Meneladani Konsep Persaudaraan Ala Gus Dur

Meneladani Konsep Persaudaraan Ala Gus Dur

- in Suara Kita
185
1
Meneladani Konsep Persaudaraan Ala Gus Dur

Persaudaraan bersumber dari prinsip-prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, dan semangat menggerakkan kebaikan. Persaudaraan menjadi dasar untuk memajukan peradaban. Sepanjang hidupnya, Gus Dur memberi teladan dan menekankan pentingnya menjunjung tinggi persaudaraan dalam masyarakat, bahkan terhadap yang berbeda keyakinan dan pemikiran.

Persaudaraan memang selalu menjadi pilar utama untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Dengan persaudaraan ini seseorang akan menemukan sebuah kebersamaan yang mengakar, pada kebahagiaan bersama. Seperti yang terdapat dalam al-Quran surat al-Hujurat, ayat ke 10, “Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”.

Kemudian surat ini ditegaskan dalam Hadits Riwayat Muslim, dalam hadits itu mengatakan, “perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila satu organ tubuh merasa sakit, akan menjalar kepada semua organ tubuh, yaitu tidak dapat tidur dan merasa demam”. Inilah yang disebut sebagai ikatan persaudaraan, di mana ketika yang satu merasakan sebuah sakit ia juga pasti akan ikut merasakannya. Begitu juga dengan sebaliknya, ketika yang satu merasakan kebahagiaan, maka yang lain juga akan merasakan kebahagiaan. Karena sejatinya manusia memiliki rasa kasih sayang kepada seluruh umat manusia.

Itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa Gus Dur tinggi nilai persaudaraan. Karena dengan hal ini seseorang akan menemukan kemajuan sebuah bangsa, hingga mampu memajukan sebuah peradaban. Sehingga, perdamaian akan selalu tertera di dalamnya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh pepatah kuno “ Persaudaraan adalah pilar untuk menjunjung tinggi kualitas kemanusiaan seseorang”. Seseorang akan menemukan cinta dan kasih sayang, apabila ia juga menebar kasih sayang tersebut.

Seperti yang disabdakan Rasulullah; “Demi Allah yang menguasai diriku!, seseorang di antara kalian tidak dianggap beriman kecuali jika dia menyayangi saudaranya sesama mukmin sama seperti dia menyayangi dirinya sendiri” (HR. Bukhari Muslim).

Baca juga : Jihad Literasi untuk Kedaulatan NKRI

Dalam buku Gus Dur Santri Par Excellence, juga menguatkan, bahwa mengembangkan dan menghidupkan kembali pemikiran Gus Dur sangat dianjurkan. Selain hal ini sangat berguna bagi generasi muda, pemikiran ini juga menjadi tonggak untuk bertoleransi. Seperti yang terdapat dalam buku Islam Anda dan Islam Kita. Gus Dur menegaskan bahwa umat Islam Indonesia harus mengembangkan pandangan keislaman yang berorientasi kebangsaan. Salah satu pesan yang kuat dalam al-Quran, bahwa Muhammad Saw diutus Tuhan untuk membangun persaudaraan bagi seluruh umatnya. (QS. al-Anbiya [21];107).

Namun semua ini kembali pada diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjadikan pemikiran Gus Dur adalah sebuah kebenaran. Karena sejatinya ketika kita memandang berbagai madzhab itu benar, maka kita tidak akan sulit fiqh menjaga persaudaraan. Sejatinya persaudaraan itu lahir dari diri kita sendiri. Bagaimana menjadi pribadi yang bisa menghargai dan toleransi terhadap orang lain. Seperti yang terdapat dalam buku The wisdom of Gus Dur, yang mengatakan, perbedaan itu fitrah. Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan yang universal. Kemudian menegaskan dengan mengatakan, bahwa manusia memikul beban untuk memperjuangkan kebenaran Ilahi, tetapi pada saat yang sama kita juga harus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Inilah salah satu gambaran kehidupan yang harus direnungkan bersama. Sudahkah kita menjadi orang yang demikian, menjadi orang yang bisa menempatkan perbedaan adalah suatu keindahan, apabila disikapi dengan kebaikan. Karena sejatinya agama dilahirkan untuk sebuah kebaikan. Dan ikatan sosial yang kuat akan menuntut kita untuk mengembangkan solidaritas.

Pada intinya manusia itu adalah saudara, yaitu saudara seiman, saudara satu Indonesia, dan saudara sebagai makhluk manusia yang lahir dari seorang ibu dan ayah saling kenal, belajar dan saling membantu. Ketika kita masih bisa mengingat pelajaran sejarah, entah itu SD, SMP, SMA, bahkan ketika masih kuliah. Pasti seseorang ditawarkan bahwa Indonesia merdeka itu dikarenakan kita bersatu menjadi saudara, yang tanpa memandang agamamu apa, sukumu apa, melainkan kita bersatu untuk memperkokoh persaudaraan dan merdeka untuk sebuah kebebasan.

Gus Dur pernah berkata; “Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti dan saling menghidupi. Sebab, persaudaraan kemanusiaan merupakan puncak dari peradaban yang akan memperkokoh persatuan kebangsaan dan persaudaraan keislaman”. Kemudian Gus Dur menegaskan dengan sebuah perkataan, “Peran agama yang sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta, bahwa dirinya merupakan bagian dari anggota umat manusia, dan bagian dari alam semesta.

Inilah yang seharusnya menjadi pembelajaran bersama, bahwa agama yang kita anut bukan sekedar keyakinan untuk diri sendiri. Tetapi, kita harus melihat sekitar, masih banyak orang yang sangat membutuhkan dirimu. Meskipun itu hanya sekedar nasihat semata.

Penting kiranya untuk menjadikan konsep persaudaraan yang diusung Gus Dur ini, menjadi nilai kemanusiaan. Di mana kita sebagai manusia harus saling menjaga, melindungi, dan berbagi dengan sesama manusia. Sebagaimana yang sudah tersirat dalam Pancasila. Sila-3 “Persatuan Indonesia”. Persatuan ini akan tercipta, apabila persaudaraan menjadi yang terdepan. Di mana nilai kemanusiaan akan terjaga dengan baik, apabila komunikasi dibangun dengan baik pula.

Facebook Comments