Membumikan Toleransi dengan Meneguhkan Pancasila di Dunia Maya

Membumikan Toleransi dengan Meneguhkan Pancasila di Dunia Maya

- in Suara Kita
189
3
Membumikan Toleransi dengan Meneguhkan Pancasila di Dunia Maya

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap musim, dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpaan-perumpaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tegak sedikit pun.” (Q.S. Ibrahim: 24-26)

Pancasila, akhir-akhir ini semakin tidak lagi dibicarakan masyarakat. Padahal, pancasila inilah dasar hidup berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan para pendiri bangsa. Termasuk di dunia maya, manusia hanya menuruti keinginan dan kepentingan pribadinya tanpa peduli dengan etika hidup berbangsa. Makanya, ujaran kebencian dan narasi radikal menyebar luas tanpa dasar  sedikitpun. Orang berekspresi semakin kehilangan nalar, mementingkan nafsu pribadinya yang membara.

Di sini, pertama-tema yang mesti dikuatkan kembali adalah sisi mentalitas manusia yang bersumber dari ketuhanan. Dalam QS Ibrahim ayat 24-26 di atas, mereka yang akarnya kuat akan menghasilkan buah yang melimpah. Tapi mereka yang akarnya tercerabut, maka mudah goyah dan mudah dimakan isu hoax.

Menurut Ibnu Abbas RA, bahwa “kalimat yang baik (Kalimat Thayyibah) yang dimaksud di dalam ayat diatas adalah kalimat syahadat Asyahadu allaa ilaaha illallah. Akarnya berada di hati orang-orang beriman dan cabangnya menjulang ke langit, sehingga amalan seorang mukmin itu sampai ke langit. Dan maksud ‘kalimat yang buruk’ adalah syirik. Dengan syirik, tidak ada suatu amalan pun yang akan diterima. Di dalam riwayat lain, Ibnu Abbas ra berkata, “Kata-Kata ‘memberikan buahnya setiap musim’ maksudnya adalah mengingat Allah setiap siang dan malam.” Hadis ini menyatakan dengan jelas bahwa kalimat ‘Laailaahaillallah’ adalah zikir yang paling utama. Banyak kitab hadis yang menerangkan hal ini, karena inti dan asas agama adalah kalimat Thayyibah. Maka, tidak ada yang perlu diragukan lagi mengenai keutamaannya.

Dari akar yang kuat inilah kita membangun toleransi dalam berbangsa dan bernegara. Karena akar yang kuat dalam keimanan akan melahirkan perbuatan yang penuh kasih sayang dan saling mendamaikan. Sementara akar yang tercerabut, orangnya mudah goyah dan terseret arus gelombang yang merusak dan menyesatkan.

Baca juga : Moderasi Dan Toleransi : Tantangan Etika Virtual Di Era Pasca-Kebenaran

Toleransi dibangun dengan dasar keyakinan tiap individu. Yakni keyakinan yangmenancap kuat, sehingga buahnya menghadirkan kasih sayang dan perdamaian. Dari sini, pengarusutamaan moderasi dan toleransi harus kembali kepada dasar dan akar hidup manusia itu sendiri. Makanya, tidak salah kemudian kalau para pendiri bangsa ini menempatkan sila Ketuhanan sebagai sila pertama dalam Pancasila. Dalam konteks ini, Yudi Latif (2017) menjelaskan bahwa Ketuhanan dalam kerangka pancasila mencerminkan komitmen etis bangsa Indonesia yang menyelenggarakan kehidupan publik-politik yang berlandaskan nilai-nilai moralitas dan  budi pekerti yang luhur.

Menurut penjelasan tentang Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa salah satu dari empat pokok pikiran yang terkandung dalam “pembukaan UUD” ialah “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab”. Berdasarkan pokok pikiran ini, UUD “harus mengandung isi yang mewajibkan pemerintah dan lain-lain penyelenggara Negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur”. Dan Ketuhanan dalam kerangka pancasila merupakan usaha pencarian titik temu dalam semangat gotong-royong untuk menyediakan landasan moral yang kuat bagi kehidupan politik berdasarkan moral ketuhanan.

Sila Ketuhanan ini menjadi nilai dalam mengaplikasikan sila-sila berikutnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kemudian dalam konteks dunia maya yang menjadi “medan bebas” tanpa tuan, Pancasila harus kembali ditegakkan kepada semua anak bangsa. Sudah saatnya melakukan gerakan masif dalam membumikan pancasila di dunia maya, sehingga  lahir toleransi dan kedamaian antar sesama.

Pertama, pemerintah harus terus menerus mengampanyekan pancasila di media sosial melalui semua jaringan pemerintah yang ada. Semua organ pemerintah harus berinovasi di dunia maya, sehingga semua elemen pemerintah dari paling atas sampai paling bawah bisa terus mengimplementasikan pancasila. Jaringan pemerintah jangan sampai tersusupi gerakan radikal, karena sangat membahayakan masa depan bangsa dan negara.

Kedua, organisasi kepemudaan harus digerakkan dalam literasi media dan literasi digital. Anak muda sebagai pelaku utama dalam dunia maya harus dijadikan sebagai aktor utama dalam gerakan pengarusutamaan moderasi dan toleransi. Jaringan anak muda ini bisa yang sudah dibina oleh pemerintah, bisa jaringan ormas seperti NU dan Muhammadiyah, juga jaringan anak muda dari berbagai tempat ibadah yang tersebar luas di Nusantara.

Ketiga, memanfaatkan jaringan perempuan dalam kampanye toleransi dan perdamaian. Banyak kasus perempuan yang terlecehkan di dunia maya. Bahkan tidak sedikit perempuan yang masih sangat awam dengan literasi dunia maya. Untuk itu, jaringan perempuan harus disolidkan dalam kampanye ini, sehingga bisa menyasar jaringan perempuan sampai ke pelosok desa.

Tentu saja, membumikan pancasila di dunia maya harus pula ditopang para tokoh agama yang sudah mentradisikan diri dalam berbagai forum ngaji, majlis taklim, pesantren, masjid dan lain sebagainya. Para tokoh agama ini menjadi pusat gerakan sosial masyarakat sampai di level paling bawah, sehingga sangat efektif dalam membumikan pancasila di era milenial sekarang ini.

Facebook Comments