Mengeliminasi Sikap Intolerant dengan Pemahaman Al-Qur’an yang Objektif

Mengeliminasi Sikap Intolerant dengan Pemahaman Al-Qur’an yang Objektif

- in Suara Kita
900
0
Mengeliminasi Sikap Intolerant dengan Pemahaman Al-Qur’an yang Objektif

Saya termasuk orang yang tidak sepakat, ketika (prinsip teks) dalam Al-Qur’an itu, dijadikan dalih pembenar atas sikap intolerant terhadap mereka yang berbeda keyakinan atau-pun berbeda aliran. Karena pada pelataran teologis sekali-pun, tidak ada satu-pun ayat di dalam Al-Qur’an yang mengajak umat-Nya untuk bersikap zhalim, semena-mena, bersikap acuh, selalu arogan, melakukan tindakan anarkis dan melakukan “peminggiran” terhadap mereka yang berbeda.  

Karena, (clue-nya) Al-Qur’an selalu mendasari segala perbedaan di atas prinsip “lakum dinukum waliyadin” (Qs. Al-Kafirun:6) dan diiringi dengan sikap “la yan-hakumullahu ‘annillazina lam yuqatilukum fid-dini wa lam yukhrijukum min diyarikum an tabarruhum wa tuqsitu ilahim, innallaha yuhibbul muqsitin

(Qs. Al-Mumtahanah:8). Serta hukum kemutlakan untuk berlaku adil “wala yajrimannakum sana’aanu qoumin ala ‘alla ta’dilu, I’dilu, huwa aqrabu littaqwa” (Qs. Al-Maidah:8).

Dari contoh ayat di atas, jika kita analisis berdasarkan metodologi yang objektif, kita akan menemukan clue kebenaran yang bersifat: ketetapan, aturan, anjuran dan larangan. Sehingga, kita akan menemukan kebenaran Tuhan yang mengacu ke dalam the substance of god’s truth  yang kontra dan akan (mengeliminasi) sikap intolerant.            

Misalnya: di satu sisi kita akan menemukan kata kunci bahwa perbedaan adalah “mutlak” sebagai “kebebasan” hak individu, tetapi tidak boleh saling mengganggu. Kedua, perbedaan (bukan) sebagai “jalan” untuk kita bersikap acuh, zhalim, berbuat tidak adil dan melakukan peminggiran. Artinya apa?, kita masih memiliki ikatan “hablum minannas” yang berorientasi atas pranata etis atas orang di luar keyakinan kita. Bahwa kita perlu berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang berbeda atas prinsip hubungan (kemanusiaan).

Oleh sebab itulah, kita perlu memahami Al-Qur’an secara objektif. Bukan memahami Al-Qur’an secara subjektif. Artinya, jangan kita hanya memahami Al-Qur’an atas dasar orientasi kognitif untuk “ingin” yang condong politis dan menyesuaikan terhadap apa yang kita inginkan saja.

Karena, ketika kita memahami Al-Qur’an secara objektif, tampaknya segala sikap intolerant berupa keangkuhan, segala egoisme, anarkisme dan sikap peminggiran terhadap mereka yang berbeda, senyatanya akan benar-benar (tereliminasi).

Karena, sikap intolerant pada hakikatnya bukan tegak sebagai “something inspired”. Lalu meniscayakan ayat-ayat dalam Al-Qur’an sebagai “dalih apologies” yang mengiringinya. Karena, segala sikap dan tindakan yang intolerant, senyatanya lahir dari “Human desire without kindness”. Artinya, itu semua murni atas inisiatif kita dan murni lahir dari perilaku buruk kita.

Jadi, jangan samakan antara kebenaran-Nya yang condong mutlak sebagai “rahmatan lil alamin”. Dengan kepribadian kita yang condong membawa mudharat. Karena antara kebenaran-Nya, dengan kebenaran atas dasar “pikiran kita” yang dipenuhi oleh kebencian dan rasa dendam itu merupakan sesuatu yang sangat berbeda dan jauh sekali barometer-nya.

Maka, di sinilah pentingnya kenapa kita perlu memahami Al-Qur’an secara objektif. Karena, Al-Qur’an ketika kita pahami secara objektif, kita akan menemukan empat tendensi besar. Yaitu meninggalkan larangan-Nya, mematuhi aturan-Nya, menjauhi kemudharatan dan mendekatkan diri pada kemaslahatan.

Seperti apakah Clue-nya Al-Qur’an untuk Indonesia Harmoni dan bebas dari Intolerant?

Tentunya, kita perlu mengajak umat untuk memahami dan menekuni prinsip-prinsip nilai Al-Qur’an yang objektif tadi. Kenapa? Agar, bisa mengetahui (kebenaran etis) yang diajarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an itu sendiri. Utamanya dalam hal sikap untuk menghargai perbedaan dan mengeliminasi sikap intolerant atas dasar kebenaran AL-Qur’an yang perlu kita amini tadi.            

Sehingga, ketika ada yang bertanya kenapa kita perlu bersikap tolerant dan berbuat adil terhadap mereka yang berbeda? Tentu jawabannya “Ini adalah perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an yang perlu kita tegakkan”. Jadi, marilah jadikan Indonesia harmoni dan bebas dari sikap intolerant dengan pemahaman Al-Qur’an yang objektif bagi kemaslahatan umat dan benar-benar membawa rahmat.

Facebook Comments