Menahan Amarah dan Fitnah di Bulan Berkah

Menahan Amarah dan Fitnah di Bulan Berkah

- in Suara Kita
206
1
Menahan Amarah dan Fitnah di Bulan Berkah

Ramadan adalah bulan berpuasa dari dengan cara menahan lapar, dahaga, serta nafsu syahwat. Bagi sebagian orang, menahan lapar dan dahaga merupakan perkara remeh. Yang berat adalah menahan nafsu syahwat. Sebenarnya ada yang lebih krusial dari menahan nafsu syahwat,  yakni nafsu amarah dan kebencian, karena keduanya berhubungan langsung dengan kemanusiaan.

Dalam syariat Islam, nilai kemanusiaan lebih tinggi di atas apapun. Bagaimana tidak, jika satu nyawa tebusannya adalah  nyawa pula, seperti ditegaskan dalam QS. A-Baqarah:179, “Dan dalam qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu”.  Jika menghilangkan satu nyawa harus dibayar satu nyawa pula, maka dari situ akan timbul suatu kejeraan. Iniah salah satu indikasi bahwa nilai kemanusiaan itu begitu luhur.

“Ketika ada satu kelompok yang bersekongkol menghilangkan satu nyawa saja, yang pasti tak dapat terbendung adalah tersebarnya fitnah di kalangan mereka.” Demikian perkataan Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya. Fitnah bukan lagi perkara kecil, karena berawal dari fitnah Suriah hancur. Bermula dari fitnah, Sayyidina Ali dibunuh oleh Ibnu Muljam. Berangkat dari fitnah pula Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan secara paksa. Tidak lain, semua ini disetir oeh amarah dan kebencian.

Sayang sungguh disayangkan, tidak semua orang berpikiran luas ke depan layaknya Gus Dur. Demi hanya menghindari pertumpahan darah karena politik, Gus Dur yang baru menjabat kurang dari dua tahun sangat lapang dada turun dari kursi kepresidenan. Adalah prinsip mulia yang dipegang saat itu dan masih membekas saat ini, yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.

Baca juga : Ramadan; Menolak Provokasi, Merajut Harmoni

Bahkan kemanusiaan menjadi prioritas utama tidak hanya dalam Islam saja. Hampir semua agama selalu mengedepankan nilai kemanusiaan di atas semua nilai,  karena pada hakikatnya agama-agama di dunia ini berlandaskan pada satu kunci pokok, yakni iman. Hanya saja definisi iman berbeda-beda pada masing-masing agama.

Dalam teologi Islam, iman ditemukan pada ajaran dasarnya yang disebut ushuluddin. Sebagai dasar yang paling mendasar, sudah seharusnya iman bersifat stabil. Namun pada kenyataannya, iman adalah sesuatu yang fluktuatif, bisa berkurang dan bertambah sesuai kondisi orangnya. Iman akan bertambah karena taat  kepada Allah dan berkurang disebabkan maksiat kepada-Nya.

Bulan Ramadan adalah moment yang sangat tepat untuk menyegarkan kembali iman yang kian hari kian loyo dan redup, karena ia bak lakasana mahkotanya bulan-bulan yang ada. Di situ telah disediakan beribu-ribu pengampunan Tuhan beserta kemurahan-Nya. Oleh sebab itu, banyak orang yang memperlakukan bulan ini sangat istimewa dibanding bulan-bulan lainnya karena mereka memang tidak ingin merugi soal waktu.

Puasa sebulan penuh dengan dipagari berbagai aturan bukanlah amaliyah tanpa suatu alasan. Ada makna fiososfi mendalam dibalik larangan makan dan minum dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Dengan puasa, seseorang dilatih untuk menjadi pribadi sederhana dan menerima apa adanya.

Di samping itu, puasa juga melatih seseorang melemahkan nafsu dibalik menahan lapar dan dahaga. Ketidakberdayaan seseorang ketika menahan lapar dan dahaga itulah diharapkan dapat meredupakan bermacam-macam nafsu yang mengekang.  Dengan demikian, wajar jika puasa diatur sedemikian rupa oleh syariat.  Tidak boleh menggunjing, mengumpat ataupun hal-hal yang dapat memicu kebencian.

Semakin sangat jelas bukan, jika esensi utama dari disyariatkannya puasa adalah melatih seseorang untuk mengendalikan nafsu, baik itu nafsu syahwat, amarah, maupun kebencian. Alangkah meruginya orang yang hanya sekedar merasakan lapar dan dahaga tanpa bisa memetik dan menikmati hikmah dibalik amaliyah atau perkerjaan yang sedang dilakukannya.

Facebook Comments