Mencegah Intoleransi dengan Permainan Tradisional

Mencegah Intoleransi dengan Permainan Tradisional

- in Suara Kita
1134
0
Mencegah Intoleransi dengan Permainan Tradisional

Bermula dari masa kampanye pilpres 2014, Indonesia dirasa telah dilanda intoleransi yang cukup serius. Fitnah politik yang banyak mengatasnamakan isu agama telah memonopoli kebenaran dengan mengesampingkan pesan kedamaian, akal-budi, dan toleransi yang banyak diajarkan oleh semua agama yang ada di Indonesia.

Ujaran kebencian banyak berseliweran di media sosial. Mirisnya, bukan hanya di kalangan awam, tetapi juga di kalangan terdidik. Bahkan bukan hanya orang dewasa saja yang menjadi penikmatnya, namun juga banyak dari kalangan anak-anak yang belum dan tidak mengerti hal persoalan dewasa malah sengaja dicekoki paham-paham kebencian.

Tindakan intoleransi yang kini merambah negeri menyadarkan kita bahwa nilai kebangsaan yang tertanam di jiwa bangsa Indonesia tak sekokoh dulu. Dahulu karena persatuan yang mengeola perbedaan, para pahlawan Indonesia mampu menang melawan penjajah. Karena Indonesia dikenal dengan Negara multikultural yang memiliki banyak suku, budaya dan agama.

Persoalan hari ini adalah bagaimana mewariskan persatuan dalam perbedaan bagi generasi saat ini. Jika intoleransi lebih mendominasi sudah dapat dipastikan Indonesia akan terpecah belah. Karena itu pentingnya penanaman sikap toleransi kepada anak perlu di pupuk kembali. Anak adalah aset dan investasi besar bagi bangsa ini di masa depan.

Indonesia tidak hanya kaya dengan keragaman saja, Indonesia juga di kenal akan kekayaan permainan tradisional yang dimiliki oleh tiap daerahnya. Namun sayangnya kini permainan tradisional sudah banyak digerus oleh perkembangan teknologi dan anak-anak lebih banyak memilih permainan digital yang justru memunculkan efek negatif bagkan menggerus budaya lokal.

Penggunaan gadget pada anak justru akan menimbulkan masalah, selain berkurangnya sistem motorik anak, banyak menggunakan gadget juga mampu merusak mata. Selain itu kurangnya pantauan orang tua, anak bisa dengan mudah mengupload berita-berita yang berisi tentang propaganda yang mampu memecah belah bangsa, bahkan karena tidak tahu dampak yang ditimbulkan, anak akan dapat dengan mudah mengupload informasi pribadi.

Kecanggihan teknologi memang tidak bisa dibendung. Namun, penanaman nilai moral juga tidak boleh kalah. Menanamkan kembali permainan tradisional kepada anak merupakan salah satu media menciptakan nilai dan norma yang adaptable dengan kultur bangsa.

Banyak permainan tradisional yang mampu menangkal sikap intoleransi dan juga mampu menumbuhkan jiwa social, kerjasama dan mereka akan lebih menghargai perbedaan yang ada pada teman sepermaianan mereka. Adapun bonus tambahan yang didapat dari permainan tradisional yakni dapat meningkatkan kealitas kesehatan fisik maupun mental sang anak.

Permainan tradisional akan mampu meningkatkan gerak motorik anak yang nantinya akan mampu menstimulus pertumbuhan otot dan otak menjadi lebih baik. Dengan seimbangnya otot dan otak akan mampu mendorong untuk meningkatkan kecerdasan anak dalam cara berpikirnya. Selain itu permainan tradisional juga mampu meningkatkan interaksi sosial yang akan membuat anak mampu berkomunikasi dengan baik, tertanamnya sikap saling menghargai, dan juga sportivitas akan mampu membuat anak mengendalikan emosinya dan juga rasa empati antar sesame.

Dengan banyaknya nilai positif yang ada pada permainan tradisional seharusnya para orang tua maupun tenaga pendidik mampu menanamkan kembali permainan tradisional secara langsung supaya anak biasa mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut. Niilai pendidikan yang terkandung dalam permainan tradisional kini menjadi tidak mampu berperan dalam pembentukan karakter dan moral anak bangsa akibat kurang dilestarikan.

Dunia pendidikan berkewajiban mentransformasikan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan anak tradisional melalui serangkaian aktivitas pendidikan. Melalui permainan tradisional, anak akan belajar mencintai alam dan meningkatkan nilai spiritual kepada Tuhan melalui sikap moral dan juga nilai nilai yang terkandung di dalam agama yang telah diajarkan.

Facebook Comments