Memerangi Narasi Segregasi, Intoleransi dan Pemecah Belah, Belajar dari Singapura

Memerangi Narasi Segregasi, Intoleransi dan Pemecah Belah, Belajar dari Singapura

- in Suara Kita
204
0
Memerangi Narasi Segregasi, Intoleransi dan Pemecah Belah, Belajar dari Singapura

Bagaimana rasanya diusir atau ditolak ketika akan masuk negara lain? Tentu yang tahu orang yang merasakan moment itu, sebagaimana yang dialami oleh Ustad Abdul Somad yang dilarang masuk (diusir) dari Singapura.

Sementara itu, konfirmasi dari pemerintah Singapura pengusiran tersebut karena Ustad Abdul Somad yang populer dipanggil UAS dinilai menyebarkan ajaran yang ekstremis dan segrasi, pernah membuat pernyataan bahwa bom bunuh diri merupakan jihad dan UAS juga pernah melontarkan komentar yang merendahkan agama lain, seperti Kristen. Pemerintah Singapura tidak ingin negaranya dikotori oleh hal itu.

Sepertinya, pemerintah Singapura sudah mengamati sepak terjang dan materi ceramah UAS. Karenanya, pemerintah Singapura tanpa ragu menolak UAS dan rombongannya, tidak masuk ke negara berjuluk The Lion City itu. Singapura, sebagai negara yang multi; agama, ras dan etnis tidak mau dirusak oleh ceramah-ceramah atau dakwah dari seorang mubaligh dan pendakwah yang disinyalir provokatif dan bisa menimbulkan disharmoni di kalangan warga negara Singapura yang multikultural.

Sebenarnya, penolakan terhadap UAS bukan hanya kali ini saja, sebelumnya ia juga pernah ditolak masuk ke negara Hongkong, Belanda, Timur Leste dan Jerman. Masing-masing negara memiliki alasan tersendiri menolak UAS datang ke negara tersebut. Rata-rata karena negara-negara tersebut menilai materi ceramah atau dakwah UAS yang menyalakan narasi segregasi, intoleransi dan pemecahbelah.

Tentu, sebelum pemerintah Singapura menolak UAS, mereka pasti sudah mempelajari lebih dahulu tentang siapa UAS dan bagaimana materi ceramahnya dari rekam digital. Bahan-bahan sudah mereka kumpulkan dan telah mereka pelajari. Itu pasti. Ini artinya deportasi terhadap UAS oleh pemerintah Singapura sudah barang tentu karena alasan yang sudah mereka pikirkan. Terutama untuk ketenangan dan kedamaian warga negaranya.

Karenanya, ditolaknya UAS untuk masuk ke Singapura adalah wajar dan tidak perlu dipercakapkan, apalagi diperdebatkan atau dibela mati-matian. Masalahnya, sebagian orang mengklaim pengusiran tersebut sebagai bentu Islamofobia pemerintah Singapura terhadap agama Islam. Tidak lain, karena mereka memposisikan ceramah UAS sebagai sesuatu kebenaran yang tinggi dan tidak ada yang melampaui. Sehingga mereka, dan mungkin juga UAS, merasa sebagai pemilik kebenaran. Penunggalan kebenaran seperti yang sejatinya bermasalah. Apalagi ceramah provokatif dengan narasi segregasi, intoleransi dan pemecah belah. Tentu saja Singapura tidak ingin rakyatnya berderai karena dakwah seperti ini.

Belajar dari Singapura Merekatkan Persatuan dalam Kebhinekaan

Penolakan Singapura terhadap UAS dan rombongannya menjadi bukti, negara kecil diseberang Indonesia itu tegas dan serius untuk menghabisi narasi segregasi, intoleransi dan provokasi atas nama agama untuk memecah belah penduduknya yang multi agama, ras dan etnik. Ini artinya, merekatkan persatuan dalam kebhinekaan dan menghabisi gerakan yang berpotensi memecah belah akhirnya semakin diperkencang.

Mereka sadar bahwa hal semacam itu akan memicu terjadinya instabilitas negara. Karena segragasi, intoleransi dan dan provokasi atas nama agama merupakan kecambah terorisme. Apabila dibiarkan, konflik dan kekerasan akan terjadi, dan kelompok teroris akan muncul dari waktu ke waktu. Kelompok teroris yang disemai dengan doktrin agama sangat berbahaya. Alasan agama orang akan berbuat apa saja, termasuk membunuh, bom bunuh diri dan sebagainya.

Pemerintah Singapura sadar, segragasi, intoleransi dan pemecah belah merupakan cara busuk yang bertujuan untuk mengacaukan dan merobek-robek kebangsaan dan persatuan. Multikulturalisme terancam. Kalau sudah demikian, negara di bawah bayang-bayang kehancuran.

Akhirnya bagi kita bangsa Indonesia, disamping penegakan hukum untuk memerangi gerakan yang menabur teror seperti segragasi, intoleransi dan upaya pemecah belah, integrasi sosial yang menjadi modal kita sebagai nations-state harus tetap diasah dengan berpijak pada Pancasila dan UUD 45 sebagai ideologi bangsa dan visi nasional kita.

Indonesia, sebagai negara yang lebih multi; agama, etnik, ras dan budaya dibandingkan Singapura seharusnya lebih serius melakukan kontra narasi segregasi, intoleransi dan upaya pemecah belah. Sebab kalau tidak, bukan tidak mungkin bangsa ini akan semakin terjerembab dalam lubang jurang kehancuran.

Selain penyimpangan ajaran agama, segregasi, intoleransi dan upaya pemecah belah kerukunan dan kohesi sosial penduduk Indonesia, merupakan faktor yang paling dominan menciptakan kekacauan, kekerasan, dan bahkan sampai tindakan terorisme.

Penolakan pemerintah Singapura terhadap UAS dan rombongannya membukakan pandangan kita, bahwa di negara kita yang lebih beragam dibandingkan negara Singapura ternyata menyimpan benih-benih ancaman terhadap persatuan dan kebhinekaan.

Paling tidak, negara dalam hal ini lembaga negara yang memiliki otoritas dan kebijakan mengontrol aktivitas dakwah harus melakukan upaya preventif dengan upaya mencerahkan pendakwah supaya sengkarut keberagamaan di negeri ini segera berakhir. Yang diperintahkan agama untuk amar ma’ruf nahi mungkar bukan penceramah yang menampilkan “wajah garang” serta pemahaman agama yang ekstrim.

Untuk menarik simpati penganut agama lain supaya tertarik memeluk agama Islam dibutuhkan penceramah yang menyampaikan ajaran keberagamaan yang santun, bersikap ramah, menghargai perbedaan, berpandangan moderat, toleran dan inklusif. Butuh penceramah yang memiliki pengetahuan agama yang luas, pendekatan keilmuan yang integratif dan interkonektif agar bisa mempertautkan nalar keagamaan dengan realitas yang melingkupi, serta wawasan kebangsaan dan kewarganegaraan yang komprehensif.

Indonesia dengan segala keberagaman yang dimilikinya harus memiliki tekad kuat dan tegas untuk menentang, memusuhi, dan bahkan memerangi narasi segregasi, intoleransi dan segala upaya pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Kebhinekaan bukan sesuatu yang harus ditakuti dan bukan pula mengancam keimanan. Tapi, justru menjadi khazanah kekayaan bangsa yang harus dirawat dan dilestarikan.

Karenanya, alangkah baiknya kalau kita tegas seperti negara Singapura dalam mewaspadai narasi segregasi, intoleransi dan upaya memecah belah kebhinekaan.

Facebook Comments