Membumikan Islam Damai Dan Toleran

Membumikan Islam Damai Dan Toleran

- in Suara Kita
194
1
Membumikan Islam Damai Dan Toleran

Tidak ada agama yang menganjurkan untuk bermusuhan. Semua agama pasti mengajarkan dan mencintai perdamaian. Pertanyaannya, “Mengapa masih saja terjadi konflik yang muncul antar umat beragama?”. Banyak faktor yang menyebabkan konflik antar umat beragama terjadi. Salah satu yang paling menonjol adalah kurangnya sikap toleran kepada umat beragama lain.

Dalam agama Islam sendiri diajarkan bahwa bagiku agamaku, bagimu agamamu. Nabi Muhammad sendiri mencontohkan hal yang indah tentang betapa hebatnya toleransi. Ketika itu, nabi diberi tawaran oleh ajakan kaum musyrikin suku Quraisy untuk saling bertukar keyakinan. Ditambah lagi, nabi ditawari akan menjadi raja asal dakwahnya berhenti. Tapi nabi menjawab seandainya bulan di tangan kananku, matahari di tangan kiriku, nabi tak akan pernah berhenti mendakwahkan islam. Sehingga turunlah Surat Al-Kaafirun (1-6).

Surat ini adalah pernyataan tegas toleransi umat islam. Islam memberi kebebasan agama lain untuk menjalankan keyakinannya, begitu pula kaum quraisy di masa itu juga memberikan kebebasan pada nabi. Prinsip di dalam toleransi yang diajarkan dalam surat Al kaafirun begitu jelas, selain kebebasan, juga ada penghormatan akan keyakinan yang dipilih oleh orang lain.

Islam tumbuh dan membuat orang lain terpukau bahkan membuat umat lain simpatik karena kesejukannya, keindahannya, karena misinya yang rahmatan lil ngalamiin. Dan kita tahu, rohmat bagi semesta adalah misi yang panjang. Ia adalah kesatuan tekad dan pembuktian dalam laku.

 Islam di Indonesia diterima dengan jalan seperti itu pula. Dibawa kaum pedagang, yang notabene bisa dilihat dari cara dia berdagang dan kehidupan kesehariannya. Kejujuran, keteladanan, sikap kearifan itulah yang membuat orang kemudian menjadi simpatik dan tertarik kepada islam di kala itu. Dan kita tahu, para pedagang itu tidak langsung menyampaikan surat al-ikhlas terlebih dahulu, tapi dalam laku amaliahnya sehari-hari, mereka menunjukkan misi islam.

Baca Juga : Dakwah dan Otoritas Keagamaan di Era Media Sosial

Apa yang dilakukan oleh KH. Hasyim Ashari maupun KH Ahmad Dahlan di masa lampau pun demikian halnya. Mereka berdakwah dengan menampilkan wajah islam melalui perilaku. Buktinya, kedua tokoh ini ikut serta berperan dan berjuang melawan penjajah. Melawan kemungkaran, melawan ketidakadilan, melawan kedhaliman, melawan kebodohan. Dakwah islam mereka diwujudkan dengan melawan musuh bersama, musuh bangsa ini.

Apa musuh bangsa ini?, selain karena dijajah dalam waktu yang panjang, musuh bangsa ini adalah kebodohan dan kemiskinan. Dua hal itu dilawan oleh NU dan Muhammadiyah. NU berdakwah di jalur agama, pondok pesantren dan akar rumput. Sementara Muhammadiyah berdakwah di bidang pendidikan dan sosial.

Teologi Al-Maun yang digagas oleh KH Ahmad Dahlan di kala itu cukup membuat orang bersimpatik dan berbondong-bondong memuji Muhammadiyah. Sampai sekarang, dakwah di bidang pendidikan dan sosial selalu didengungkan Muhammadiyah dalam rangka membumikan islam sebagai rahmatan lil alamiin. Muhammadiyah dan NU teramat jarang sekali bersinggungan atau memiliki masalah yang berhubungan dengan keyakinan umat agama lain.

Hal ini bukan berarti dalam dakwahnya mereka tidak menggagas  hubungan antara muslim dan non muslim, tapi mereka sudah purna dan mengatur hubungan etik antara umat islam dan non muslim dalam tata kelembagaannya. Sehingga, ketika ada isu tentang keyakinan umat agama lain yang mencuat, Muhammadiyah dan NU cenderung menyikapi dengan tangan terbuka dan lebih dewasa.

Kiprah Muhammadiyah dan NU dalam menjaga NKRI tentu tidak bisa dianggap remeh. Sudah berpuluh tahun, kedua lembaga ini memperjuangkan Pancasila dan UUD 45 sebagai yang final dalam urusan kebangsaan dan keumatan. Karena itulah, kepentingan bangsa dan negara yang selalu menjadi perhatian utama. Di sisi lain, kedua lembaga ini juga intens melakukan dialog antar agama baik pemimpin maupun di kalangan akar rumput. Sehingga kedua organisasi ini bisa lebih dewasa dan saling bertoleransi ketika menyikapi perbedaan pandangan.

