Memprediksi Pintu Masuk Radikalisasi di Kalangan ASN

Memprediksi Pintu Masuk Radikalisasi di Kalangan ASN

- in Suara Kita
637
0
Memprediksi Pintu Masuk Radikalisasi di Kalangan ASN

Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan gerakan tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri yang melakukan operasi di sejumlah daerah seperti Bekasi dan Jakarta. Dari hasil itu Densus 88 berhasil menangkap 4 terduga teroris. Hal yang lebih mengejutkan bahwa salah satu terduga teroris yang ditangkap di Bekasi adalah pegawai salah satu perusahaan negara, Kimia Farma.

Apa yang menjadi spesial adalah tersangka sudah lama bekerja di lingkungan kerja plat merah. Bukan lagi sekedar terpapar pemahaman yang radikal, tetapi dalam kasus ini tersangka dinyatakan aktif dalam organisasi teror. Peristiwa ini menjadi alarm bagi kita bahwa radikalisme dan terorisme sudah masuk ke dalam lini kehidupan masyarakat, tidak terkecuali mereka yang sudah bekerja di lembaga pemerintah sekalipun.

Namun, hal terpenting dalam melakukan pencegahan radikalisasi di kalangan ASN adalah mengetahui kanalisasi paham ekstrem tersebut. Dengan mengetahui sumber-sumber itu kita bisa mencegah sejak dini, sekaligus mencari formula yang baik dalam menanggulangi gejala radikalisasi di kalangan ASN. Ketidaktahuan dalam memahami akar dan sumbernya akan menyebabkan proses penanggulangan yang tidak tepat sasaran.

Dalam radikalisasi di kalangan ASN paling tidak ada beberapa hal sebagai sumber kanalisasi. Pintu pertama, tingkat radikalisme di kalangan ASN tidak muncul tiba-tiba, tetapi proses itu sejak lama terjadi. Salah satu yang paling umum ditemukan adalah jejak indoktrinasi di lingkungan kampus.

Dalam beberapa penelitian misalnya LIPI tahun 2016 menenggarai proses aktivisme Islam di lingkungan kampus yang begitu masif baik dalam kegiatan tertutup atau terbuka telah melahirkan kader yang militan. Kaderisasi dijalankan untuk mendoktrin mahasiswa dalam pemikiran yang radikal.  Pemahaman ini terus terbawa hingga mereka bekerja di lingkungan pemerintahan dan menjadi aparatur negara. Dalam kasus ini bisa jadi mereka sudah menempati jajaran strategis di lingkungan pemerintahan.

Pintu kedua, melalui kajian offline yang ada di lingkungan kementerian/lembaga. Jalur kedua sangat mungkin proses ini terjadi saat mereka sudah menjadi ASN. Berbagai pertemuan dan kegiatan di lingkungan kementerian yang tidak terdeteksi berupa kajian ekslusif menjadi sumber awal. Radikalisasi yang terjadi dalam kasus ini memang tidak semilitan proses yang sudah terjadi melalui kaderisasi di level pendidikan tinggi.

Pintu ketiga, jalur online. Gairah besar para ASN yang hanya berkutat dalam pekerjaan menyebabkan mereka merasa haus ilmu pengetahuan keagamaan. Namun, sedikitnya waktu yang bisa digunakan menyebabkan mereka hanya mengandalkan pengetahuan melalui daring (online). Dalam kasus ini ASN banyak mengikuti pengajian dan follow ustadz-ustadz medsos untuk mencari ilmu keagamaan sekaligus panutan.

Dalam ketiga jalur di atas memang tingkat pemahaman ekstremisme akan berbeda-beda. Mereka yang sudah lama mengikuti kaderisasi sejak awal akan lebih memiliki sikap militan. Berbeda dengan yang hanya bertemu di tengah jalan melalui forum-forum pertemuan yang sifatnya lebih sebagai pendukung.

Karena itulah, melakukan penanggulangan radikalisasi di kalangan ASN harus memperhatikan proses kanalisasi tersebut. Pemberian sangsi jelas dibutuhkan, tetapi menyumbat kanalisasi dan menyembuhkan mereka yang teradikalisasi juga teramat penting. Pemerintah harus memperhatikan kanal-kanal tersebut dengan melakukan assessment kepada ASN baik pra dan pasca rekruitmen.

Memutus rantai radikalisasi di kalangan ASN harus dilakukan dengan komprehensif, tidak hanya persoalan memberikan sangsi. Pendampingan dan penanaman wawasan kebangsaan harus konsisten dilakukan di kalangan ASN. Mereka adalah para aparat negara yang memegang peran penting demi kelangsungan negeri ini.

Facebook Comments