Memutus Mata Rantai Radikalisme di Media Sosial

Memutus Mata Rantai Radikalisme di Media Sosial

- in Suara Kita
247
2

Peristiwa terorisme di Indonesia seolah tak ada matinya. Selalu saja ada orang-orang yang dengan sukarela dan dengan keyakinan penuh melakukan “amaliah” bom bunuh diri. Orang-orang ini menganggap bahwa yang mereka lakukan adalah jihad.

Tentu saja pemahaman semacam ini adalah salah kaprah alias kekeliruan besar. Meskipun demikian, pemahaman semacam ini terus berkembang dan menyasar anak-anak muda Indonesia. Hingga kemudian memunculkan “zombie-zombie” muda yang tega meledakkan diri bersama bom rakitan sendiri.

Terbaru, peristiwa “gagal jihad” di pos Polisi Kartasura yang dilakukan oleh remaja belia berusia 23 tanggal 3 Juni 2019. Ia dengan berani meledakkan diri bersama bom rakitan yang dirakit sendiri. Beruntung, bom hasil ciptaan sendiri itu tidak meledak sempurna dan hanya melukai dirinya sendiri. Usut punya usut, Ia belajar merakit bom dari internet, bahkan sudah berbaiat dengan pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi sejak tahun 2018.

Fakta tersebut membuat kita teringat kembali dengan duo Siska, perempuan belia yang ditangkap kepolisian karena hendak menyerang dan membantu para teroris saat terjadi kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua setahun silam. Duo Siska yang masing-masing 18 dan 22 tahun itu juga terpapar radikalisme dari media sosial. Mereka bertemu di sebuah grup aplikasi pesan yang membahas soal ilmu tauhid, akidah, hingga jihad memerangi thogut. Mereka juga sudah berbaiat online kepada al-Baghdadi.

Pisau Bermata Dua

Berkembangnya radikalisme di dunia maya, utamanya media sosial sesungguhnya bukan hal baru. Hal ini merupakan pengejawantahan dari pernyataan juru bicara Al-Qaeda–yang  kemudian bergabung dengan ISIS–Al  Adnani. Al Adnani mengatakan bahwa daripada merekrut dan membawa anggota baru ke Afghanistan, akan lebih mudah dan berharga, bila memindahkan pusat pelatihan ke setiap rumah, dan setiap perkampungan muslim di berbagai negara.

Baca juga : STOP Radikalisme di Internet!

Pernyataan al-Adnani tersebut mendapatkan momentum dengan pesatnya perkembangan teknologi hari ini. Dengan bantuan internet dan gawai yang saat ini dimiliki hampir setiap orang, maka apa yang dikatakan oleh al-Adnani sangat mudah untuk dilakukan. Para radikalis memenuhi dunia maya dengan konten-konten radikal dengan beragam bentuk, misalnya video, tulisan, meme dan lain sebagainya. Mereka juga menjadikan media sosial sebagai ujung tombak untuk melakukan cuci otak sekaligus menjaring orang-orang baru. Oleh karenanya, dunia maya dan media sosial bak pisau bermata dua, yang bisa bermanfaat dan tapi di sisi lain, juga bisa mematikan!

Dengan strategi tersebut, para radikalis mampu menyebarkan ideologi radikal ke seluruh penjuru dunia dengan sangat cepat dan mudah. Mereka tidak perlu bertatap muka secara langsung untuk merekrut anggota baru. Mereka hanya perlu terus menerus memproduksi konten-konten radikal lalu menyebarluaskannya melalui dunia maya dan media sosial sebagai ujung tombaknya. Dengan demikian, mereka sejatinya sudah melakukan doktrinasi sampai ke unit kecil masyarakat, yakni keluarga. Dan tentu saja, sasarannya adalah anak-anak muda yang masih dalam proses pencarian jati dirinya.

Kerja Bersama

Memutus mata rantai radikalisme di media sosial tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Ini adalah kerja bersama yang harus dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya pemerintah saja.

Orang tua sebagai guru pertama di keluarga harus pro aktif mengawasi anak-anaknya. Jika sang anak diberikan gawai, awasi penggunaannya. Jangan abai terhadap apa yang dikonsumsi anak dari dunia maya. Awasi media sosial anak dan lingkar jaringan pertemanannya. Jika sang anak mulai membagikan konten-konten berbau radikal, tegur dengan lemah lembut dan arahkan untuk mengonsumsi konten-konten yang moderat dan pancasilais.

Pun demikian dengan para guru di sekolah. Para guru harus mampu menjadi teman yang baik untuk anak-anak didiknya. Ajarkan kepada murid bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindarkan. Dan menolak perbedaan atas nama apa pun, termasuk atas nama agama adalah tindakan yang tak bisa dibenarkan. Para guru juga tak perlu malu untuk memfollow akun media sosial murid. Hal ini penting untuk mengawasi dan mengontrol tingkah laku murid di media sosial. Sehingga bisa dilakukan tindakan yang cepat bilamana ada salah satu murid yang terpapar radikalisme.

Warga masyarakat yang kini sudah menjadi warganet alias netizen juga memiliki peran yang tak kalah penting. Mereka harus bersatu padu menggunakan jempol untuk membagikan setiap konten-konten kontra narasi radikalisme. Ini penting untuk mengimbangi meluapnya konten radikalisme di dunia maya. Selain itu, netizen juga harus proaktif untuk melakukan pengawasan atau siskampling di dunia maya. Bilamana ada situs atau akun media sosial yang menyebarkan ideologi radikal, segera laporkan kepada pihak yang berwenang. Agar situs dan akun media sosial tersebut bisa diblokir.

Pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan kekuasaan harus menindak tegas terhadap situs maupun media sosial yang melakukan doktrinasi radikalisme. Selain itu, pemerintah juga perlu memberikan hukuman yang berat kepada setiap pelaku tindak kejahatan teror. Hal ini perlu dilakukan untuk memberikan efek jera bagi siapa saja yang hendak melakukan aksi terorisme. Jika semua pihak mau bekerja sama dan bersatu padu, maka mata rantai radikalisme di dunia maya dan media sosial akan mudah untuk dihancurkan.

 

Facebook Comments