Membumikan Teologi Kurban

Membumikan Teologi Kurban

- in Suara Kita
121
1
Membumikan Teologi Kurban

Sebentar lagi, Umat Islam akan merayakan hari raya Idhul Adha  1440 H yang jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019. Karena itu, sudah seharusnya umat Islam mampu merefleksikan secara kritis- filosofis dan komprehensif tentang makna kurban. Sehingga ibadah kurban yang dilakukan umat Islam mempunyai nilai yang berarti (meaningfull) dalam dirinya.

Secara historis, Ibadah kurban ini dilakukan ketika Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang diturunkan dari Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail. Perintah itu berarti ujian bagi Nabi Ibrahim untuk merelakan putranya demi mencapai ketaqwaan dan  ridha dari Allah SWT. Dan pada akhirnya, penyembelihan anaknya itu diganti oleh Allah dengan seekor kambing.

Ibadah kurban sangat dianjurkan oleh umat Islam. Dalam surat Al- Kautsar ayat 2 telah dijelaskan “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah“. Ayat diatas menjelaskan kepada seluruh pemeluk agama Islam, terutama bagi mereka yang secara finansial mempunyai kelebihan harta dan kekayaan, untuk membeli hewan ternak, agar dikurbankan sebagai bentuk keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Memang benar, tujuan dari ritual penyembelihan hewan kurban adalah sebagai perwujudan untuk memberikan kasih sayang terhadap kemanusiaan, dengan cara membagi-bagikan daging-kurban kepada fakir miskin dan kaum mustadafyin. Akan tetapi, pertanyaan secara filosofis apakah selama ini umat Islam yang berkurban tiap tahun sekali dengan jumlah yang sangat banyak, sudah benar-benar memaknai secara esensial ritual ibadah kurban itu sendiri ? Hal ini sangat penting untuk menciptakan kesadaran beragama  umat Islam dalam melaksanakan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan sosial dengan masyarakat.

Teologi Kurban  

Secara teologis, kurban sendiri memiliki tujuan bagi umat Islam agar mereka mampu mengikuti jejak jejak ajaran tauhid dari Nabi Ibrahim melalui perjalanan hidupnya untuk melepaskan kepentingan dan kesenangan pribadinya,  yang disuruh oleh Allah SW, untuk mengurbankan putranya Ismail. Mungkin dalam rasionalitas manusia modern, sungguh tidak mungkin, orang tua melakukan penyembelihan kepada anaknya. Tapi, Bagi Nabi Ibrahim perintah itu adalah sebuah bentuk ketaatan dan kepasrahan secara menyeluruh kepada Allah SWT.

Baca Juga : Filisofi Kurban

Ada beberapa faktor teologi untuk membumikan makna idhul kurban. Pertama, ibadah kurban jangan ditafsirkan secara sepihak hanya sebatas formalitas untuk mengurbankan dalam bentuk material atau finansial belaka melalui penyembilah hewan kurban. Akan tetapi, yang lebih signifikant bagi umat Islam harus bisa memahami  bahwa hewan kurban hanyalah sebuah simbolis ritual kurban saja.

M. Amin Abdullah dalam karyanya “Falsafah Kalam di Era Postmodernisme” (2004). Sesungguhnya Ibadah kurban memiliki makna yang mendalam, yaitu mengajak umat manusia kembali kepada ajaran tauhid (monoteist), yang berdimensi pada keberpihakan secara sosial –kemasyarakatan. Manyatukan dimensi tauhid yang bersifat transendental fungsional dan dimensi kepedulian sosial yang bersifat historis-empiris dalam satu keutuhan pandangan hidup mencerminkan sikap hidup keberagamaan Islam yang autentik dan tulus, untuk mematuhi perintah Allah SWT.  

Kedua, sesungguhnya esensi kurban adalah ketaqwaan dan keimanan secara penuh atas perintah Allah SWT. Karena itu, apa-apa yang diperintahkah Allah lakukan  secara penuh pengabdian dan pergorbanan serta berikanlah kepada  Allah yang terbaik. Sebab apa, Allah SWT tidak pernah membutuhkan apa-apa dari kekayaan, kekuasaan dan jabatan yang dimiliki oleh umat Islam. Melainkan, Allah hanya ingin menguji kesucian diri umat Islam dalam menjalankan ibadah kurban untuk memenuhi perintah dan ajarannya..

Hal itu telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, surat al-Hajj, ayat 37 yang berbunyi “Daging-daging (onta, sapi, kerbau, kambinh) dan darahnya itu tidak sekali-kali dapat mencapai (keridhaan) Allah, Akan tetapi, ketaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya”.  Sehingga bukan  daging dari kurban itu yang sampai kepada Allah. Tapi, ketaqwaan dalam arti yang sangat luas yang akan dinilai Allah SWT.

Ketiga, ibadah kurban sebagai sebuah simbol suci ini sesungguhnya mempunyai muatan secara teologis, bahwa pada dasarnya kurban merupakan salah satu mediator saja untuk melakukan taqarrub dan tabayyun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Keempat, dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, Dengan begitu, segala bentuk nafsu dan egoisme umat Islam yang saat ini sedang merasuki manusia dengan mencari kekayaan dan harta benda yang sebanyak-banyaknya di dunia,  agar bisa dikikis dengan simbol penyembilhan kurban dan memberikan daging hewan kurban kepada kaum fakir miskin. Dengan demikian, ritual ibadah kurban adalah salah satu bentuk cara untuk mentauhidkan kembali nilai-nilai ketuhanan.

Dengan demikian, penguatan terhadap ajaran-ajaran tauhid kepada umat Islam sangat diperlukan saat ini untuk menghindari segala bentuk kekerasan dan radilkalisme dan perbuatan yang menghalalkan segala. Berdasarkan asumsi itulah, ibadah kurban merupakan langkah paling efektif untuk kembali mengingatkan kepada umat umat agar selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Karena itu, meniatkan diri untuk kembali menambah nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan umat Islam, menjadi faktor paling utama bagi umat Islam yang menjalankan ritual ibadah kurban agar nilai-nilai ibadahnya dapat di terima oleh Allah SWT. Selain itu, makna yang terpenting dari memperingati hari raya Idhul Adha adalah bagaimana umat Islam dapat kembali mempertauhidkan kembali ajaran Islam, ke dalam bentuk kehidupan sosial dengan selalu mengasihi dan menyayangi hambanya yang terkena musibah kelaparan dan kemiskinan. Semoga

Facebook Comments