Membendung Gelombang Terorisme Bertopeng Agama

Membendung Gelombang Terorisme Bertopeng Agama

- in Suara Kita
1328
0
Membendung Gelombang Terorisme Bertopeng Agama

Rentetan penangkapan teroris yang bersembunyi di balik topeng agama membuktikan bahwa gelombang terorisme masihlah ada. Bahkan mereka seolah semakin lihai memanfaatkan topeng agamanya untuk melancarkan gerakan terorismenya. Teranyar, publik dibuat terkejut atas diringkusnya oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 tiga terduga teroris yakni Farid Okbah, Zain an-Najah dan Anung al-Hamat pada Selasa (16/11) lalu. Padahal, ketiganya selama ini dikenal sebagai tokoh agama dan menjabat di sejumlah lembaga. Farid Okbah adalah Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia; Zain an-Najah adalah anggota Komisi Fatwa MUI Pusat; dan Anung al-Hamat merupakan dosen di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Mereka diduga memiliki peran vital dalam Jamaah Islamiyah (JI).

Padahal tidak lama sebelumnya Densus 88 Antiteror telah menangkap pelaku kasus terorisme pada Jumat (5/11/2021) di Kota Metro, Lampung Selatan, dan Lampung Timur. Setelah sebelumnya juga tiga orang telah diringkus. Para pelaku tersebut juga merupakan anggota kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Yang lebih mengejutkan lagi adalah mereka menggunakan modus kotak amal guna melancarkan aksinya. Uang yang terkumpul dari ratusan kotak amal tersebut kemudian digunakan untuk pendanaan gerakan teror termasuk pengkaderan. Mereka mencatut sebagai pengurus Lembaga Amil Zakat Baitul Maal (kompas.com, 5/11/2021).

Modus terorisme bertopeng agama sebagaimana dilakukan oleh JI tersebut tentu patut dikenali untuk kemudian segera ditangani. Berkaca pada pengalaman sejarah bangsa kita yakin bahwa benteng yang tangguh untuk membendung terorisme berkedok agama seperti halnya JI adalah dengan Pancasila. Ampuhnya kesaktian Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia dalam menghadapi semua ancaman dari serangan ideologi anti-NKRI seperti JI, NII, dan HTI sudah menjadi bukti tak terbantahkan. Sejak lahirnya Indonesia, telah berulang kali ideologi anti-NKRI tersebut dan pada akhirnya dengan kekuatan Pancasila kita menjadi kebal dan mampu menghalau ideologi radikal.

Telah kita ketahui bersama dan sejarah telah mencatat bahwa ideologi sepert JI adalah organisasi militan tingkat Asia Tenggara yang ditengarai memiliki misi besar mendirikan negara Islam raksasa. Ideologi ini dikenal sebagai ideologi radikal yang tidak mengakui Pancasila, UUD 1945, dan ingin sekali mengubah NKRI menjadi bagian dari negara Islam raksasa di kawasan Asia Tenggara. Maka, tak heran jika banyak gerakannya yang berorientasi makar. Merespon problem kebangsaan tersebut kita yakin bahwa Pancasila adalah senjata ampuh menghalau semua ideologi anti-NKRI seperti halnya JI.

Pancasila yang telah kita akui sebagai ideologi bangsa Indonesia itu pada hakikatnya merupakan suatu jalan pikiran dan dasar falsafah hidup bangsa Indonesia. Landasan falsafah tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan dan perkembangan bangsa Indonesia sejak dahulu kala. Nilai-nilai yang tercakup dalam Pancasila merupakan kepribadian bangsa Indonesia sejak dahulu dan terus berkembang sesuai dengan dinamika bangsa Indonesia.

Meskipun demikian, nilai-nilai tersebut tetap dan tidak akan meninggalkan hakikat inti kemurniannya, yaitu manusia dan bangsa Indonesia yang dikodratkan lahir dan hidup di bumi serta alam Indonesia. Nilai-nilai tersebut merupakan suatu dasar dan perkembangan hidup yang mengendalikan bangsa Indonesia di tengah hiruk pikuk kehidupan bangsa-bangsa di dunia ini.

Dengan Pancasila, berbagai pergolakan dan gerakan JI tentu akan dapat digagalkan. Pancasila merupakan kekuatan yang luar biasa, ideologi yang dapat menyatukan bangsa ini untuk bersatu menghalau berbagai gempuran ideologi anti-NKRI. Dari dulu hingga kini, Pancasila selalu relevan sebagai solusi universal problem kebangsaan. Kekuatan Pancasila yang dahsyat mampu menghancurkan kekuatan ideologi seperti JI. Spirit perjuangan ini tentu yang harus kita teruskan untuk menghadapi lika liku perjuangan negara Indonesia.

Kita harus bersyukur, Pancasila adalah anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk bangsa Indonesia. Pancasila adalah identitas bangsa yang istimewa di mana negara-negara lain tidak memiliki keistimewaan tersebut. Di samping itu, Pancasila diyakini bisa memberikan persoalan-persoalan bangsa baik bersifat lokal, nasional, maupun internasional. Untuk itu, tugas bangsa Indonesia saat ini adalah mengamalkan nilai-nilai Pancasila, termasuk dalam menghalau berbagai ideologi yang mengancam keutuhan NKRI, seperti JI.

Untuk mewujudkan hal itu, sebagaimana disebutkan oleh Fathurrosi (2018) kita harus senantiasa menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, sistem filsafat, dan Pancasila sebagai sumber nilai. Pancasila telah diterima sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Hal ini membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai Pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi penyelenggaraan negara Indonesia.

Pancasila berisi lima nilai dasar yang fundamental. Nilai-nilai dasar dari Pancasila tersebut adalah nilai ketuhanan Yang Maha Esa, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, nilai persatuan Indonesia, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tugas kita sebagai bangsa Indonesia adalah menjaga dan mengamalkannya.

Facebook Comments