Memiliki Teman Non Muslim adalah Kehendak Tuhan

Memiliki Teman Non Muslim adalah Kehendak Tuhan

- in Jumat Sejuk
132
0
Memiliki Teman Non Muslim adalah Kehendak Tuhan

Pemandangan terlihat indah ketika ia tampak penuh dengan warna-warni. Keindahan hanya muncul bukan karena persamaan, tetapi karena kebersamaan. Keragaman yang dipadukan dalam keserasian memunculkan keindahan. Bukan karena semua dipaksa harus seragam dan sama.

Begitu pula dalam pergaulan. Betapa indahnya jika kehidupan yang memang ditakdirkan dan dikehendaki oleh Tuhan beraneka warna ini dapat serasi dan harmoni. Tuhan bahkan tidak menghendaki semua sama, meskipun tentu saja hal itu gampang dilakukanNya. Tetapi Tuhan sedang menguji kualitas keimanan manusia untuk saling berlomba dalam berbuat kebaikan di tengah keragaman.

Rasanya tidak mengenakkan ketika mendengar seorang yang berceramah untuk menghindari memiliki teman yang berbeda, katakanlah non muslim dalam konteks keyakinan saya. Ia memang menegaskan boleh saja berteman hanya sekedar kenal, tetapi tidak boleh bersahabat dekat dengan non muslim. Ia khawatir keimanan terpengaruh.

Pertanyaannya, kenapa Tuhan menghendaki perbedaan sementara kita dilarang untuk memilik sahabat yang berbeda. Apakah Tuhan menginginkan agar kita hanya berkelompok dalam satu warna? Lalu, dalam sebuah ayat Tuhan menegaskan hikmah perbedaan itu dengan istilah li taarafu (agar saling mengenal).

Taaruf adalah proses saling berinteraksi timbal balik yang tidak hanya dengan say hallo. Taaruf merupakan proses mengenal lebih jauh agar saling memahami antar satu dengan yang lain. Apakah dengan saling mengenal kita menjadi takut akan terjatuh untuk menyerupai (tasyabuh) teman kita? Atau ketika saling mengenal kita saling tukar keimanan seperti tukar nomor telpon?

Tidak sedikit dari anda mungkin mengalami hal yang pernah saya alami. Teman non muslim yang mengingatkan waktu shalat ketika tiba waktunya. Ada pula sahabat non muslim yang menegor teman muslimnya untuk segera mengerjakan shalat. Tidak sedikit, teman non muslim yang mengingatkan makanan ini halal dan ini tidak boleh dikonsumsi sebagai muslim.

Larangan berteman dengan non muslim secara jelas dalam kitab suci yang saya pahami adalah mereka yang jelas memusuhi Islam. Tentu jangan jadikan mereka yang mempunyai misi menghancurkan Islam sebagai teman dekat. Dan rasanya mereka yang memusuhi Islam tidak juga akan mengambil saya sebagai temannya.

Situasi sedang berubah dan terus berubah. Pergaulan lintas perbedaan semakin dekat dan bahkan kita merasakan itu bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Haruskah kita lari dari kenyataan dengan mengurung diri hanya dengan memiliki teman yang seagama dan sekeyakinan. Betapa agama hanya akan menjadi belenggu bagi kita untuk mewujudkan li taarafu dalam tindakan yang nyata bukan sekedar retorika.

Semakin saya menyadari bahwa memiliki teman yang berbeda adalah kehendak Tuhan. Mengisolasi diri dari yang berbeda sejatinya lari dan mengingkari dari sunnatullah. Tergantung kita untuk memilih, apakah mengikuti sunnatullah atau mengingkarinya untuk selalu bersikap ekslusif dan segregatif di tengah perbedaan.

Facebook Comments