Membongkar Ekosistem Terorisme; Menjawab Tudingan “Rezim Islamophobia”

Membongkar Ekosistem Terorisme; Menjawab Tudingan “Rezim Islamophobia”

- in Suara Kita
1298
0
Membongkar Ekosistem Terorisme; Menjawab Tudingan “Rezim Islamophobia”

Densus 88 Antiteror Polri membekuk tiga terduga teroris yakni Farid Okbah, Zain an Najah dan Anung al Hamat pada Selasa (16/11) lalu. Ketiganya merupakan tokoh agama yang berafiliasi denga sejumlah lembaga. Farid Okbah, merupakan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia. Zain an Najah meruopakan anggota Komisi Fatwa MUI Pusat. Sedangkan Anung al Hamat tercatat sebagai dosen di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Mereka diketahui memiliki peran strategis dalam Jamaah Islamiyyah (JI).

Peristiwa ini membuktikan untuk ke sekian kalinya bahwa fenomena oknum ulama berada dalam pusaran terorisme itu bukan isapan jempol belaka. Meski demikian, masih saja ada pihak yang mempolitisasi peristiwa ini dengan menggaungkan isu bahwa pemerintah mengidap Islamophobia.

Tudingan rezim Islamophobia kepada pemerintah dilayangkan oleh simpatisan terorisme. Mereka ialah pemandu sorak gerakan radikalisme-terorisme. Ketika teroris beraksi, mereka serempak mengglorifikasinya sebagai tindakan jihad. Namun, ketika aparat gencar menangkap teroris, mereka menuduh pemerintah sebagai rezim islamophobia.

Menjawab Tudingan Islamophobia

Tudingan rezim Islamophobia itu tidak berdasar sama sekali. Hal ini bisa dibuktikan dengan setidaknya tiga hal. Pertama, pemerintah tidak pernah melarang ekspresi keimanan dan kesalehan beragama. Umat Islam sampai saat ini masih bebas beribadah, mengekspresikan keislaman di ruang publik tanpa intimidasi dari pemerintah.

Kedua, pemerintah tidak pernah membatasi peran organisasi keislaman. Bahkan, sebaliknya pemerintah menganggap ormas Islam sebagai mitra membangun bangsa dan menjaga harmoni bangsa. Terbukti, banyak tokoh ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah dilibatkan langsung dalam pemerintahan dan menduduki jabatan strategis. Bahkan, Wakil Presiden RI, KH. Ma’ruf Amin merupakan tokoh NU dan petinggi MUI.

Ketiga, pemerintah selalu mengakomodasi kepentingan umat Islam melalui regulasi, peraturan, undang-undang maupun kebijakan. Indonesia memang bukan negara Islam. Namun, dalam struktur kenegaraan Indonesia, Islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Ajaran Islam mewarnai nyaris seluruh sisi kehidupan kenegaraan dan kebangsaan masyarakat Indonesia.

Membongkar Ekosistem Terorisme

Dilihat dari tiga hal diatas, tudingan rezim Islamopobhia merupakan hal yang irasional dan absurd. Ihwal penangkapan sejumlah tokoh agama karena terlibat jaringan terorisme itu semata merupakan persoalan hukum dan tidak ada kaitannya dengan sentimen keagamaan tertentu. Sama halnya ketika Polisi atau KPK menangkap koruptor beragama Islam, apakah bisa dikatakan bahwa Polisi atau KPK bersikap anti-Islam? Tentu saja tidak!

Ulama terlibat terorisme sebenarnya bukan fenomena baru di negeri ini. Ketika isu terorisme pertama kali mencuat di Indonesia, fakta sejumlah ulama terlibat dalam jaringan teroris memang sudah terungkap. Para ulama memang tidak terlibat sebagai pelaku lapangan, namun mereka memiliki peran strategis dalam melakukan indoktrinasi, pengkaderan, sampai perekrutan anggota teroris. Hal inilah yang kerap luput dari perhatian publik.

Dalam kasus penangkapan Farid Okbah dan kawan-kawan misalnya, Polri mengendus peran mereka dalam pendanaan terorisme. Penangkapan ketiganya disebut masih ada kaitannya dengan aksi Densus 88 menyita ratusan kotak amal masjid yang diketahui merupakan sumber pendanaan JI. Di titik inilah kita perlu membangun kesadaran publik bahwa terorisme bukan semata fenomena kekerasan yang bisa kita identifikasi dengan mudah hanya dari permukaannya saja. Di balik aksi teroris itu ada struktur jaringan organisasi yang rapi.

Pakar kajian terorisme Sidney Jones menjelaskan bahwa gerakan terorisme ialah sebuah ekosistem yang terdiri atas setidaknya tiga kluster jaringan. Pertama, jaringan pelaku di lapangan, yakni para bomber yang bersedia mati demi melakukan aksi teror. Kluster kedua, ialah kelompok propagandis di media sosial yang siap menyokong aksi terorisme dengan opini yang cenderung glorifikatif. Kluster ketiga ialah para pendoktrin, perekrut sekaligus perencana aksi teror yang kerap tidak mencolok di muka publik, namun justru memiliki peran yang sangat signifikan.

Kluster ketiga ini, menurut Jones umumnya memang memiliki pengetahuan agama yang mumpuni dan dikenal cakap dalam beretorika. Dengan kecakapannya itulah mereka mendoktrin, mengkader, dan merekrut calon-calon teroris. Tidak hanya itu, kluster ketiga ini juga memiliki kemampuan untuk menggalang dana yang dialokasikan untuk mendanai aksi terorisme.

Memberangus terorisme, dengan demikian tidak bisa hanya dilakukan dengan menangkap pelaku di lapangan. Namun, lebih penting dari itu ialah membongkar ekosistem terorisme, mulai dari proses indoktrinasi, rekrutmen sekaligus pendanaan teroris. Kerja-kerja inilah yang sekarang tengah diupayakan secara serius oleh pemerintah, dalam hal ini Kepolisian melalui Densus 88. Penangkapan Farid Okbah, Zain an Najah, dan Anung al Hamat idealnya dipahami sebagai bagian dari upaya pemerintah membongkar ekosistem terorisme.

Facebook Comments