Memenangkan Kemanusiaan dalam Realitas Maya dan Himpitan SARA

Memenangkan Kemanusiaan dalam Realitas Maya dan Himpitan SARA

- in Suara Kita
176
2
Memenangkan Kemanusiaan dalam Realitas Maya dan Himpitan SARA

Riuh rendah realitas dalam jaringan (daring) ternyata kerap kali berbanding lurus pula dengan fluktuasi keresahan sosial dalam kehidupan nyata sehari-hari (luring). Dalam beberapa kejadian, fenomena ruang publik dalam aspek daring dan luring tersebut seolah menghadirkan fungsi komplemen dalam konteks pengelolaan isu tertentu. Tentunya sangat beralasan bila kemudian keresahan harus hadir dalam benak kelompok minoritas, sebab luapan isu yang bermotifkan SARA sangat rentan untuk mengenai mereka.

Mengambil sikap lari dan menghindari kemungkinan hal tersebut mengena pada diri kita masing-masing rasanya tak lebih dari penghindaran sementara dari ledakan bom waktu. Persoalan hanya mungkin terkupas bila simpul ikatan yang membelitnya melunak dan perlahan mengurai.

Kompleksitas persoalan dan realitas bangsa ini yang majemuk memang menghadirkan kesulitan tersendiri dalam mengupayakan jalan keluar. Hal demikian disinyalir menjadi lebih rumit tatkala luasnya akses untuk bisa memperoleh informasi di era globalisasi saat ini. Bila mendasarkan argumen mengenai globalisasi dengan meminjam gagasan David Harvey, yaitu sebuah keadaan di mana ruang dan waktu dimampatkan (Time-space compression) (Harvey, 2005), maka melalui internet siapa pun bisa mengakses apa pun, tidak peduli jenis kelamin atau pun rentang usia tertentu.

Ketiadaan batas atau merapatnya jarak dan waktu menghadirkan kesempatan dan peluang bagi siapa pun untuk memperoleh informasi yang diinginkan-nya atau pun tidak. Kekuatan ini menjadi akses untuk segala macam hal. Di sinilah fase kekhawatiran menemukan muaranya. Seperti kita ketahui bersama, kecenderungan krisis jati diri bangsa pasca reformasi menghinggapi banyak pihak. Boleh dibilang banyak elemen bangsa ini seperti terjangkiti virus pubernya orang muda. Mereka kaget dengan kenyataan yang tidak menyajikan pegangangan hidup, sementara kebutuhan akan hal tersebut terus saja berteriak lantang dalam hati dan fikiran.

Baca Juga : Perkuat Literasi Media, Bersihkan Isu Sara dari Dunia Maya

Beberapa di antara mereka memang berhasil mengisi kekosongan dalam identitasnya dengan cara yang damai dan non-anarkis. Namun tidak sedikit pula yang menggalinya dengan cara bersentuhan langsung dengan kegelapan ruang berfikir dari manusia. Singkatnya, hal-hal yang menyentuh kekerasan menjadi hal yang menantang untuk dilakukan. Tidak peduli hal tersebut bersentuhan dengan sara dalam bentuk radikalisme atau pun terorisme. Umumnya credo semacam homo homini lupus yang dibungkus dengan narasi tertentu seperti agama menjadikan mereka berubah layaknya pasukan berani mati demi gagasan tertentu yang meminggirkan kemanusiaan.

Memenangkan Karakter Kemanusiaan via Daring

Oleh karena sebuah bangsa hadir dengan berlatarkan demos dan bukan ethnos, maka menghadirkan sebuah prinsip universal yang potensial menjadi pegangan bersama menjadi tuntutan serius untuk diaktualisasikan. Hal ini penting sebab sebuah institusi bernama negara tidak akan mungkin bisa bertahan bila pengingkaran terhadap prinsip kemanusiaan terus saja berkecamuk bagi warga negaranya.

Hal yang menarik adalah sejatinya, prinsip universal tersebut telah hadir sejak lama dalam kehidupan bangsa ini. Salah satu prinsip tersebut mengangkat nilai kemanusiaan sebagai tuntutan aktualisasinya. Menanggapi hal ini, maka sejatinya memenangkan nilai kemanusiaan atas nama berbangsa Indonesia merupakan pilihan mutlak.

Rasanya pilihan inilah yang penting untuk kita hadirkan, sebab intrusi kekuatan populisme yang selalu menunggangi isu sara kerap hadir dan menggetarkan persatuan kita. Sudah banyak contoh-contoh kasus atas hal ini. Beberapa di antaranya bahkan baru saja mengetengah dalam ruang informasi kita bersama.

Dalam upaya memenangkan nilai kemanusiaan ini, hal yang pertama mesti disiasati adalah dengan melakukan sebentuk intervensi. Hal ini sudah harus dilakukan sebab membiarkan semuanya larut, sangat membuka ruang bagi rusaknya tatanan hidup berbangsa kita. Bila kita sungguh bersepakat bahwa kemajemukan merupakan bagian yang melekat pada bangsa ini sejak awal maka proses pengintervensian yang sudah menjadi hal yang mendesak. Yang mesti turut berpartisipasi adalah semua pihak, baik pemerintah, akademisi, pemuka agama hingga pendidik dalam level dasar dan menengah. Kesemuanya mesti berangkat dari kebutuhan akan memperjuangkan nilai kemanusiaan.

Selanjutnya upaya memenangkan kemanusiaan ini tidak hanya berfokus pada ruang nyata semata sebagai ranah pertarungannya. Bila kita sepakat dengan gagasan David Harvey di atas, maka kapitalisasi ruang maya pun mesti mendapat perhatian yang tak kalah serius. Dalam mengupayakan agenda pemenangan nilai-nilai kemanusiaan ruang maya mesti dikapitalisasi pula sebagai sebuah media dan aset perjuangan.

Lewat penyebarluasan konten kemanusiaan dan kemajemukan bangsa ini serta upaya menjaganya yang tiada henti, memungkinkan kita masuk dan berjuang untuk hal tersebut. Pada gilirannya semua pihak pasti akan mendapat tuntutan agar tidak hanya meletakkan perhatian pada konsepsi saja, namun bentuk pengemasanya pun harus mampu menyentuh sisi menarik yang selama ini dibayangkan semua pihak hingga para milenial.

Kita bisa melihat bagaimana sejumlah media sebenarnya mulai melirik penggunaan kanal-kanal demikian, misalnya dengan gambar karikatural kartun, infografis dan lain sebagainya. Namun sifat perjuangan yang hadir masihlah bersifat insidental dan tidak terorganisir. Namun demikian hal tersebut mesti diapresiasi dan bahkan direplikasi.

Akhirnya kita bisa melihat bahawa pilihan perjuangan hanya satu, menangkan kemanusiaan dan kemajemukan bangsa ini harus dirayakan, bila ingin menjaga bangsa ini dan menjauhkannya dari unsur perdebatan sara.

Facebook Comments