Menegakkan Iman yang Membawa Rasa Aman!

Menegakkan Iman yang Membawa Rasa Aman!

- in Suara Kita
925
0
Menegakkan Iman yang Membawa Rasa Aman!

Jika kita amati, lahirnya sikap intoleransi terhadap mereka yang berbeda, sejatinya selalu berkorelasi dengan adanya “truth claim” kebenaran Iman dalam agama yang condong eksklusif dan apatis. Lalu diekspresikan ke ruang-ruang publik dengan motif “menegakkan iman”. Lalu memunculkan semacam ungkapan kafir, sesat dan wajib dibasmi. Hal demikian berlaku bagi siapa saja yang dianggap tidak sesuai dengan iman yang dianutnya.

Tentu, persoalan kita, apakah hakikat dari kebenaran Iman itu harus ditegakkan di atas tindakan yang anarkis, zhalim dan berbuat semena-mena terhadap mereka yang berbeda iman dengan kita? Bukankah buah dari iman akan membawa rasa aman? Sebagaimana, basis keimanan dalam Islam memiliki titik temu kepada (rahmatan lil alamin). 

Jadi, di sinilah pentingnya menegakkan Iman yang membawa rasa aman. Sebagaimana menurut Jalaludin Rumi, bahwa Iman itu terletak di hati dan puncaknya adalah (cinta). Bagi siapa-pun yang merasa beriman dan ingin menegakkan iman itu sendiri, maka (gunakanlah hati dan rasa cinta) itu untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Niscaya akan membawa dampak positif bagi kita dan sikap sosial kita nantinya.

Karena, sungguh tidak dapat dibenarkan sedikit-pun. Bagi (siapa saja) yang melakukan tindakan-tindakan yang intolerant, lalu mengatasnamakan “memperjuangkan iman” di dalamnya. Karena, sangat tidak mungkin bagi orang yang imannya benar, dia masih tega melakukan diskriminasi, menghancurkan rumah ibadah, bertindak zhalim dan melakukan peminggiran terhadap mereka yang berbeda.

Maka, di sinilah pentingnya bagi kita untuk mengikis segala sikap intoleransi dalam diri kita. Dengan membangun internalisasi iman yang rasa aman. Lalu, cobalah kita teladani Nabi Muhammad SAW dalam bersikap dan bertindak terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

Bagaimana, Nabi Muhammad SAW tidak serta-merta mendiskriminasi, menzhalimi dan bertindak arogan terhadap orang yang berbeda itu. Sebagaimana dalam prinsip-nya, Nabi Muhammad SAW justru terbuka, berbuat baik, memberikan hak beribadah terhadap mereka yang berbeda, berbuat adil dan menjamin keselamatan mereka yang berbeda iman dengan beliau. Semua itu dilakukan atas dasar akhlak beliau, serta perintah atau risalah keislaman yang merahmati dan dikuatkan dengan kualitas keimanan beliau yang selalu membawa rasa aman. 

Cobalah kita renungkan itu dan mari saling membenah diri. Bagaimana kita perlu mengikis segala sikap intolerant dalam diri kita. Dengan, internalisasi iman yang benar. Yaitu iman yang benar-benar menghunjam dalam hati, di mana hati kita akan hidup dan meniscayakan (cahaya Ilahi) yang selalu menebar kebaikan, kemanfaatan dan kemaslahatan.

Karena, sangat tidak bisa dibenarkan jika porsi keimanan justru selalu dijadikan alasan untuk berbuat zhalim terhadap orang yang berbeda keyakinan. Karena, iman bukan sesuatu yang mudah kita manfaatkan untuk kepentingan politik. Jadi, bagi siapa-pun yang bertindak semena-mena kepada mereka yang berbeda keyakinan, lalu mengatasnamakan iman di dalamnya. Maka, hal demikian sebetulnya bukan keimanan yang benar. Karena iman yang benar tidak pernah meniscayakan umat-Nya untuk melakukan keburukan-keburukan.

Memang, Iman merupakan ajaran inti dari agama yang paling fundamental. Tetapi, Iman itu dibangun dalam hati kita dan dikuatkan oleh perbuatan baik kita. Karena, persoalan (berbeda iman), Islam meniscayakan petunjuk “lakum dinukum waliyadin”. Artinya apa? kita tidak boleh mengganggu apalagi merusak rumah ibadah mereka yang berbeda dengan kita.            

Jadi, marilah kita jadikan bangsa ini yang lebih harmonis dan saling menghargai satu sama lain. Dengan, menegakkan iman yang membawa rasa aman. Sebagaimana, iman letaknya di hati dan puncaknya adalah cinta. Maka, marilah kita optimalkan hati nurani kita dan rasa cinta kita untuk membangun internalisasi keimanan yang rasa aman dan memanusiakan manusia lain.

Facebook Comments