Mengenali Ciri Penyebaran Radikalisme di Kampus Ala Direktur Pencegahan BNPT

Mengenali Ciri Penyebaran Radikalisme di Kampus Ala Direktur Pencegahan BNPT

- in Suara Kita
786
0
Mengenali Ciri Penyebaran Radikalisme di Kampus Ala Direktur Pencegahan BNPT

Sebagian besar perguruan tinggi di Tanah Air sudah mulai menggelar proses belajar mengajar semester ganjil tahun akademik 2021/2022. Sebagian ada yang sudah melakukan pembelajaran secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, sebagian lain masih belajar secara virtual. Pada semester ini, kampus terasa sangat istimewa lantaran terdapat wajah-wajah baru (mahasiswa baru-red).

Sebagaimana ritus sebuah kampus, terhadap mahasiswa baru, akan diberikan pembekalan akademik agar mereka lebih siap dan cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, yang sudah barang tentu sangat berbeda dengan bangku sekolah. Lebih-lebih perkembangan kampus saat ini, dimana gerakan radikal sudah menyasar kepada para mahasiswa, khususnya mahasiswa baru, secara terang-terangan dan massif.

Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa secara keseluruhan, terutama mahasiswa baru, mewaspadai akan gerakan kelompok radikal di kampus. Terkait hal ini, Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE., MM mengungkapkan ciri-ciri penyebaran radikalisme di kampus dengan mengatasnamakan agama. Hal ini sebagaimana yang beliau sampaikan saat memberikan pembekalan pada mahasiswa baru Universitas Pakuan secara virtual (15/9/2021).

Memahami dan Mengenali Penyebaran

Adapun ciri-ciri itu adalah sebagai berikut. Pertama, eksklusif. Menurut direktur pencegahan BNPT itu, kelompok radikalis rata-rata bersikap tertutup dan tidak mau terbuka dengan pandangan lain, terutama kelompok yang berseberangan keyakinan.

Realitas kampus yang cenderung ‘bebas’ menjadi lahan empuk kelompok radikal untuk melakukan perekrutan. Namun, hal yang harus diperhatikan oleh mahasiswa adalah jangan mudah terpengaruh oleh ajaran kelompok yang memiliki ciri tertutup.

Kedua, mudah mengkafirkan orang lain. Selain tertutup dan tidak mau terbuka dengan pandangan lain meskipun itu dari kelompok yang seagama, kelompok radikalis juga mudah mengkafirkan orang lain.

Ideologi takfiri menjadi ciri ‘khas’ kelompok radikal karena mereka memandang segala sesuatu kurang mendalam, bahkan seringkali mengabaikan aspek kontekstualnya. Misalnya, bagi kelompok radikal, dunia ini hanya ada dua kelompok saja; yakni muslim dan non-muslim. Dalam lingkup negara, mereka hanya meyakini adanya dua wilayah, yakni Dar Islam dan Dar al-Harb (negara kafir). Sekalipun orang itu sama-sama mengucap dua syahadat, tetapi mengakui sistem demokrasi, maka ia dianggap kafir. Begitu mudahnya mengkafirkan seseorang. Itulah diantara ciri kelompok radikalis.

Ketiga, suka menarasikan dalam menegakkan hukum agama. Sebagai seorang muslim taat misalnya, menarasikan penegakan hukum agama itu sudah semestinya. Namun, jika penegakan hukum agama yang dimaksud adalah harus berupa formalisasi syariat Islam, maka itu-lah yang menjadi problem.

Dan kelompok radikalis selalu menarasikan berdirinya sistem khilafah yang didalamnya akan menerapkan atau memformulasikan syariat Islam sebagai hukum dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Kengototan itulah yang menyebabkan pandangan mereka tertutup. Bahwa tanpa harus ada formalisasi syariat Islam, umat Islam bisa menjalankan nilai-nilai Islam. Bahkan nilai-nilai Islam sudah terakomodasi hingga menjadi kebijakan publik.

Keempat, suka menempatkan barat sebagai ideologi-politis sebagai ancaman terhadap kesatuan umat. Bagi kelompok radikal, negara Barat itu semuanya kafir. Oleh karena itu, mereka selalu menonjolkan aspek buruk negara tersebut. Bahkan ditempatkan sebagai ancaman dan musuh umat Islam.

Kelima, berusaha untuk mengajak keanggotaannya melaksanakan kajian diskusi secara tertutup, bahkan harus melakukan pembaiatan. Poin kelima ini agaknya bagian dari pengalaman pribadi Brigjen Pol. Ahmad Wakhid yang sempat terpapar paham radikal.

Dikutip dari laman detikcom (30/3/21), ia bercerita awal mula bisa terpapar paham radikal, yakni ketika mendengar ceramah-ceramah dengan paham Salafi Wahabi di salah satu masjid di Solo. Sejak saat itu, ia mulai sering menghadiri kajian, tandasnya.

Kajian-kajian itu, digelar secara tertutup dan mensyaratkan adanya sebuah pembaiatan. Jadi, jika mahasiswa menjumpai kelompok dengan ciri-ciri sebagaimana diuraian di atas, maka segera menarik diri dan kemudian ceritakan kepada tokoh agama yang memiliki manhaj moderat agar tidak terpapar paham radikal.

Bekal untuk Mahasiswa

Dengan memahami dan mengenali ciri-ciri kelompok radikal dengan mengatas-namakan agama yang ‘berkeliaran’ di sekitar kampus saja tidaklah cukup untuk membentengi diri dari ideologi radikal. Oleh karena itu, diperlukan tambahan bekal agar imun mahasiswa semakin kuat sehingga jika ideologi radikal mendekat, akan mental.

Pertama, meningkatkan literasi agama. Sebagian mereka yang gampang terpapar paham radikal adalah orang-orang yang semangat mengenal agama namun basic keagamaannya belum mumpuni sehingga mudah terbuai dengan narasi-narasi yang seolah benar, namun sejatinya salah. Oleh karena itu, meningkatkan literasi keagamaan menjadi kata kunci dalam menangkal paham radikal.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu ketika hendak mendalami ilmu agama, perlu juga selektif dalam mencari sumber dan guru. Dengan demikian, mahasiswa diarahkan agar belajar pada guru atau organisasi yang sudah masyhur dan moderat. Jangan ikuti kelompok yang eksklusif dan sejenisnya.

Kedua, perdalam wawasan kebangsaan. Lemahnya wawasan kebangsaan menjadi pintu gerbang gampang terpapar ideologi radikal. Oleh sebab itu, perdalam wawasan kebangsaan agar kebal terhadap godaan narasi yang diproduksi kelompok radikal.

Sebagaimana yang ditegaskan oleh Direktur Pencegahan BNPT, bahwa kelompok radikal akan selalu berusaha mengaburkan dan menyesatkan sejarah bangsa ini. Dengan demikian, bekal wawasan kebangsaan yang dalam, maka akan menguatkan imun seseorang dari ancaman virus radikalisme.

Dengan mengetahui dan memahami ciri penyebaran radikalisme ditambah dengan dua bekal sebagaimana dimaksud di atas, radikalisme di kampus bisa dinetralisir dan dibersihkan sampai ke akar-akarnya. Tentunya ini bisa efektif jika seluruh pihak turut terlibat aktif dalam satu gerakan: membasmi virus radikalisme di kampus!

Facebook Comments