Mengembalikan Kejayaan Nusantara yang Bersih dari Politik Identitas

Mengembalikan Kejayaan Nusantara yang Bersih dari Politik Identitas

- in Suara Kita
269
0

Satu hal yang perlu kita pegang perihal kejayaan Nusantara di masa lalu. Yaitu, kejayaan yang dibangun atas dasar semangat persatuan dan keragaman. Jadi, bukti kegemilangan Nusantara karena ada kekompakan sosial yang majemuk di dalamnya. Bukan ditegakkan oleh satu kelompok atau satu identitas tertentu saja yang bersifat politis.

Sebab, kejayaan Nusantara mengacu ke dalam persamaan hak sosial, kehidupan yang harmonis, anti-penindasan terhadap agama dan identitas tertentu. Menampilkan kehidupan sosial yang tidak eksklusif. Melainkan condong inklusif. Menampakkan hubungan sosial yang begitu terbuka, egalitarian dan penuh kerja-sama. Baik dalam hal perdagangan, ilmu pengetahuan dan pertukaran budaya.

Kejayaan Nusantara Tanpa Politik Identitas

 Jadi, yang perlu kita pahami. Bahwa, kejayaan Nusantara itu tegak bukan atas dasar kekuasaan satu identitas tertentu. Sebab, ada begitu banyak oknum-oknum yang sengaja mencoba (memanipulasi sejarah) tentang kejayaan Nusantara. Membangun narasi tentang kejayaan Nusantara yang mengarah ke dalam politik identitas. Seperti para pengasong khilafah di Indonesia misalnya.

Mereka terus mencoba menghubungkan sejarah kejayaan Nusantara dengan praktik kekuasaan yang berbasis satu agama, satu identitas dan satu kultur saja. Mengalihkan kesadaran masyarakat. Bahwa, yang dimaksud dengan kejayaan Nusantara itu dianggap sebagai kekuatan satu golongan saja yang berperan penting. Lewat jalur kekuasaan.

 Misalnya di tahun 2020 yang lalu. Kita diperlihatkan oleh sebuah film “Jejak Khilafah di Nusantara”. Film ini condong subjektif dan serat akan nilai politis, perihal kejayaan Nusantara. Pembuat film ini mencoba untuk menggabungkan sejarah kekuasaan Diponegoro dengan kerajaan Islam di Turki. Mencoba untuk menghubungkan sejarah Turki Utsmani yang dianggap membantu kerajaan Diponegoro untuk berkuasa di Nusantara, guna menegakkan sebuah khilafah.

Padahal, Turki Utsmani (sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Peter Cary) itu tidak ada kaitannya dengan Kerajaan Diponegoro dan tidak ada kaitannya dengan perang yang ada di Jawa. Jadi, ini hanyalah (manipulasi sejarah) yang dibuat secara orientasi untuk memunculkan politik identitas. Sehingga, ini menjadi satu bukti penting bagi kita untuk memahami dengan benar. Bahwa, kejayaan Nusantara itu kokoh dan terbangun atas dasar kebersamaan dan persatuan di dalamnya. Bukan atas dasar satu kelompok saja.

IKN Nusantara untuk Indonesia yang Majemuk

Jadi, dalam konteks pemberian nama Nusantara sebagai nama Ibu Kota Negara Indonesia (IKN) itu, sejatinya memiliki spirit penting. Untuk membangkitkan kejayaan Nusantara untuk Indonesia yang majemuk. Dalam arti pemahaman, kejayaan Nusantara yang bersih dari politik identitas. Kejayaan Nusantara yang tidak disalahpahami sebagai gerakan untuk menegakkan kekuatan agama tertentu. Atau hanya ingin menonjolkan budaya atau etnis tertentu.       

Karena, kejayaan Nusantara adalah bukti (kemajemukan) yang hidup secara damai, aman, nyaman dan penuh keharmonisan. Sebagaimana yang kita lihat dalam sejarah, Kejayaan Nusantara dikenal oleh dunia International karena keterhubungan sosial lewat jalur perdagangan yang solid, keterbukaan yang menghubungkan satu-sama lain. Tidak pandang agama, suku, budaya atau status sosial. Semua dipandang sama dalam ranah moralitas dan kemanusiaan.

Jadi, memahami nama Nusantara dan kejayaannya adalah dengan memahami sejarah yang benar. Bahwa, kejayaan Nusantara tegak atas dasar persatuan di tengah keragaman. Jadi, tidak ada satu identitas apa-pun yang berkuasa atau merasa berperan penting terhadap kejayaan Nusantara. Karena, kejayaan dan peradaban Nusantara terbangun atas dasar persatuan di tengah keragaman yang ada.

Facebook Comments