Membumikan Nilai Kepahlawanan di Tengah Ancaman Ideologi Transnasional

Membumikan Nilai Kepahlawanan di Tengah Ancaman Ideologi Transnasional

- in Suara Kita
1097
0
Membumikan Nilai Kepahlawanan di Tengah Ancaman Ideologi Transnasional

Hanya bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya akan menjadi bangsa yang besar. Ungkapan itu disampaikan oleh Bapak Proklamasi Indonesia, yakni Bung Karno. Ungkapan Bung Besar itu menandai betapa pentingnya kita senantiasa mengingat jasa para pahlawan. Peringatan Hari Pahlawan saban tanggal 10 Oktober ialah satu dari sekian ikhtiar untuk merawat memori kolektif publik ihwal pentingnya jasa dan pengorbanan para pahlawan. Tidak hanya itu, peringatan Hari Pahlawan juga menjadi momentum bersama untuk meneladani inspirasi dan spirit kepahlawanan. 

Tujuh dekade sejak Indonesia lepas dari cengkeraman penjajah, kita menghadapi tantangan yang kian tidak ringan dan semakin kompleks. Salah satu tantangan kebangsaan terberat itu ialah penetrasi ideologi transnasional yang berkarakter anti-pluralitas dan anti-kebinekaan. Infiltrasi ideologi transnasional ini tidak pelak telah melahirkan fenomena keterputusan sejarah, utamanya di kalangan generasi muda.

Perlahan namun pasti, kelompok pengusung ideologi transnasional berusaha mendekonstruksi sejarah bangsa. Mereka berusaha menulis ulang sejarah bangsa dengan tujuan mendistorsi dan menyelewengkannya. Misalnya seperti perilisan film Jejak Khilafah di Nusantara (Jilid 1 dan 2) yang di dalamnya berisi penyelewesejarah akut. Fenomena yang demikian ini tidak lain merupakan bagian dari skenario besar melemahkan karakter bangsa dari dalam. Ketika sebuah bangsa sudah lupa atau abai pada sejarahnya sendiri dan tidak lagi menaruh hormat pada pahlawannya, maka bangsa itu sejatinya tengah menuju ke senjakalanya.

Di tengah ancaman penetrasi ideologi transnasional itulah kita wajib membumikan nilai-nilai kepahlawanan. Inspirasi kepahlawanan idealnya tidak dibiarkan melangit, melainkan di-breakdown ke dalam sikap dan laku keseharian kita dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan beragama. Di masa lalu, para pahlawan menunjukkan rasa cinta tanah air dan sikap rela berkorban demi bangsa dalam tindakan nyata. Bukan hanya dalam bentuk slogan dan jargon semata. Tugas generasi penerus bangsa sekarang ini ialah menerjemahkan ulang laku nasionalis dan patriotis agar relevan dengan tantangan kebangsaan, yakni penetrasi idoelogi transnasional.

Sayangnya memang harus diakui bahwa nilai-nilai kepahlawanan seperti nasionalisme, patriotisme, herorisme dan sejenisnya mulai luntur di tengah masyarakat. Beragam survei dan jajak pendapat mengonfirmasi asumsi tersebut. Misalnya, survei yang dilakukan oleh Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) pada tahun 2016 lalu mengungkap fakta bahwa sebanyak 50 persen responden menyebut bahwa nilai-nilai kepahlawanan telah luntur di kalangan pejabat publik, intelektual, hingga masyarakat umum.

Menerjemahkan Ulang Nasionalisme, Patriotisme dan Heroisme

Maka dari itu, momentum Hari Pahlawan idealnya menjadi titik balik untuk membangun awareness alias kepedulian ihwal pentingnya membumikan nilai kepahlawanan, utamanya nasionalisme, patriotisme dan heroisme. Intinya, Hari Pahlawan harus menjadi momentum untuk membumikan nilai kepahlawanan guna menangkal ideologi radikal transnasional. Di titik inilah pentingnya kita menerjemahkan ulang makna nasionalisme, patriotisme, dan heroism.

Di era globalisasi yang diwarnai oleh fenomena transnasionalisasi ideologi ini, komitmen kebangsaan atau nasionalisme kiranya tidak hanya diwujudkan ke dalam sikap cinta tanah air. Namun juga perilaku menjaga ideologi dan falsafah bangsa, yakni Pancasila agar tetap tegak meski diterpa badai ideologi asing, utamanya ideologi radikal keagamaan.

Pancasila sebagai falsafah bangsa merupakan benteng negara dari bahaya laten ekstremisme berbaju agama. Spirit kebangsaan, dengan demikian, harus berpadu dengan komitmen menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya ideologi dan falsafah bangsa. Dengan begitu, ideologi transnasional akan dengan sendirinya tereliminasi dari wilayah NKRI.

Begitu pula, patriotisme kiranya tidak sekadar dipahami sebagai kerelaan berkorban demi bangsa dan negara. Melainkan juga sikap aktif dan responsif dalam menangkis segala manuver kaum radikal pengusung ideologi transnasional. Penyebaran ideologi radikal transnasional belakangan ini tidak hanya dilakukan secara konvensional, namun lebih banyak dilakukan melalui teknologi digital.

Di era ketika radikalisme mewabah di dunia digital, sikap patriotisme hendaknya diwujudkan ke dalam sikap siaga dan waspada dalam menangkal setiap berita palsu (hoax), ujaran kebencian dan narasi provokatif yang berpotensi memecah belah dan menimbulan instabilitas sosial-politik. patriotisme di era digital idealnya mewujud ke dalam kesadaran ihwal pentingnya literasi berinternet dan bermedia sosial.

Terakhir, prinsip heroisme di era penyebaran ideologi transnasional ini idealnya mewujud pada sikap selflessness yakni perilaku tidak memetingkan diri sendiri. Ancaman ideologi transnasional hanya bisa ditangggulangi dengan persatuan dan kebersamaan. Masing-masing pihak, baik itu institusi pemerintah maupun organisasi masyarakat harus bahu-membahu, mengesampingkan ego sektoral untuk membentengi NKRI dari ideologi transnasional.

Masing-masing entitas harus menyadari bahwa musuh kita bukanlah entitas atau kelompok yang berbeda. Melainkan kekuatan ideologis asing yang berusaha memecah belah dan menghancurkan bangsa dari dalam. Heroisme yang mewujud pada sikap persatuan dan kebersamaan ini harus menjadi ruh bagi kehidupan bernegara, berbangsa, dan beragama.

Facebook Comments