Mendongengkan Budaya Anti-Radikalisme

Mendongengkan Budaya Anti-Radikalisme

- in Suara Kita
181
1
Mendongengkan Budaya Anti-Radikalisme

Nusantara kaya akan khasanah budaya. Salah satunya adalah dongeng. Dongeng memiliki nilai kearifan lokal yang mampu berimplikasi positif hingga kehidupan global. Dongeng umumnya memiliki sasaran anak-anak. Dengan demikian transformasi nilai di dalamnya akan lebih efektif karena dimulai sejak dini.

Eksistensi dongeng kini menghadapi ancaman seiring dengan kehadiran teknologi dan perkembangan zaman. Spirit membumikan kembali dongeng mesti digerakkan sebagai budaya nasional. Sisipan nilai perdamaian, deradikalisasi dan anti-radikalisme penting dilakukan dalam revitalisasi dongeng nusantara.

Budaya Dongeng   

Belum ada data yang pasti dari mana dan sejak kapan keberadaan dongeng (fairy tales) di dunia ini. Tjahjono (1988) mendefinisikan dongengn sebagai cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar-benar terjadi, berfungsi sebagai hiburan dan berisi pelajaran moral, bahkan sindiran. Dongeng merupakan cerita khayal semata yang sulit dipercaya kebenarannya. Ceritanya berisikan hal-hal yang ajaib, aneh, dan tidak masuk akal (Danandjaja, 1994).

Jenis dongeng sendiri menurut Anti Aarne dan Stith Thompson (1964) ada empat golongan, yaitu dongeng binatang, dongeng biasa, dongeng lelucon atau anekdot, dan dongeng berumus. Dongeng binatang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata, ikan, dan serangga. Binatang-binatang tersebut dikisahkan dapat berbicara seperti manusia. Contohnya dongeng tentang Si Kancil dan Buaya. Dongeng biasa ditokohi oleh manusia dan biasanya berupa kisah duka seseorang. Contohnya Ande-Ande Lumut, Bawang Putih Bawang Merah, dan lainnya.

Dongeng lelucon dan anekdot dapat menimbulkan rasa menggelikan hati dan tawa bagi yang mendengarkan maupun yang menceritakannya. Dongeng berumus merupakan dongeng yang strukturnya terdiri dari pengulangan.

Baca Juga : ‘Memayu Hayuning Bawana’ sebagai Strategi Menangkal Hoaks

Banyak kalangan yang memaparkan bahwa dongeng kaya akan manfaat bagi anak. Maryati dan Agam (2014) menerangkan bahwa dongeng mampu mengembangkan daya pikir dan imajinasi anak, mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa anak, mengembangkan daya sosialisasi anak, serta sebagai sarana komunikasi anak dengan orang tuanya.

Strategi Revitalisasi

Eksistensi dongeng menghadapi tantangan dalam dunia yang semakin modern ini. Media dan teknologi berkembang pesat dan semakin canggih, sehingga lebih menarik bagi anak-anak. Kesibukan orang tua dalam dunia kerja dan sosial juga banyak menyita waktu dan mengurangi kesempatan untuk memberikan dongeng  kepada anaknya. Tantangan ini mesti dijawab  dengan revitalisasi dongeng itu sendiri mengikuti tuntutan dan dinamika zaman.

Pertama, melakukan inovasi dalam konsep, media, dan aplikasi dongeng. Cerita yang suguhkan dalam dongeng dapat diperkaya dan diciptakan sesuai dengan imajinasi anak kekinian. Media dan teknologi informasi penting dioptimalkan bagi pengembangan dongeng. Misalnya mengkombinasikan dongeng dengan animasi yang menarik, berbentuk komik, atau menggunakan aplikasi suara dan gambar yang dapat diakses dengan internet atau handphone, sehingga lebih simpel.

Kedua, orang tua dan pendidik penting menyeleksi dongeng-dongeng atau cerita yang sesuai untuk anak. Kebijaksanaan penyampai dongeng dibutuhkan agar pesan positif sampai kepada anak. Jika perlu, orang  tua dan pendidik dapat kreatif menyusun alur dongeng sendiri dengan bahan dan kondisi sederhana di lingkungan sekitar anak.

Ketiga, dongeng konvensional berbasis cerita rakyat penting dilestarikan. Kuncinya dengan penyesuaian terkait konten yang sesuai umur anak dan perkembangan zaman dengan sedikit modifikasi. Pemanfaatan media penting dilakukan agar lebih menarik anak.

Keempat, pihak terkait mulai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lembaga budaya daerah, dan lainnya penting melakukan inventarisasi dongeng nusantara. Koleksi tersebut penting dibukukan dan diakses publik. Tujuannya agar dapat dimanfaatkan dengan memperkaya khasanah dongeng agar tidak monoton dari daerahnya saja. Hal ini lain untuk memproteksi budaya nusantara dari klain negara lain.

Komitmen pemerintah, pendidik, orang tua, dan pihak lain dibutuhkan untuk merevitalisasi dan membudayakan dongeng. Indonesia membutuhkan banyak penggerak demi mewujudkannya. Jika hal itu tidak terlaksana, maka akan menjadi bom waktu bagi punahnya dunia dongeng di negeri ini.

Facebook Comments