Ada fenomena menarik saat umat muslim Indonesia menghadapi konflik yang berhubungan dengan perbedaan keyakinan. Fenomena ini mencuat pasca terjadinya kasus Ahok yang kemudian memunculkan gerakan 212 kala itu. Kita tahu, hubungan antar kelompok agama menjadi begitu tegang dan cukup keras. Dinding-dinding media sosial pun penuh dengan bersitegang antara membela Ahok atau memberi hukuman padanya.

Setelah kejadian itu, wacana penistaan agama menjadi isu yang cukup sensitif. Bagaimana NU dan Muhammadiyah menyikapi fenomena Ahok?, Pertama kita melihat bahwa ada keadilan masyarakat yang diciderai akibat tindakan Ahok. Kedua, sama-sama menghimbau agar keyakinan semua agama dihormati dan dijunjung tinggi oleh konstitusi. Prinsip inilah yang menjadi pegangan atau pedoman dalam toleransi antar umat beragama.

Yang perlu kita cermati dalam fenomena Ahok selain perkara keyakinan agama lain adalah bagaimana teknologi sudah seperti mata-mata. Saat ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa ceramah saya di gereja A, saya pengajiannya di kolong jembatan B, dan lain sebagainya. Teknologi selalu hadir untuk merekam tindakan atau ceramah kita. Meskipun ceramah, atau dakwah dilakukan di tempat tertutup sekalipun. Hal ini bisa menjadi berkah sekaligus peringatan. Bahwa setiap ucapan kita, setiap tindakan atau tingkah laku kita kadang tidak selalu berterima dengan publik.

Kali ini, muncul kasus berbeda. Ustadz Abdul Somad (UAS) dilaporkan ke Polda NTT atas dugaan kasus penistaan agama. Ceramah Ustadz Abdul Somad dinilai menyinggung umat agama lain. Setelah beberapa waktu viral, Ustadz Abdul Somad pun memberikan klarifikasi soal ceramahnya.

Ketika kita menyimak video ceramah UAS, ada perasaan kecewa. Mengapa seorang juru dakwah bisa sedemikian cerobohnya saat menyampaikan ceramah. Kita bisa menyimak petilan percakapaan yang terjadi antara penanya dengan UAS. Apa sebabnya Ustadz, kalau saya menengok salib, menggigil hati saya?. Setan jawab Ustadz. Ada jawaban yang tidak sinkron antara melihat salib dengan langsung dihakimi sebagai setan. Karena itulah wajar bila umat agama lain pun menjadi tersinggung.

Ini tentu berbeda saat Cak Nun bercanda dengan Romo Mangun Wijaya. Yang saling tertawa saat membincangkan Salib. Dakwah islam bukanlah dakwah yang didengungkan dengan saling menghina atau saling mengejek keyakinan lain. Islam mengajarkan toleransi, islam mennghormati keyakinan pemeluk agama lain, seperti pemeluk agama lain yang menghormati islam pula. Itulah mengapa dasar keyakinan kebangsaan kita bukanlah islam. Karena pendiri bangsa sudah memahami, berfikir jauh kedepan, bahwa toleransi menjadi fondasi para pendiri bangsa dalam membangun negeri ini.

Menyikapi klarifikasi UAS yang disampaikan melalui video ceramahnya, saya kira UAS perlu meminta maaf terhadap apa yang sudah disampaikannya dalam ceramah. Karena secara tidak langsung telah menyinggung keyakinan umat agama lain. Dan tuduhan penistaan agama itu wajar, karena ada sebagian umat non muslim yang tersinggung. Sebab salib sendiri merupakan simbol agama Kristen maupun Katolik. Begitu pula saat umat islam marah, saat umat lain menggambar kartun nabi, atau menginjak asma Alloh, atau membakar Al-qur’an.

Fenomena UAS mestinya menjadi pelajaran kita bersama, bahwa toleransi pada antar umat beragama lain mesti harus terus dipupuk. Sebab agama tak pernah mengajarkan untuk saling benci maupun saling menghina. Justru yang perlu dibangun ditengah kondisi bangsa saat ini adalah sikap saling menghargai, saling memberikan rasa teduh dan aman.

Islam yang bergerak dari laku bijak dan bajik para pemuka agamanya dan pendakwahnya. Islam yang menjaga rumah kebangsaan kita, bukan islam yang selalu mencari titik lemah keyakinan agama lain. Dengan begitu, rumah kebangsaan yang dibangun bersusah payah oleh para pendiri bangsa ini tidak dirusak oleh konflik, maupun masalah perbedaan keyakinan yang tak kunjung usai.

Facebook Comments