Mengapa Dunia Maya Jadi Lahan Basah Kelompok Radikal

Mengapa Dunia Maya Jadi Lahan Basah Kelompok Radikal

- in Suara Kita
1121
0
Mengapa Dunia Maya Jadi Lahan Basah Kelompok Radikal

Realitas jagad maya hari ini sungguh memilukan. Bagaimana tidak. Intoleransi, polarisasi, provokasi, nyinyir, saling serang, fitnah, menyebar berita hoax dan sikut sana sikut sini masih saja terjadi. Kegaduhan di jagad maya belum juga mereda.

Alih-alih mereda, kelompok radikal teroris justru malah memperkeruh keadaan dengan memproduksi narasi radikal memecah belah masyarakat dengan menunggangi isu agama untuk melecutkan sentimen agama.

Hal di atas mengkonfirmasi kepada kita semua bahwa pahlawan perdamaian di dunia maya sangat dibutuhkan untuk memastikan dan menciptakan kerukunan, perdamaian, toleran dan menjadikan perbedaan sebagai sebuah hal yang tak perlu dijadikan sebagai faktor untuk bermusuhan.

Publik rindu dengan suasana dunia maya yang teduh, rukun, menginspirasi dan saling tegur sapa sebagai saudara sebangsa dan se-tanah air. Namun karena tidak banyak aktivis atau pegiat media yang memposisikan diri sebagai sosok atau kelompok yang mampu menyatukan dan menggerakkan, maka realitas dunia maya menjadi hari ini banyak disesaki informasi ‘sampah’ yang tujuannya untuk memecah belah.

Orang bijak pandai selalu berkata bahwa setiap era memiliki tantangan dan persoalannya sendiri. Di era awal kemerdekaan, perlawanan terhadap kolonialisme harus dijalankan dengan cara berhadapan langsung dengan mereka. Tentu perjuangan model seperti itu sudah tidak relevan lagi di era saat ini.

Lantas, apa tantangan pemuda hari ini? Tentu saja jawabannya sangat beragam dan bergantung dari sudut pandang yang digunakan. Meskipun demikian, penulis menilai bahwa tantangan pemuda saat ini yang paling urgen adalah menggerakkan masyarakat, terutama masyarakat dunia maya untuk menciptakan kondisi media yang jauh dari ujaran kebencian, agitasi, hoax dan narasi radikal yang menunggangi isu agama.

Dahulu, publik terbelah menjadi dua kutub yang saling bertentangan pada saat menjelang dan ketika perhelatan lima tahunan. Kini, polarisasi itu hampir selalu terjadi, sekalipun pemilihan umum telah usai. Konflik di media sosial terus menggejala.

Kita sangat prihatin melihat dinamika di alam maya. Kebaikan seolah merupakan barang langka. Hujatan, caci-maki, cemoohan, bullying dan sejenisnya yang ‘menguasai’ langit-langit media sosial kita saat ini. Jelas, tak ada kedamaian di ruang maya.

Perdamaian yang Berkelanjutan

Media sosial sudah mulai bergeser; dari yang semula untuk sarana merekatkan persaudaraan antar sesama tanpa memandang preferensi politik, suka dan agama, menjadi sarana untuk saling menghujat, menjatuhkan dan mengadu-domba. Tentu saja kondisi demikian bukanlah kondisi yang diinginkan oleh kita semua.

Untuk itu, perlu campur tangan pemuda untuk mengembalikan tujuan awal media sosial, yakni menciptakan ruang yang damai, ajang silaturrahmi dan berukar pikiran serta informasi yang bermanfaat.

Banyak riset mengenai partisipasi pemuda di dunia maya. Misalnya lembaga survei Gallup (2012) menyebutkan bahwa satu dari lima orang Indonesia (20.6%) menggunakan internet dalam kehidupan mereka.

Lebih dari setengan (51%) penduduk muda Indonesia yang berusia antara 15-24 tahun telah menggunakan internet dalam aktivitas keseharian mereka. Sebagian penduduk muda ini (96.2%) adalah pengguna media sosial.

Data di atas polanya sama dengan yang terjadi dewasa ini, yakni pemuda merupakan entitas yang paling mendominasi penggunaan internet di Indonesia. Ini artinya, pemuda memiliki peluang yang besar untuk menggerakkan warganet lainnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan positif, seperti menjauhi hoax, menciptakan kedamaian di dunia maya dan lain sebagainya.

McQuail dan Rekan (2010) mengemukakan empat alasan seseorang menggunakan media (sosial); (1) pengalihan, yaitu melarikan diri dari rutinitas dan masalah sehari-hari, (2) hubungan personal, yakni menggunakan medsos sebagai pengganti teman, (3) indentitas personal, sebagai cara untuk memperkuat nilai-nilai individu dan (4) pengawasan, yaitu informasi mengenai bagaimana media membantu individu mencapai sesuatu.

Dua alasan terakhir kiranya memberikan pijakan pada generasi muda saat ini untuk mempengaruhi dan menggerakkan masyarakat di dunia maya untuk bersama-sama menciptakan perdamaian.

Membangun Komunitas Peacebuilding

Menurut hemat penulis, salah satu program konkret yang bisa dijalankan oleh pemuda bangsa Indonesia dalam menggerakkan dan menciptakan media sosial yang sehat dan damai secara berkelanjutan adalah dengan membangun komunitas peacebuilding. Secara sederhanya, peacebuilding ini diartikan sebagai “bina damai”.

Ada banyak pola peacebuilding komunitas yang bisa dijalankan, seperti service for selves, yaitu aktivitas-aktivitas yang bisa dijalankan adalah dengan ghatering, training, dan dialog (diskusi). Dengan cara seperti ini diharapkan akan muncul aktor perdamaian (peace maker) atau duta damai di dunia maya.

Memang saat ini sudah muncul komunitas-komunitas yang bergerak dalam bidang menciptakan perdamaian di dunia maya. Namun jumlahnya masih terbatas. Sehingga perlu mendapatkan pertahian yang ekstra dari pada pegiat media sosial.

Komunitas peacebuilding ini jangan dimaknai sekedar perkumpulan yang menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan keadaban dalam bersosial media. Lebih dari itu, juga menjadi corong edukasi masyarakat. Maka, diantara fokus garapan komunitas ini adalah meningkatkan literasi masyarakat.

Tingkat literasi masyarakat ini menjadi penting mengingat diantara faktor dominan merebaknya berita hoax adalah karena rendahnya tingkat literasi masyarakat. Akarnya ini harus menjadi fokus komunitas ini.

Jika sudah terkondisikan semua, maka berita atau konten-konten yang negatif akan lenyap. Walhasil, dunia maya akan berganti menjadi ruang yang nyaman untuk diskusi, komunikasi, bertukar informasi dan memperkuat persatuan serta persaudaraan (toleransi).

Dengan demikian, gerak dan ruang kelompok radikalis terorisme yang kerap mendompleng isu agama untuk memecah-belah masyarakat, akan menjadi sempit bahkan bisa menjadi tidak bisa bernafas lagi karena ruang maya sudah dijejali oleh konten-konten edukatif, mendamaikan dan menyatukan masyarakat luas.

Facebook Comments