Mengarusutamakan Budaya Kehidupan, Mengarusutamakan Toleransi

Mengarusutamakan Budaya Kehidupan, Mengarusutamakan Toleransi

- in Suara Kita
195
0
Mengarusutamakan Budaya Kehidupan, Mengarusutamakan Toleransi

Bila kita boleh mereduksi sejenak eksistensi manusia dan kaitannya dengan realitas internet (daring) hari ini sebagai sesama “produk” zaman terkini, maka antara keduanya seolah relasi yang tak bisa dilepaskan. Perkembangan keduanya bisa dikatakan bergerak saling bersisian satu dengan yang lain. Dalam hal ini, contoh fenomena milenial dan dunia daring bisa hadir dalam ruang yang saling mendukung. Namun dalam fenomena yang berbeda, relasi antara keduanya bisa saling mengorbankan satu dengan yang lain.

Untuk fenomena yang pertama contohnya saat ini cukup banyak, di mana terdapat kisah sejumlah orang muda yang muncul dengan kreatifitas penciptaan fitur-fitur aplikasi yang memudahkan banyak kalangan dalam kehidupan sehari-hari melalui jasa dunia digital. Namun berbeda halnya dengan dampak ikutan yang menerangkan dengan jelas posisi daring dan manusia. Pada bagian ini fenomena kedua hadir dengan memperlihatkan daya rusak terhadap umat manusia.

Apabila kita memperhatikan secara seksama maka kita akan mendapati bahwa banyak dari kaum milenial hingga masyarakat yang telah berumur yang gandrung dengan wilayah daring mampu termoderasi pemikirannya untuk kemudian mengaplikasikannya juga dalam dunia nyata. Pihak-pihak yang tengah menggandrungi dunia daring dalam konteks ini memiliki kerentanan untuk termoderasi ke banyak hal, termasuk ke arah kekerasan, pesan post-truth, populisme, politik identitas, bom bunuh diri hingga terorisme. Pada bagian ini jelas bagi kita bagaimana relasi yang terjalin dalam konteks mutualisme ternyata rentan pula bergeser untuk memunculkan budaya kematian bagi umat manusia sendiri.

Daya Rusak Budaya Kematian

Untuk diketahui, terminologi budaya kematian hadir sebagai sebuah sebuah antonim penjelas dari budaya kehidupan dan mengemuka luas sekitar 1993. Ketika itu, gereja Katolik lewat pemimpin Vatikannya, Paus Yohanes Paulus II menyerukan kepada dunia untuk mulai memperhatikan arti pentingnya konsepsi budaya kehidupan. Dalam seruannya ia menyoroti tegas terhadap aksi-aksi kekerasan yang bahkan menimbulkan peperangan yang menewaskan banyak umat manusia sebagai sebuah tindakan yang dianggap menyalahi kodrat manusia. Manusia hanyalah penerima tanggung jawab untuk mengemban tugas kehidupan dan bukan malah mengambil peran sebagai Sang Pencipta dalam memberi dan menghilangkan kehidupan.

Baca juga : Islam Indonesia: Inspirasi Bagi Perdamaian Dunia

Perlu kita ingat bersama bahwa paradigma yang mengedepankan perlindungan terhadap nilai-nilai hidup dan kemanusiaan telah hadir dari banyak tokoh dan filsuf sebelumnya, contohnya saja seperti seorang Dalai Lama, Mahatma Gandhi dan juga banyak filsuf besar. Namun pada konsepsi budaya kehidupan memberikan perhatian lebih kepada realitas kehidupan manusia yang belakangan semakin berjarak dengan penghargaan terhadap martabat manusia.

Berlandaskan pengaruh budaya (pemikiran/..isme) tertentu, banyak pihak yang belakangan terpengaruh untuk melihat manusia lainnya bukan lagi sebagai sesama manusia yang memiliki martabat yang sama dihadapan Sang Pencipta – di mana karena anugerah kehidupan dari Yang Ilahi maka kita berkesempatan untuk berproses dan terus belajar mengenai dinamika kehidupan. Persoalannya atas nama paradigma politik, ekonomi atau pun ajaran agama tertentu banyak pihak yang belakangan ini justru melihat sesamanya dari sisi utilitas ketimbang memberikan penghargaan yang tinggi untuk kemudian saling berkomitmen menjaga hidupnya dan hidup sesamanya.

Seringkali atas dasar pandangan tertentu yang baginya mesti diperjuangkan, membuat tindakan vandalisme, ancaman, penganiayaan bahkan hingga pengilangan nyawa pun mungkin dilakukan. Pada tahapan ini sebenarnya sudah jelas bahwa manusia sudah mengingkari moralitas kodrat yang sejak awal melekat padanya, yaitu manusia hanya sebagai ciptaan Sang Khalik bukan sebagai sang pencipta. Celakanya lagi hal ini sudah berlangsung sepanjang sejarah peradaban manusia dan masih langgeng hingga hari ini.

 

Budaya Kehidupan dan Toleransi

Sampai di paragraf di atas mungkin saja kita hanya mampu melihat kecemasan semata, namun disadari atau pun tidak di balik uraian tersebut tertandas ajakan untuk kembali mengarahkan pandangan bersama guna menjunjung tinggi budaya kehidupan. Secara serius uraian di atas ingin mengajak semua pihak menjadikan budaya kehidupan sebagai nilai yang mesti kita junjung tinggi bersama, sehingga aksi-aksi intoleran atau bahkan anarkis dapat semakin berjarak dengan manusia yang sejatinya diciptakan oleh Sang Ilahi secitra denganNya.

Bila kita sungguh menyadari bentuk pengkhianatan yang kita lakukan sebagai manusia dengan meletakkan keberpihakan terhadap budaya kematian ketimbang budaya kehidupan, maka setidaknya kita sudah ada di langkah awal. Langkah selanjutnya adalah menggeser keberpihakan tersebut dan mulai menetapkan langkah untuk menjaga budaya kehidupan tetap lestari. Sebab dengan mengupayakan secara serius penghormatan nilai-nilai budaya kehidupan dalam diri kita masing-masing, maka tanpa disadari pun kita telah berkomitmen menjaga nilai-nilai dasar kehidupan yaitu toleransi sesama manusia.

Ada dua bentuk toleransi yang mungkin lahir sebagai imbas dalam mengarusutamakan budaya kehidupan. Yang pertama adalah tanpa disadari kita pun diajak untuk mentolerir dinamika kehidupan yang ada tanpa ada keinginan untuk menghabisinya secara swakarsa. Yang kedua, bila kita sungguh-sungguh bisa menjunjung tinggi budaya kehidupan, artinya kita pun mampu menghargai toleransi terhadap pihak lain tanpa harus berlaku sewenang-wenang terhadap pihak lain, apalagi sampai melakukan tindakan melanggar moralitas dari budaya kehidupan.

Facebook Comments