Meneguhkan Persaudaraan dalam Bingkai Keislaman dan Keindonesiaan

Meneguhkan Persaudaraan dalam Bingkai Keislaman dan Keindonesiaan

- in Suara Kita
691
0
Meneguhkan Persaudaraan dalam Bingkai Keislaman dan Keindonesiaan

Sebagai negara multikultural dan multireligi, Indonesia termasuk negara yang rawan konflik. Seturut survei lembaga Lazuardi Biru pada tahun 2019 lalu, tingkat kerawanan konflik di Indonesia masih berada di kisaran angka 43 persen. Masih jauh dari zona aman yakni di angka 30-33 persen. Tingkat kerawanan itu kian mengkhawatirkan ketika sentimen fanatisme keagamaan yang berkelindan dengan politik identitas menguat belakangan ini.

Menguatnya fanatisme keagamaan dan politik identitas telah menyumbang andil besar pada meningkatnya kasus diskriminasi, intoleransi dan persekusi atas naman. Ada kecenderungan mengkhawatirkan bahwa praktik keberagamaan kita belakangan ini kian mengarah pada nalar sektarian bahkan radikal. Menurut Franz Magnis Suseno, fenomena sektarianisme, intoleransi dan radikalisme agama itu muncul lantaran kita masih terjebak pada pola toleransi pasif.

Gejala toleransi pasif tampak pada sikap masyarakat yang sebenarnya memiliki sikap toleran, namun justru kerap abai dan cuek pada aksi-aksi intoleran yang terjadi di sekelilingnya. Gejala toleransi pasif juga mengemuka pada sikap masyarakat yang memperlakukan persoalan intoleransi di lingkungannya sebagai persoalan internal, bukan persoalan publik. Pada akhirnya, fenomena intoleransi cenderung dianggap biasa, dinormalisasi dan dianggap wajar.

Normalisasi intoleransi mewujud pada hilangnya empati dan simpati pada kelompok minoritas yang kerap didiskriminasi bahkan dipersekusi lantaran identitas agamanya. Hal ini tampak pada sikap masyarakat yang kadung apatis pada tindakan intoleran terhadap kaum Ahmadiyah, Syiah dan kelompok minoritas lainnya. Toleransi pasif ini tidak relevan diterapkan di Indonesia yang multkikultur dan multireligi.

Membangun Toleransi Aktif

Di Indonesia, model toleransi yang relevan untuk mencegah konflik dan perpecahan ialah model toleransi aktif. Yakni toleransi yang mensyaratkan komitmen seluruh komponen bangsa untuk tidak hanya saling menghormati, namun juga menjaga satu sama lain. Masing-masing entitas budaya, etnis dan agama memiliki kewajiban moral untuk menjaga satu sama lain dari tindakan diskriminasi, intoleransi dan persekusi.

Model toleransi aktif ini pernah diterapkan Rasulullah melalui Piagam Madinah. Perjanjian yang tertuang dalam Piagam Madinah pada dasarnya tidak hanya mengajak seluruh kelompok suku dan agama di Madinah untuk saling menghormati, namun juga menjaga satu sama lain dari ancaman musuh. Maka, jika ada satu kelompok yang terancam oleh musuh, kelompok lain berkewajiban membantu melindunginya. Kehidupan masyarakat Madinah di zaman Rasulullah itu kiranya bisa menjadi inspirasi praktik toleransi aktif.

Dalam konteks Indonesia, konsep toleransi aktif itu kiranya bisa diimplementasikan ke dalam implementasi triologi persaudaran (ukhuwah), mulai dari ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah/insaniyah. Trilogi persaudaraan ini merupakan fase perjalanan menciptakan ikatan kebangsaan yang solid, steril dari intoleransi, sektarianisme dan radikalisme.

Menguatkan Trilogi Ukhuwah

Fase pertama, ukhuwah Islamiyah yakni persaudaraan atau kerukunan di internal sesama muslim. Perbedaan mazbah, aliran dan fiqih dalam dunia Islam ialah fakta yang tidak bisa dielakkan (sunnatullah). Keragaman itu merupakan konsekuensi dari beragamnya cara pandang dan metode penafsiran atas teks keagamaan yang berkembang dalam tradisi kesarajaan Islam selama ini. Dalam konteks Indonesia, perbedaan mazhab, aliran, fiqih dan organisasi keagamaan sebenarnya

Fase kedua ialah ukhuwah wathaniyah yakni kerukunan antar-komponen bangsa yang berbeda suku, bahasa, etnisitas, warna kulit, afiliasi politik dan identitas lainnya. Membangun kerukunan kebangsaan idealnya bertumpu pada kesadaran bahwa perbedaan identitas bukanlah halangan untuk menumbuhkan persatuan. Meminjam gagasan Amartya Sen, kita harus melampaui identitas primordial dan sektarian untuk membangun identitas nasional. Persaudaraan kebangsaan yang solid itu niscaya terbangun manakala setiap komponen bangsa mau menanggalkan ego-primordial, ego-sektarian dan ego-sektroralnya.

Fase ketiga ialah ukhuwah basyariyah alias persaudaraan kemanusiaan. Inilah puncak tertinggi dalam konsep persaudaraan. Yakni ketika individu atau kelompok bisa melampui identitas keagamaan dan kebangsaannya dan masuk ke dalam kesadaran hakiki bahwa semua manusia pada dasarnya bersaudara. Di fase ini, segala perbedaan identitas (agama, bangsa, suku, etnis, warna kulit, dan sejenisnya) hanya akan dianggap sebagai sebuah simbol. Kesadaran ihwal hakikat kemanusiaan inilah yang sedianya menjadi fondasi penting meperkuat persaudaraan dalam bingkai identitas keislaman dan keindonesiaan.

Facebook Comments