Mengeliminasi Benci

Mengeliminasi Benci

- in Suara Kita
225
0
Mengeliminasi Benci

Dari Poso nih, siap penggal kepalanya Jokowi, insyaallah, Allahu Akbar. Siap penggal kepalanya. Jokowi siap lehernya kita penggal, dari Poso, demi Allah”. Itulah ucapan yang belakangan viral di media sosial. Seorang pemuda, dengan jaket coklat dan peci hitam, dengan tenangnya mengeluarkan kalimat dan sarat kebencian. Dia merupakan salah satu massa aksi yang melakukan demo di kantor Bawaslu, Jumat 10/5/2019.

Unjuk rasa tersebut dilakukan sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap penyelenggaraan Pemilu Serentak 2019 dan dugaan kecurangan Pilres 2019. Sejatinya, penyampaian aspirasi -termasuk melakukan demonstrasi- merupakan hak warga negara yang dijamin undang-undang. Tetapi ketika aksi disertai dengan ujaran kebencian dan ancaman terhadap pihak lain, sama saja menciderai demokrasi dan sangat berbahaya.

Setelah peristiwa ini, polisi pun bergerak cepat. Aparat kepolisian berhasil mengamankan pelaku berinisial HS di Perumahan Metro, Bogor, pada Minggu 12 Mei 2019. Dia disangkakan Pasal 104 KUHP, Pasal 27 ayat (4) junto Pasal 45 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal 104 KUHP berbunyi: Makar dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah, diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Baca juga : Ramadan dan Jihad Kekinian

Apa yang dilakukan pemuda di atas sungguh meresahkan kita sebagai bangsa sekaligus sebagai kaum Muslim. Perhatikan, saat mengeluarkan kalimat tersebut, dia menggunakan terminologi Islam secara serampangan. Allahu Akbar dan Insyaallah semestinya digunakan untuk kebaikan. Bukan untuk menyebarkan ketakutan dan menanam benih-benih kebencian. Termasuk saat dia menggunakan sumpah ‘demi Allah’ untuk membunuh seseorang. Menyeret keagungan Allah untuk melenyapkan orang lain jelas merupakan kesalahan. Aksi yang dipertontonkan pemuda itu jelas mendistori nilai-nilai Islam. Ditambah dengan penampilannya yang menggunakan atribut Islam, yaitu peci yang biasa digunakan untuk menyembah Allah, bisa menimbulkan kesalahpahaman yang fatal terhadap Islam. Apalagi Islam adalah agama yang cinta damai dan menjunjung tinggi derajat manusia.

Hal lain yang membuat miris, tindakan ini dilakukan pada bulan Ramadan. Bagi Muslim, Ramadan adalah waktu untuk melatih dan mensucikan diri. Baik jasmani, maupun rohani. Bagi jasmani, puasa adalah menahan diri untuk tidak makan, minum, dan berhubungan intim sejak subuh hingga magrib. Sementara bagi rohani, puasa adalah menahan diri dari dorongan negatif yang bisa melahirkan perilaku-perilaku yang tidak baik. Seperti membenci, marah, suudzan, hasut, dengki, dsb. Sehingga ketika seseorang telah melalui ramadan, kesuksesannya bisa terlihat dari perilakunya sehari-hari. Mereka yang memperoleh kemenangan di Hari Idul Fitri adalah orang-orang yang bisa menjaga diri dari segala perbuatan keji dan mungkar.

Saat menjalani puasa, kita pun dilarang mengeluarkan perkataan yang sia-sia dan cabul. Dalam salah satu hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Hakim, disebutkan “Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Tetapi puasa adalah menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”. Maka termasuk perkataan yang tidak berfaedah jika ada yang mengeluarkan kata-kata ancaman untuk membunuh dan memenggal orang lain yang tidak bersalah. Apalagi orang yang diancam merupakan penganut agama yang sama.

Tidak hanya mencoreng agama, perilaku pemuda di atas pun bisa mengoyak persatuan bangsa ini. Lihat saja, ketika dia mengaku berasal dari Poso. Dalam benak bangsa ini, kata Poso selalu membawa kenangan kelam. Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pernah mengalami konflik berdarah. Pertikaian dengan nuansa agama yang kental dan melibatkan dua komunitas Muslim dan Kristen. Pertikaian dimulai Desember 1998 dan berakhir setelah dilakukan Deklarasi Malino pada 20 Desember 2001. Maka ketika dia mengatakan dari Poso, ada kesan untuk membenturkan kembali dua komunitas Muslim dan Kristen. Bagi orang-orang yang mudah terprovokasi, ucapan seperti ini sudah cukup untuk membuat emosi mereka meningkat.

Agar hal-hal seperti ini tidak terus terjadi, ada baiknya semua anak bangsa berhati-hati dalam bertingkah laku. Tidak asal mengeluarkan kata-kata kebencian yang tidak bermanfaat. Dan bagi yang selama ini kerap melakukannya, bisa menggunakan momentum Ramadan untuk melatih diri. Sehingga ketika memasuki Syawal, mampu menjaga sikap dan perbuatannya. Tidak lagi senang dengan kebencian, melainkan gemar akan kasih sayang.

Facebook Comments