Mempromosikan Kebhinekaan untuk Persatuan di Jagad Maya

Mempromosikan Kebhinekaan untuk Persatuan di Jagad Maya

- in Suara Kita
187
2
Mempromosikan Kebhinekaan untuk Persatuan di Jagad Maya

Era digital yaang ditandai dengan perkembangan Teknologi Informasi Komunikasi terus berlangsung dan berkembang begitu cepat serta semakin canggih. Perkembangan era digital ini dengan masifnya penggunaan internet sebagai media baru (new media), membawa konsekuensi pergeseran karakter khalayak menjadi audience, khalayak tidak lagi obyek pasif, namun dapat berperan menjadi produsen informasi (Prosumer), masyarakat sebagai khalayak tidak lagi pada posisi obyek yang dideterminasi media massa arus utama, tetapi lebih jauh dapat berperan memproduksi berita dan membentuk opini publik via platform media sosial.

Adanya media sosial (medsos) seseorang diberi kebebasan berekspresi, tetapi jangan sampai kebebasan menjadi kebablasan. Saat ini banyak yang kebablasan serta mengabaikan kesalehan bermedsos. Hal ini didukung dengan merebaknya fenomena post-truth (politik pasca kebenaran). Kata post-truth mulai terkenal pada tahun 2016, karena Kamus Oxford mentasbihkan post-truth sebagai kata tahun ini. Dari kamus Oxford dijelaskan, kata post-truth untuk mendefinisikan situasi dimana keyakinan dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan fakta-fakta yang objektif.

Tokoh yang pertama kali memperkenalkan istilah post-truth yaitu Steve Tesich, dramawan keturunan Amerika-Serbia. Pada waktu itu Tesich melalui esainya pada harian The Nation (1992) menunjukkan kerisauannya yang mendalam terhadap fenomena post-truth, dengan maraknya upaya memainkan opini publik dengan mengesampingkan dan bahkan mendegradasi fakta maupun data informasi yang objektif. Secara sederhana, post-truth dapat diartikan bahwa masyarakat lebih mencari pembenaran dari pada kebenaran.

Banyak contoh bagaimana fenomena post-truth mempengaruhi dan merubah kehidupan pada suatu negara. Presiden Ukraina tumbang diawali dengan sebuah status di medsos yang dibuat  seorang jurnalis di Facebook yang dilanjutkan dengan seruan berkumpul di Lapangan Maidan di Kiev. Di Rusia Presiden Putin memanfaatkan medsos sebagai kampanye terselubung kepada negeri tetangganya seperti Ukraina, Prancis dan Jerman.

Baca juga : Menjadikan Media sosial sebagai Pemersatu Bangsa

Di Amerika Serikat (AS) ada kasus yang menarik terkait post-truth, kala itu senat AS pernah memanggil perwakilan Google, Facebook, dan Twitter dalam kasus mengarahkan suara pemilih dan memecah belah masyarakat yang diduga melibatkan Rusia. Di Inggris referendum Brexit secara efektif menggunakan medsos seperti Facebook untuk memasang iklan. Trump juga menggunakan medsos untuk kampanye mempengaruhi pemilih dengan membuat 50.000-60.000 iklan yang berbeda di medsos, utamanya di Facebook.

Di era post-truth kebenaran harus dikembalikan, sejatinya kebenaran yang absolut dihadapkan dengan objek dan subjek apapun tidak akan pernah bergeser sedikitpun. Contoh kebenaran absolut 1 ditambah 1 sama dengan 2, anak paud ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, anak SD ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, anak SMP ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, anak SMA ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, mahasiswa ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, profesor ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, bahkan yang tidak pernah sekolahpun ketika ditanya 1 ditambah 1 jawabannya 2, inilah yang dinamakan kebenaran. Jangan sampai karena fenomena post-truth kebenaran jadi bias.

Terkait kebenaran Allah sudah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 269 yang artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”

Ayat ini menunjukkan bahwa kebenaran suatu hal yang mewah serta hanya didapat oleh orang yang berakal yang selalu mencari kebenaran bukan pembenaran. Saat inilah kebenaran harus dipromosikan secara masif di medsos. Kenapa harus medsos? Karena medsos menjadi media baru arus utama beredarnya informasi. Fenomena post-truth harus di hadapkan iklan kebenaran dalam perang di medsos. Dalam konten mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di era post-truth masyarakat perlu semarak mempromosikan nilai-nilai Kebhinekaan di medsos. Menggingat sekarang banyak muncul narasi dari ormas terlarang yang ingin menjadikan Indonesia negara Islam.

Trump saja ketika kampanye Calon Presiden membuat  50.000-60.000 konten promosi yang disebar di medsos. Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) pengguna medsos yang cukup besar. Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna medsos di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total penduduk. Andaikan saja masyarakat Indonesia sadar menggunakan medsos untuk mempromosikan Kebhinekaan, maka kebenaran dan keutuhan NKRI tidak akan bisa dipatahkan oleh segelintir orang. Misalnya dari 150 juta pengguna medsos cukup 4 kali dalam 1 bulan mempromosikan Kebhinekaan, maka setiap bulannya di medsos tersebar 600.000 juta konten Kebhinekaan yang cukup viral di medsos.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika diambil oleh Mpu Tantular dari konsep teologi Hindu yang berbunyi, Bhina Ika Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mengrawa. Artinya, berbeda-beda dia, tetapi satu adanya, tak ada ajaran yang menduakannya. Sosok Mpu Tantular adalah penganut Budha namun ia seorang yang terbuka terhadap pemeluk agama lain, terutama Hindu-Siwa. Artinya bahwa Indonesia sejak lama mempraktekkan hidup toleran terhadap pluralitas yang inheren.

Sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945, Indonesia adalah rumah bagi berbagai agama, suku, etnis, gender, kepercayaan, kelas sosial dan sudut pandang. Indonesia tidak hanya bangga dengan Bhinneka Tunggal Ika tapi juga bangga dengan motonya: Persatuan dalam Perbedaan. Kodisi seperti ini perlu warganet menggaungkan dalam postingan di medsos, supaya orang yang anti Bhinneka Tunggal Ika itu sadar akan pentingnya Kebhinekaan dalam utuhnya NKRI.

Facebook Comments