Memilih Haji Sebagai Jalan Jihad

Memilih Haji Sebagai Jalan Jihad

- in Suara Kita
204
1
Memilih Haji Sebagai Jalan Jihad

Di zaman Rasulullah SAW dan para sahabat, makna jihad tidak banyak mengalami perdebatan. Berperang bersama barisan Rasulullah SAW dalam rangka menghadapi kaum kafir dapat dipastikan termasuk jihad fi sabilillah. Hanya saja, saat ini pemaknaan jihad sering kali menjadi perdebatan antara satu orang dengan yang lainnya.

Tidak sedikit orang yang memaknai bom bunuh diri di tempat maksiat ataupun rumah ibadah agama lain merupakan bentuk jihad fi sabilillah. Padahal, terdapat kelompok lain yang menganggap bahwa perbuatan tersebut bukan termasuk jihad bahkan termasuk perbuatan dosa besar karena dihukumi bunuh diri serta membunuh orang lain.

Dalam konteks ibadah mahdhah, haji mabrur juga termasuk ke dalam amalan jihad fi sabilillah. Aisyah RA berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, jihad adalah amal yang paling utama. Bukankah kami harus berjihad?” Nabi bersabda, “Untuk kalian (kaum wanita) ada jihad yang lebih utama, yaitu haji mabrur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, Aisyah RA juga pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami (kaum wanita) ikut berperang dan berjihad besama tuan-tuan semua?” Rasulullah SAW bersabda, “Bagi kalian ada jihad yang lebih baik dan lebih indah, yaitu haji,  haji mabrur.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga : Perempuan, Haji dan Jihad Perdamian

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang cara pelaksanaannya menuntut adanya pengorbanan jiwa, raga, dan harta. Seorang yang memiliki niat beribadah haji tidak dapat melaksanakannya tanpa adanya topangan raga dan harta yang memadahi. Dalam melaksanakan rukun-rukun haji, seorang muslim meski memiliki fisik yang kuat sehingga bisa menyempurnakannya.

Terkait dengan harta, seorang muslim Indonesia yang akan melakukan ibadah haji harus mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dan uang sebanyak ini tidak selamanya dimiliki kaum muslimin Indonesia. Maka menjadi tidak mengherankan manakala di Indonesia terdapat cerita seorang muslim yang “berjihad” mengumpulkan uang hingga puluhan tahun sehingga bisa mendaftarkan diri memenuhi panggilan Allah SWT berbentuk haji.

Parameter Mabrur

Seorang muslim yang melaksanakan ibadah haji tidak selamanya mendapatkan pahala jihad fi sabilillah. Hanya orang-orang muslim yang memiliki predikat mabrur saja yang akan mendapatkan pahala jihad fi sabilillah. Padahal, predikat mabrur dalam ibadah haji tidak saja menuntut seorang muslim bisa melaksanakan syarat dan rukun haji secara sempurna. Selain itu, seorang muslim yang telah melaksanakan syarat dan rukun haji juga dituntut untuk bisa ikhlas dalam menjalankan semua kegiatan haji dan memiliki atsar (dampak) positif setelahnya.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?” Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.” (HR. Ahmad). Dalam Kitab Umdatul Qari, Imam Badrudin Al-Aini mengisahkan bahwa dalam kesempatan yang lain, saat Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Ia menjawab “Memberikan makanan dan santun dalam berkata.”

Berdasarkan pada dua hadits tersebut, setidaknya ada 3 (tiga) tanda mabrur, yakni santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam), menebarkan kedamaian (ifsya’us salam), dan memiliki kepedulian sosial yaitu mengenyangkan orang lapar (ith‘amut tha‘am). Ketiga tanda ini dapat dilihat manakala seorang muslim telah kembali ke kampung halaman setelah mengerjakan ibadah haji. Apabila ketiga amalan ini dilakukan oleh orang yang telah mengerjakan ibadah haji, maka insyaallah ia termasuk golongan rombongan kaum muslimin yang mendapat predikat haji mabrur.

Sebaliknya, apabila ada kaum muslimin setelah mengerjakan ibadah haji tidak memiliki rasa kepedulian sosial meliputi thayyibul kalam, ifsya’us salam, dan ith‘amut tha‘am, maka ia tidak memiliki tanda haji yang mabrur. Sehingga dari sini, seorang yang menjalankan ibadah haji sehingga mendapatkan predikat haji mabrur berikut pahala jihad fi sabilillah, maka ia mesti menampakkan diri sebagai insan yang peduli terhadap sesama sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW sebagaimana disebutkan di atas.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments