Menemukan Persaudaraan dalam Sedekah

Menemukan Persaudaraan dalam Sedekah

- in Narasi
455
28

 Sebentar lagi, Ramadhan akan segera berlalu. Sebuah perjalanan spiritualitas yang menggembleng diri. Berpuasa menahan rasa haus dan lapar setiap hari. Dalam maksud, agar kita bisa menyadari bahwa dalam hidup, kita pasti membutuhkan orang lain di sekeliling kita. Sebagaimana, rasa empati kita terhadap sesama dan rasa menghormati terhadap mereka yang berbeda keyakinan dengan kita. Bahwa, semua umat manusia adalah saudara kita.

 Jadi, di sisa-sisa seminggu terakhir Ramadhan ini kita harus memperbanyak sedekah. Utamanya, kita memiliki kewajiban untuk membayar zakat fitrah. Sebab, di balik sedekah yang kita keluarkan dan diberikan kepada orang lain, itu tidak hanya tentang pijakan spiritualitas semata. Sebab, sedekah yang kita keluarkan, seyogianya akan semakin menerangi jalan etis untuk bisa memanusiakan-manusia lain.

Dalam arti pemahaman, kita akan menemukan toleransi dalam sedekah yang kita keluarkan itu. Sebab, segala sesuatu yang kita keluarkan, baik barang atau-pun uang. Lalu diberikan kepada orang lain, di situ pasti ada semacam kesadaran diri, di mana interaksi saling memberi akan membuat kita lebih mengerti bagaimana cara menyikapi dan menghormati orang lain.

 Nabi Muhammad SAW adalah sosok Nabi yang terkenal akan (kemurahan hati). Sehingga, kedermawanan Beliau yang paripurna itu, merambat ke dalam bentang tatanan sosial-kemanusiaan. Karena, iktikad sedekah atau kemurahan hati Nabi yang begitu senang menolong, membantu dan memberikan “hampir” semua hartanya tanpa tersisa untuk orang lain.

Pun, kedermawanan Beliau atau basis kebaikan sedekah yang dilakukan sejatinya tidak hanya dirasakan oleh kalangan umat Islam saja. Sebab, Nabi Muhammad SAW yang diutus menebar rahmat bagi alam semesta. Tentunya tidak hanya mengerucut pada identitas sempit, tetapi melebar ke dalam berbagai identitas yang ada. Karena, semua itu adalah demi menjaga kemanusiaan.

Titik Temu Persaudaraan-Kemanusiaan dalam Sedekah

Maka, di sinilah titik temu persaudaraan-kemanusiaan dalam sedekah itu. Karena, Nabi yang begitu dermawan dan senang bersedekah, itu sejatinya tidak hanya memperlakukan sangat baik terhadap se-agama saja. Tetapi, di luar itu, Nabi begitu konsisten membantu dan bahkan sangat menolong terhadap mereka yang berbeda keyakinan dengan Beliau. Tentunya, ini tanpa intimidasi atau syarat apa-pun yang memaksakan untuk seseorang memeluk agama Beliau.

Cobalah kita pahami, bagaimana ketika Nabi Muhammad SAW memiliki kebiasaan setiap pagi memberi makan orang buta Yahudi. Dengan sabarnya Beliau menyuapi orang yang setiap hari memaki dan membenci Beliau. Namun, Beliau hanya tersenyum dan semakin penuh kasih-sayang menyuapi orang tau buta dari Yahudi itu.

Bahkan, Beliau pernah menjenguk orang yang selalu meludahi dan melemparkan kotoran terhadap Beliau saat sedang berjalan. Sebagaimana, ketika orang tersebut sakit, Nabi datang membawa buah-buahan segar dan kurma. Untuk diberikan kepadanya tanpa ada sedikit-pun kebencian apalagi membalas perbuatan yang dilakukan oleh orang tersebut.

 Dari sini kita bisa memahami betul. Bahwa, segala bentuk sedekah itu seharusnya menjadi wasilah terbentuknya toleransi atau keharmonisan sosial di dalamnya. Sebab, perbuatan baik yang kita lakukan dalam bentuk sedekah atau berbagi kebaikan itu, point utama adalah membangun sebuah hubungan sosial yang mapan dan di situlah harus terbangun semacam keharmonisan. Jadi, basis dari sedekah itu tidak “nyangkut” pada ranah spiritualitas semata.

-Sebab, ada ujung di mana sedekah yang membentang pasti ada kemurahan hati dan keluwesan diri yang paripurna. Jadi, di sinilah kita bisa menemukan kebenaran toleransi melalui sedekah yang kita lakukan. Karena, sekali lagi kita harus paham. Bahwa, sedekah selalu mengajarkan bahwa kita dalam hidup itu pasti tidak terlepas dari orang lain. Termasuk fungsi toleransi, agar menjaga tatanan sosial-kemanusiaan supaya tidak berpecah-belah. 

Facebook Comments