Menerjemahkan Semangat Berjamaah di Bulan Suci untuk I’tikad Rekonsiliasi

Menerjemahkan Semangat Berjamaah di Bulan Suci untuk I’tikad Rekonsiliasi

- in Suara Kita
308
0
Menerjemahkan Semangat Berjamaah di Bulan Suci untuk I’tikad Rekonsiliasi

Pemilu 17 April 2019 masih meyisakan berbagai persaingan antar calon dan para pendukung. Imbas dari persaingan politik banyak berakibat perseteruan dimana-mana. Perseteruan yang terjadi hanya soal sepele saja sebenarnya. Misal, karena berbeda partai politik yang didukung, berbeda calon yang didukung akibatnya sama tetangga hubungan jadi rengang, bahkan sama keluarga saja bisa rengang dari berbeda pilihan tadi. Bulan ini sudah memasuki bulan puasa, jadi momen ini penting menjadikan ijtihad rekonsiliasi (usaha sunghuh-sungguh memulihkan persahabatan) melalui upaya semangat berjamaah, sembari menunggu pengumuman hasil pemilu pada 22 Mei 2019.

Bulan Suci Ramadhan menjadi momen semangat-semangatnya Umat Muslim untuk berjamaah. Berjamaah disini bukan hanya hal sholat saja tetapi berjamaah dalam majelis ilmu, berjamaah dalam bertadarus Al-Qur’an, tadarus kitab-kitab, sampai berjamaah dalam hal kebaikan. Momen seperti ini menjadi penting untuk melakukan upaya rekonsiliasi umat dari keteganggan proses pemilu yang panjang. Proses pemilu yang sudah berjalan jangan sampai membuat tali persaudaraan umat putus. Marilah pelan-pelan menata hati, saling memaafkan supaya bulan suci ini menjadi bermakna.

Ada sebuah ungkapan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya yang artinya, “Tidaklah ada tiga orang dalam perkampungan atau pedalaman tidak ditegakkan pada mereka sholat, kecuali setan akan menguasainya. Berjamaahlah kalian, karena srigala hanya memangsa kambing yang sendirian.” Hadist ini menunjukkan pentingnya umat melakukan berjamaah dalam hal sholat maupun bisa diartikan dalam hal kebaikan lainnya.

Berjamaah dalam berbagai hal itu menjadikan sebuah kekuatan umat. Negara Indonesia apabila masyarakatnya bisa berjamaah maka sulit untuk dipecah belah. Sebab berjamaah itu perlu kerjasama antara imam (pemimpin) dengan makmum supaya apa yang dikerjakan jadi sah atau sempurna. Memajukan bangsa itu perlu kekuatan berjamaah, dimana pemimpin mengayomi rakyat dan rakyat mampu menghormati pemimpin serta mengingatkan para pemimpin yang menyimpang.

Baca juga : Ramadan, Rekonsiliasi dan Pusaran Kebencian Di Media Sosial

Kekuatan dari berjamaah juga diterangkan dalam hadist Bukhori dan Muslim yang artinya, “Sholat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibandingkan sholat sendirian.” Sudah jelas dari hadist ini menunjukkan derajat pahala dalam berjamaah sholat maupun bisa ditafsirkan dalam berjamaah dalam hal kebaikan lainnya.

Sebenarnya dalam berjamaah terdapat poin penting dalam merawat bangsa dan negara. Dimana berjamaah itu terdapat nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang tidak mudah goyah. Memajukan negara itu perlu kekuatan berjamaah, bukan dilakukan sendiri-sendiri. Adanya persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia maka kekuatan bangsa ini menjadi 27 derajat bahkan lebih. Beragamnya suku, agama, ras, bahasa dan luasnya negara kepulauan persatuan menjadi kunci kekuatan Indonesia.

Tumbuhnya Persaudaraan

Hukum sholat berjamaah menurut Jumhur Ulama, sholat berjamaah hukumnya sunnah muakkad, sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal, sholat berjamaah hukumnya wajib. Perbedaan para Ulama tentu meliki alasan dan pertimbangan masing-masing. Marilah dibulan penuh berkah dan ampunan ini menata diri dalam berjamaah. Harapannya dengan berjamaah persaudaraan antar sesama semakin kokoh dan harmonis.

Manfaat dari berjamaah bisa bertemu lima kali dalam sehari sesama muslim. Maka, akan tumbuh kasih sayang diantara sesama muslim. Jika suatu waktu ada saudara kita yang biasa berjamaah kemudian tidak hadir di masjid, maka kita akan bertanya-tanya, ada apa atau mengapa ia tidak berjamaah? Seandainya jawaban yang didapat bahwa beliau sakit, maka kita akan bergegas menjenguk dan mendoakan. Nilai sholat berjamaah ini kalau dilakukan dalam hal kehidupan lainnya tentu dapat menumbuhkan persaudaraan, kasih sayang dan persamaan senasib sepenangungan.

Sholat berjamaah juga mengajarkan persamaan; tidak membedakan antara si miskin dan si kaya, seorang pemimpin atau rakyat umum, atasan atau bawahan, semua berdiri, ruku’, sujud dan tunduk dalam satu barisan untuk taat serta tunduk pada Allah.

Berkembangnya teknologi dan bertebarannya media sosial saat ini tentu mempengaruhi kehidupan tak terkecuali dalam hal beragama. Maka Mantan Rais Aam PBNU yang kini menjadi Calon Presiden KH. Ma’ruf Amin pernah berpesan, “Beragama itu harus melalui guru. NU sudah memberikan panduan keagamaan yang perlu dipegangi. Belajar agama jangan hanya melalui internet. Bisa bahaya. Disinilah pentingnya berjamaah dan berjam’iyyah. Belajar agama itu dari Ulama.”

Ungakapan Kiai Ma’ruf seperti ini, agar masyarakat tidak menerima begitu saja pelajaran agama yang bertebaran di media sosial. Pasalnya, pelajaran agama akan rawan sekali penyimpangannya bila didapat tanpa seorang guru. Marilah kita tingkatkan semangat berjamaah dibulan puasa ini sampai menjadi kebiasan yang baik untuk bulan-bulan berikutnya. Pemilu tahun ini sudah selesai, mari kembali kita menjaga persaudaraan dan semua hasil pemilu nantinya kita sikapi dengan bijak.

Facebook Comments