagian dari Sunni, tetapi memiliki perbedaan pandangan dalam beberapa hal keagamaan meskipun hanya terbatas pada masalah furu’,  bukan hal yang esensial.

Begitu juga dengan Syiah yang terbagi ke dalam beberapa kelompok. Sebagaimana Sunni, di Syiah ada kelompok yang moderat, konservatif dan dan ada pula yang ekstrem. Inilah yang selalu disalahpahami dengan menganggap Syiah sebagai kelompok tunggal yang tidak memiliki banyak sekte.

Jika kita membangi sebaran populasi umat Islam berdasarkan afiliasi mazhab  di dunia yang jumlah mencapai lebih dari 1 milyar, secara garis besar  dapat dibagi ke dalam 6 kategori yaitu; muslim sunni bermazhab Hanafi sebanyak 35%, muslim sunni bermazhab Syafii sebanyak 25% , muslim sunni bermazhab Maliki sebanyak 15%, muslim sunni bermazhab Hanbali sebanyak 4 %,  Salafi sebanyak 1% dan muslim Syiah sebanyak 20%.

Dari total 20% penganut Syiah, mereka tersebar di hampir semua negara-negara muslim terutama di negara-negara Timur Tengah seperti; Irak yang jumlah penganut Syiah sebanyak 65%, Libanon, 45%,  Yaman, 45 % , Bahrain 75%, Kuwait 35 % Turkey 25% ,  Suriah 15-20%,  Uni Emirat Arab, 20% , Saudi Arabia 15% , Pakistan 20-25%, Afghanistan 20%  dan negara-negara Arab lainnya  seperti Mesir, Sudan, Marokko, Tunisia paling tidak memiliki penganut syiah mulai 0.1 % sampai 5 % dari total penduduknya yang muslim. Iran tentu yang paling banyak karena penganut Syiahnya mencapai 95% dan Azerbeijan  mencapai 85% penduduknya adalah syiah. Di Timur Tengah ada satu negara yang namanya  Kesultanan Oman  memiliki aliran tersendiri yang disebut dengan Ibadhiyah dan hanya ada di negara itu dan mereka semuanya adalah muslim.

Kalau kita misalnya melihat sebaran setiap mazhab di negara-negara muslim terutama Syiah yang mewakili 20% dari total penduduk muslim di dunia ,  Indonesia ini masih sangat kecil karena ada data yang mengatakan hanya sekitar 600 ribu tetapi ada juga yang mengatakan bahwa sudah ada lebih dari satu juta orang Indonesia yang bermazdhab syiah dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Terlepas dari semua itu bahwa Syiah adalah bagian dari saudara kita umat Islam karena bukan saja di negara-negara muslim lainnya tetapi juga di Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia dan sebagai umat Islam sejatinya kita dituntut untuk menjaga keharmonisan dalam beragama, menghindari permusuhan antara sesama warga negara, apalagi sesama  umat Islam. Indonesia adalah negeri kita dan semua warga negara memiliki hak yang sama dalam menjalankan keyakinan mereka masing-masing. Negara memberikan perlindungan selama tidak mengganggu stabilitas keamanan nasional dan mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

Kebencian dan sikap Anti terhadap Syiah menjadi cukup problematik dalam dua hal. Pertama, dalam pandangan keagamaan Syiah adalah bagian dari saudara umat Islam yang juga tidak tunggal layaknya aliran sunni. Kebencian terbangun karena ada anggapan sesat yang menggenaralisir satu kasus untuk pengertian secara umum. Kedua, secara konstitusi, pengikut ini adalah bagian dari saudara kebangsaan yang mempunyai hak yang sama sebagaimana aliran sunni dan umat beragama lainnya. Tentu bukan sikap arif untuk selalu membangun rasa benci terhadap saudara seagama dan setanah air hanya karena beda pandangan.

Facebook Comments