Mendesain Sistem Pengasuhan Anak yang Steril dari Virus Radikalisme

Mendesain Sistem Pengasuhan Anak yang Steril dari Virus Radikalisme

- in Suara Kita
148
0
Mendesain Sistem Pengasuhan Anak yang Steril dari Virus Radikalisme

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Tahun ini HAN mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Peringatan HAN ialah momentum membangun kesadaran publik tentang pentingnya melindungi anak dari segala potensi buruk yang mengganggu tumbuh-kembangnya.

Dalam ilmu kepengasuhan, pertumbuhan anak terbagi atas dua macam, yakni aspek fisik dan psikis. Perkembangan fisik meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan yang sesuai dengan usia anak. Di titik ini, kita perlu memperhatikan kesehatan dan kecukupan gizi yang menghindarkan anak dari gagal tumbuh, dan stunting.

Berbeda dengan aspek fisik, perkembangan psikis cenderung lebih kompleks. Tersebab, perkembangan psikis mencakup soal kecerdasan intelektual, sosial, serta emosional. Orang tua memiliki tanggung jawab mengasuh anak agar menjadi pribadi yang cerdas, kritis, dan tangguh dalam menghadapi kehidupan. Kian dinamis zaman, kian kompleks tantangan yang dihadapi orang tua mengasuh anaknya.

Di era sekarang, tantangan mengasuh anak tidak hanya datang dari derasnya arus budaya asing yang bertentangan dengan nilai masyarakat kita. Namun, kita juga menghadapi penyebaran virus radikalisme keagamaan yang datang dari segala arah. Mulai dari lembaga pendidikan (sekolah dan pesantren), hingga media sosial yang nisbi sulit dikontrol.

Anak-anak Rentan Terpapar Radikalisme

Anak-anak merupakan kelompok paling rentan terpapar radikalisme. Keterbatasan anak mencerna informasi dan pengetahuan baru membuat mereka mudah terjerumus ke dalam pemikiran yang menyimpang. Maka, kita harus membangun semacam sistem kepengasuhan anak yang efektif dan mampu memproteksi anak dari paparan virus radikalisme.

Hal pertama yang wajib dilakukan orang tua ialah membangun budaya pengasuhan yang berorientasi pada pembentukan pola pikir yang rasional dan kritis. Virus radikalisme pertama kali menyerang pola pikir lantas mengubah perilaku manusia. Jadi, melindungi anak-anak dari virus radikalisme mustahil dilakukan tanpa membangun pola pikir yang tangguh dalam melawan segala pemikiran yang menyimpang.

Konkretnya, orang tua harus mendesain pola komunikasi terbuka dengan anak. Nilai kemasyarakatan, kebangsaan, dan keagamaan harus ditanamkan sejak dini melalui dialog dan diskusi. Metode komunikasi terbuka berbasis pada dialog dan diskusi ini akan membentuk paradigma berpikir anak yang rasional dan kritis. Alhasil, anak-anak terbiasa untuk tidak menerima informasi atau pengetahuan secara mentah-mentah melainkan akan menganalisanya terlebih dahulu.

Langkah kedua ialah para orang tua wajib memastikan anak-anak berada di ekosistem yang plural namun inklusif. Artinya, anak harus terbiasa hidup berdampingan dengan entitas yang berbeda dengan tetap menjunjung prinsip inklusivisme dan pluralisme. Sejumlah riset menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang multikultur, multiras,multireligi, cenderung memiliki tingkat inklusivitas lebih tinggi ketimbang anak yang dibesarkan di lingkungan hogomen.

Sinergi Bersama Membentuk Anak-anak Tangguh dari Radikalisme

Sikap menghargai perbedaan tidak bisa diajarkan melalui teori, alih-alih praktik langsung. Disinilah pentingnya kita mengembangkan lembaga pendidikan yang berbasis pada prinsip inklusivitas alias memberikan ruang setara bagi kelompok minoritas. Anak-anak yang terbiasa hidup di tengah keragamaan tentunya tidak akan mudah didoktrin dengan nalar konservatisme, eksklusivisme, apalagi radikalisme.

Mendesain sistem kepengasuhan anak yang steril dari radikalisme tentu tidak bisa jika hanya dibebankan pada keluarga atau orang tua saja. Yang namanya sistem tentu perlu dibangun di atas sinergi antar-kelompok. Mulai dari keluarga sebagai unit terkecil, masyarakat sebagai sebuah ekosistem, dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Reality show di Netflix berjudul “Old Enough!” menggambarkan secara apik bahwa kepengasuhan ialah urusan publik.

Di reality show itu digambarkan anak-anak Jepang usia 2-4 tahun diberi tugas sederhana di luar rumah.. Inti reality show itu sebenarnya ingin menggambarkan pentingnya kemandirian anak. Menariknya, di reality show itu juga digambarkan bagaimana orang-orang di tempat umum membantu anak-anak menyelesaikan tugasnya.

Reality show itu memberikan pelajaran penting ihwal pentingnya sinergi antar-pihak, yakni keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun anak yang tangguh. Termasuk tangguh dari virus radikalisme. Keluarga, sebagai lingkaran inti anak-anak harus memberikan fondasi berpikir rasional-kritis yang kuat. Ini penting sebagai benteng awal menangkal virus radikalisme. Selain itu, masyarakat juga harus menjadi semacam supporting system yang mendukung upaya membentuk anak-anak yang tangguh dari radikalisme.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya ialah pemerintah wajib menyusun regulasi atau kebijakan yang secara spesifik mendukung upaya melindungi anak-anak dari virus radikalisme. Mulai dari menyusun kurikulum pendidikan bebas radikalisme, sampai membuat undang-undang yang melindungi anak dari paparan ideologi radikal.

Facebook Comments