Mengambil Pelajaran dari Fenomena Pegawai Kimia Farma Terduga Teroris

Mengambil Pelajaran dari Fenomena Pegawai Kimia Farma Terduga Teroris

- in Suara Kita
699
0
Mengambil Pelajaran dari Fenomena Pegawai Kimia Farma Terduga Teroris

Beberapa hari lalu, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri telah melakukan operasi di sejumlah daerah. Di wilayah Bekasi dan Jakarta, Densus 88 berhasil menangkap 4 terduga teroris. Salah satu terduga teroris ditangkap di Bekasi berinisial S adalah pegawai Kimia Farma. Terduga bagian dari kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang merupakan jaringan kelompok teroris nasional.

Fenomena tersebut memberikan gambaran nyata bahwa radikalisme dan terorisme sudah menyasar begitu massif di bidang yang strategi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Para pegawai pemerintahan menjadi sasaran emput gerakan radikalisme dan terorisme sehingga pelan-pelan terungkap betapa sudah banyak pegawai pemerintahan yang terpapar paham radikal dan teroris.

Untuk itu, dalam rangka menyelamatkan masa depan bangsa ini, perlu ada kesadaran dan gerakan serta kesepahaman bersama untuk bahu-membahu memerangi radikalisme dan terorisme yang sudah menyasar (lama) di seluruh bidang penting dalam kehidupan berbangsa dan negara ini.

Apa yang Harus dilakukan Bila Melihat Gejala-gejala Radikalisme-Terorisme?

Jujur harus diakui bersama bahwa radikalisme dan terorisme itu sangat tidak mudah untuk dideteksi, terutama oleh masyarakat awam. Sehingga, banyak orang awam yang justru kepincut dengan gerakan radikal. Lebih sulit lagi jika radikalisme itu baru pada tingkat pemahaman, maka hal ini akan jauh lebih sulit untuk mengendusnya. Sebab, yang seringkali terjadi, kelompok teroris pandai mengelabui; di ruang publik mereka bersikap santun, baik, simpatik dan paling agamis.

Untuk itu, pengenalan terhadap ciri-ciri radikalis-teroris, menjadi sesuatu yang harus segera ditindak-lanjuti dengan serius. Syahrin Harahap dalam bukunya berjudul Upaya Kolektif Mencegah Radikalisme dan Terorisme membeberkan beberapa hal yang harus dilakukan seseorang bila melihat gejala-gejala radikalisme.

Pertama, apabila bertemu atau berdiskusi dengan seseorang atau sekelompok orang yang pemahaman keagamaannya bersifat rigid (kaku) dan tekstualis-eksklusif, maka pendapat-pendapat yang dikemukakannya perlu dikonfirmasi kepada ahli agama yang terbukti telah mempunyai pemahaman Islam yang dalam dan wawasan kebangsaannya luas.

Sejatinya, peran masyarakat umum dalam mendeteksi dini radikalisme dan terorisme sangat dinantikan. Kita tentunya tidak bisa melulu mengandalkan pihak yang berwajib untuk mengungkap benih-benih dan jaringan radikalisme terorisme di Indonesia. Oleh sebab itu, masyarakat umum harus turut serta dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme yang semakin marak.

Apabila dari kita menjumpai seseorang atau kelompok yang memiliki pemahaman keagamaan bersifat kaku dan keras, maka segera konsultasikan ke ahli agama. Sikap ini harus benar-benar dilakukan agar potensi radikalisme tidak semakin menjalar ke ranah yang lebih luas lagi.

Kedua, apabila melihat dan terlibat langsung diskusi dengan kelompok yang sepakat terhadap ide penegakan khilafah dan berkeinginan mengganti dasar negara Indonesia dengan yang lain, maka hal tersebut harus langsung ditolak dan dibantah.

Jangan kasih kesempatan bagi orang atau kelompok yang mempunyai pemahaman seperti itu. Yang berhak menghuni bumi Indonesia adalah mereka yang memiliki rasa cinta terhadap negeri ini dan menancapkan pada dirinya bahwa Pancasila sudah final, tidak usah diulik-ulik lagi (diganti-red).

Ketiga, apabila melihat sekelompok yang berusaha memanfaatkan situasi kebangkitan Taliban, misalnya, sebagai secercah harapan akan tegaknya kekhalifahan sehingga ia menggalam simpati, maka konsultasikan dengan orang tua, tokoh agama dan aparat keamanan atau aparatur negara agar segera ditindak-lanjuti.

Keempat, jika melihat seseorang atau kelompok terlibat aktif dalam kegiatan bersama organisasi yang memiliki afiliasi kepada kelompok radikal, maka segera laporkan ke tokoh agama atau aparat keamanan.

Terkait hal ini, fenomena S, yakni pegawai Kimia Farma terduga teroris, patut dijadikan sebagai pelajaran. Sebab, sebagaimana yang telah diungkap, bahwa ia tergabung dalam “Perisai Nusantara Esa” pada tahun 2018 silam. Di mana Perisai Nusantara Esa ini merupakan sayap organisasi Jamaah Islamiyah dalam bidang advokasi.

Sikap peduli, kritis dan partisipatif aktif dari seluruh lapisan masyarakat inilah yang akan mengantarkan Indonesia bebas dari radikalisme dan terorisme sehingga ancaman keamanan dan kedamaian akan relatif bisa diredam. Semoga!

Facebook Comments