Membudayakan Gotong Royong, Membendung Ancaman Radikalisme

Membudayakan Gotong Royong, Membendung Ancaman Radikalisme

- in Suara Kita
320
1
Membudayakan Gotong Royong, Membendung Ancaman Radikalisme

Al-haq bila nizhamin, yaglibuhu al-bathil binizhamin;

Kebenaran yang tidak terorganisi, bisa dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisr

(Ali bin Abi Talib)

Ungkapan ini tepat dalam menggambarkan fenomena radikalisme saat ini. Radikalisme sebagai refresentasi dari kebatilan bisa mengalahkan kedamaian sebagai perwujudan dari kebenaran. Adalah sebuah fakta, bahwa orang-orang radikal itu sejatinya hanya segelintir orang, tetapi mereka terorganisir. Sebaliknya, pihak yang mendambakan perdamaian berada dalam jumlah yang banyak, tetapi tidak bisa berjamaah.

Gemerlap kamajuan informasi dan teknologi ditambah penetrasi dari media sosial membuat manusia bisa mencukupi dirinya sendiri. Apa-apa yang diinginkannya tinggal klik, sudah tersedia di depan mata. Efek paling nyata adalah pudarnya budaya gotong royong di tengah-tengah masyarakat. Budaya gotong royong adalah sendi dari kehidupan dalam mewujudkan kenyamanan dan kedamaian.

Di lain pihak, tumbuhnya keegoisan di tengah mayarakat ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk membuat terror dan menciptakan dis-harmoni. Keegoisan ini bisa dilihat dari adanya anggapan bahwa tugas memberantas dan mencegah terorisme  hanya tugas BNPT saja. Atau ada sikap yang masih bersimpati terhadap mereka yang didakwa sebagai terorisme.

Jiwa Gotong Royong

Dalam kondisi seperti ini, menangkal terorisme tidak bisa dilakukan kalau tidak dilakukan bersama-sama. Menangkal virus radikalisme membutuhkan kerja kolektif dengan jiwa berjamaah. Gerakan gotong-royong bisa dilakukan dengan cara berikut:

Pertama, memaksimalkan peran tokoh adat dan tokoh agama. Pelibatan tokoh masyarakat dan tokoh agama di tingkat lokal bisa mencegah – setidaknya memiminalisir – virus dan akses-akses radikalisme. Selama ini, kerja-kerja pencegahan lebih banyak bersifat sentralistik, dengan tak-tik dan prosedur yang ketat. Di tingkat lokal, peran tokoh adat dan tokoh agama ternyata sangat fungsional.

Baca juga : Mendongengkan Budaya Anti-Radikalisme

Peran strategis tokoh adat dan agama ini bisa dilihat dari semboyan adat bersandi syara, di mana keduanya adalah ibarat dua sisi koin mata uang, tak bisa dipisahkan. Masalah-masalah yang dihadapai masyarakat –kalau tidak mangatakan seluruhnya –terlebih dahulu diselesaikan dengan kerja-kerja kekeluargaan yang bersifat lokal nan arif, sebelum masuk ke institusi formal. Peran strategis ini, bisa dimaksimalkan untuk mengampanyekan nilai-nilai kedamaian, harmoni dan toleransi.

Kedua, memaksimlkan fungsi lembaga-lembaga masyarakat, menghidupkan ritual yang bersifat lokal merupakan hal yang sangat ampuh dalam melawan radikalisme. Lembaga masyarakat baik berbentuk artefak seperti rumah adat, ruang-ruang kumpul, maupun bersifat non-fisik, seperti ikatan kesukuan, marga, dan sistem kekeluargaan memiliki fungsi dalam menangkal radikalisme.

Ikatan marga umpanya yang ada di suku Batak, Sumatera Utara sangat strategis dalam meminimalisir komfilik. Bagi sistem kesukuan, marga itu adalah ikatan saudara. Jika marga A berjumpa dengan marga B umpanya, C dengan D mereka sudah menganggap itu adalah saudara kandung. Bahkan bagi sebagian orang, ikatan marga jauh lebih tinggi dari pada ikatan agama. Kita boleh beda agama, asal kita satu marga, kita adalah saudara.  Akibatnya konflik dan perselisihan bisa di-manage.

Hal yang sama juga terjadi di pulau Jawa. Adanya tradisi ziarah kubur ke makam-makam yang dianggap suci, ternyata bisa meminimalisir konflik-konflik yang ada di masyarakat. Perbedaan-perbedaan yang beragam, setelah masuk dalam lingkungan makam suci untuk ziarah itu bisa membaur dan melebur antar sesama.

Sejauh ini, peran strategis kearifan lokal sudah banyak diekpos media. Tradisi saling membersihkan tempat rumah ibadah di salah satu daerah di Maluku misalnya; ketika Idulfitri, kaum Kristen yang membersihkan mesjid, sebaliknya, ketika tiba Natalan, giliran kaum muslim yang membersihkan. Dialog, saling sapa dan saling asah itu perlu dimaksimalakn untuk menumpas virus radikalisme.

Facebook Comments