Mengenang Azzumardi Azra saat Menentang Penyesatan Proyek Khilafah Nusantara

Mengenang Azzumardi Azra saat Menentang Penyesatan Proyek Khilafah Nusantara

- in Faktual
200
0
Mengenang Azzumardi Azra saat Menentang Penyesatan Proyek Khilafah Nusantara

Kabar mengejutkan dan menyedihkan tentunya salah satu intelektual muslim terbaik negeri ini, Prof Azyumardi Azra, dipanggil ke rahmatullah. Namun, kepergiaannya tidak akan menghilangkan jasa dan pemikirannya bagi bangsa ini khusunya dalam merawat Islam dalam kebhinekaan.

Saya tertarik sekali mengenang almarhum ketika menjadi salah satu cendikiawan yang vocal saat para pengasong khilafah mencoba memainkan-lebih tepatnya-memutarbalikkan sejarah. Pertengahan tahun 2020 ada proyek film berjudul “Jejak Khilafah Nusantara” yang sejatinya bagian dari upaya manipulasi sejarah untuk mengelabui masyarakat yang tidak paham sejarah.

Naluri intelektual Prof Azyumardi Azra tertantang sebagai pakar sejarah peradaban Islam melihat fenoma itu.  Baginya, ilmu sejarah tidak boleh membuat fakta apalagi dibuat sendiri. Membuat fakta seolah kerajaan Demak, Mataram, Aceh dan kerajaan lain di nusantara adalah bagian dari khilafah ustmanis atau khilafah Abbasiyah adalah penyesatan sejarah. Begitulah tegasnya.

Sebagai pakar sejarah peradaban Islam, Prof Azyumardi Azra memberikan peringatan bahwa para pendukung khilafah yang sejatinya tidak paham sejarah dan konsep hanya memanipulasi sejarah dengan romantisasi dan ideologisasi konsep khilafah. Dalam Islam, konsep khilafah tidak seragam dan tunggal.

Dalam kasus ini, apa yang sering digemborkan oleh kelompok pengasong khilafah di negeri ini hanya bersumber dari Taqiyudin al-Nabhani. Ada konsep dan gagasan lain dari khilafah semisal Jamaludin al-Afghani, Abdurrahman al-Kawakibi, atau Abul A’la al-Maududi. Artinya, khilafah sebagai gagasan adalah konsep beragam dan ijtihadi.

Kesalahan berikutnya, mereka sejatinya menarik benang khilafah ke arah yang salah. Jika menarik khilafah harusnya Khulafā ar-Rāsyidūn. Kelompok pengasong khilafah masih bimbang dan kebanyakan menarik garis sejarahnya ke Sultan Abdul Hamid II (Turki Utsmani). Turki Utsmani bukanlah kekhalifahan atau khilafah, tetapi mamlakah atau sulṭaniyah. 

Menurut, Prof Azyumardi Azra, jika ingin berdiskusi dan mengembangkan konsep konsep Khilafah harus menggali sejarah Khulafā ar-Rāsyidūn dengan melihat sisi mana keberhasilan dan kegagalannya. Karena sejarah khilafah tidak semanis propaganda para pengasongnya. Tragedi, perang, dan konflik antar umat Islam terjadi dalam perebutan khilafah misalnya masa yang ketiga dan keempat Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Di Indonesia, menurut Prof Azyumardi Azra, gagasan khilafah tidak pernah mendapatkan tempat dan ketertarikan sendiri. Organisasi-organisasi Islam yang besar seperti Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama’ tidak ada yang konsen dengan wacana Khilafah. Memang, pada tahun 1924, ada “komite khilafah” yang ingin membela Turki Utsmani ketika dibubarkan oleh Turki muda. Beberapa ulama-ulama Muhammadiyah, Sarekat Islam, dan ulama-ulama dari pesantren ikut ke Hijaz dan meminta agar membatalkan keputusannya memakzulkan Sultan Abdul Hamid II. Tapi cuma sampai disitu saja dan selanjutnya tidak berkembang dalam ranah pemikiran dan gagasan apalagi ingin mendirikan khilafah di Indonesia. Tokoh Islam seperti Haji Agus Salim mengatakan bahwa khilafah tidak relevan di Indonesia karena dianggap kekuasaan yang despotik dan opresif.

Dari Orde Lama hingga Orde Baru gagasan itu dianggap tidak menarik. Muncul reformasi memberi angin segar bagi kelompok ini untuk memulai jargon dan retorika meneriakkan khilafah. Narasi dimulai dengan penjajahan liberalisme ekonomi, demokrasi, kaptitalisme dan sebaginya untuk mengatakan solusinya adalah khilafah.

Ketika berbagai gagasan itu kurang membuat masyarakat tertarik, mereka mulai mengadopsi dan mengakomodasi sejarah. Istilah nusantara yang sebenarnya belum ada dalam kamus mereka dipakai untuk memaksakan diri sebagai khilafah nusantara. Pengakuan terhadap Walisongo yang dulu mereka abaikan diangkat kembali seolah mereka para wali yang diutus khalifah.

Namun, untung saja proyek film Jejak Khilafah Nusantara kala itu harus terkubur karena tertimpa Bu Tejo melalui film “Tilik” yang lebih viral. Nampaknya masyarakat lebih memilih tertawa dari pada disesatkan dengan fakta sejarah yang dibuat-buat.

Tapi apapun kelompok ini akan terus bergerilya. Entah dengan memakai nama apalagi ke depan: wayang khilafah? Ulama khilafah atau desa khilafah? Apapun itu akan tetap harus diwaspadai. Sebagaimana ketegasan Prof Azzumardi ketika menanggapi kelompok yang terus menerus mengkampanyekan penolakan terhadap NKRI :“Kalau ada yang memprovokasi menolak NKRI dan hukum-hukum di Indonesia, maka harus ditindak tegas orang-orang kayak begitu.,”. Allahhumma firlahu, Amin.

Facebook Comments