Memperkuat Resiliensi Kearifan Lokal di Tengah Gempuran Ideologi Transnasional

Memperkuat Resiliensi Kearifan Lokal di Tengah Gempuran Ideologi Transnasional

- in Suara Kita
1168
0
Memperkuat Resiliensi Kearifan Lokal di Tengah Gempuran Ideologi Transnasional

Indonesia ialah negara besar dengan kekayaan multikulturalitas dan multirelijiusitas yang luar biasa. Data Badan Pusat Statistik mencatat, Indonesia memiliki lebih dari 300 etnik, 1.340 suku, dan 700 bahasa daerah. Masing-masing etnik dan suku itu memiliki adat-istiadat dan budayanya sendiri. Dari sisi agama, Indonesia saat ini memiliki enam agama resmi dan puluhan atau bahkan ratusan agama lokal dan aliran kepercayaan.  

Meski berbeda adat, agama dan budaya, namun masyarakat Indonesia umumya disatukan oleh kearifan lokal yakni kerjasama, gotong-royong, toleransi, dan keterbukaan. Kekayaan adat, agama dan budaya itu memiliki dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi, kekayaan adat, agama dan budaya itu berpotensi menjadi modal sosial-kultural dalam membangun peradaban bangsa. Tentu, jika kita pandai mengelolanya.

Sebaliknya, kekayaan adat, agama dan budaya itu potensial menimbulkan perpecahan. Hal itu akan terjadi ketika kita gagal mengelola perbedaan itu. Kegagalan kita mengelola perbedaan akan menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial yang mengancam kohesivitas masyarakat. Seiring dengan perkembangan zaman, tantangan merawat multikulturalitas dan multirelijiusitas kian tidak mudah.

Ancaman Ideologi Transnasional

Modernisasi dan globalisasi yang melanda Indonesia dalam kurun waktu beberapa dekade belakangan telah menghadirkan gocangan pada ranah kebudayaan dan keagamaan kita. Terlebih dalam dua dekade belakangan ini ketika arus ideologi transnasional begitu masif mengokupasi ruang publik kita. Watak ideologi radikal-transnasional yang anti-kebangsaan dan anti-kemajemukan telah menjadi ancaman serius bagi multikulturalitas dan multirelijiusitas Indonesia.

Ideologi radikal-transnasional menawarkan cara pandang dan praktik keberagamaan yang kaku, eksklusif, intoleran, bahkan menjurus ke radikal-ekstrem. Ideologi radikal-transnasional tidak memberikan ruang bagi perbedaan agama dan budaya. Dalam alam pikir ideologi transnasional, agama (Islam) tidak cukup menjadi sumber moral dan etika. Lebih dari itu, Islam harus menjadi sistem politik kenegaraan. Agenda mengubah ideologi dan bentuk negara yang diusung oleh gerakan islam transnasional itulah yang menjadi tantangan paling berat bagi multikulturalitas dan multirelijiusitas kita saat ini.

Di titik inilah pentingnya kita menguatkan dimensi resiliensi kearifan lokal di tengah derasnya gempuran ideologi transnasional. Resiliensi ialah kemampuan bertahan dalam segala kondisi krisis dengan mengedepankan adaptasi dan inovasi. Dua kata kunci, yakni adaptasi dan inovasi inilah yang kita butuhkan saat ini. Di tengah arus globalisasi yang salah satunya diwarnai oleh penyebaran ideologi transnasional, kearifan lokal mau tidak mau harus terus diinterpretasikan agar tetap relevan dengan tantangan zaman.

Selama ini ada kesan bahwa kearifan lokal cenderung dianggap tidak sejalan dengan dasar modernisme. Asumsi itu muncul karena kearifan lokal cenderung enggan untuk beradaptasi dan berinovasi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif masyarakat untuk menguatkan resiliensi kearifan lokal guna menangkal ideologi transnasional. Salah satu upaya yang bisa ditempuh ialah membumikan filosofi pendidikan multikultural. Yakni aktivitas pengajaran dan pembelajaran yang didasarkan atas nilai-nilai demokrasi, dan mendorong berkembangnya pluralisme budaya dan agama dalam setiap lini bidang kehidupan manusia.

Pendidikan Multikultural-Holistik

Pendidikan dalam konteks ini idealnya diartikan secara holistik, meliputi pendidikan formal, semi-formal, bahkan non-formal. Ini artiya, pendidikan multikultural tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah sebagai institusi pendidikan formal. Seluruh elemen bangsa, mulai dari keluarga, organisasi kemasyarakatan dan organisasi keagamaan serta masyarakat umum memiliki tanggung jawab yang sama untuk menanamkan kesadaran multikulturalisme ke setiap individu.

Pendidikan multikultural yang holistik niscaya akan melahirkan rasa bangga pada kearifan lokal. Masing-masing kelompok suku maupun agama akan merasa bahwa identitas keindonesiaan yang dimilikinya merupakan hal berharga yang harus dijaga. Lebih dari itu, pendidikan multikultural yang holistik juga akan melahirkan jejaring sosial yang memiliki kesadaran akan keragaman identitas, dan komitmen untuk menjaga kearifan lokal. Dengan begitu, maka akan terbentuk semacam kekebalan kolektif utamanya dari ancaman virus ideologi radikal-transnasional.

Menguatkan resiliensi alias daya tahan kearifan lokal terhadap gempuran ideologi transnasional ialah sebuah keharusan. Di era globalisasi seperti saat ini, mustahil kiranya sebuah bangsa atau negara mengisolasi dirinya dari pengaruh budaya luar. Globalisasi memaksa setiap negara berada di titik fait accomply alias tidak ada pilihan; membuka diri atau terkucil dari peradaban dunia.

Namun, sikap permisif pada modernisasi dan globalisasi itu idealnya tidak lantas membuat kita tercerabut dari akar sejarah dan identitas kebangsaan kita. Maka, satu-satunya jalan ialah membangun kesadaran kolektif sekaligus jejaring sosial yang solid demi menangkal paham dan gerakan radikal-transnasional.

Facebook Comments