Mengenang Faraq Fouda: Sang Pejuang Anti Negara Islam

Mengenang Faraq Fouda: Sang Pejuang Anti Negara Islam

- in Tokoh
417
0
Mengenang Faraq Fouda: Sang Pejuang Anti Negara Islam

Saya rasa, kematian Faraq Fouda layak untuk kita kenang. Dia adalah Sang “martir pencerah” yang berjuang dengan lantang menyadarkan umat akan bahayanya gerakan formalisasi syariat Islam (Negara Islam) khilafah di Mesir. Hingga, Fouda ditembak mati pada 8 Juni 1992 dengan tuduhan sebagai sang pembenci Islam, sesat dan dianggap menghina para sahabat.

Tentu, fakta di balik motif kematian Faraq Fouda tidaklah mengacu kepada tuduhan-tuduhan itu. Sebab, dia adalah sosok nasionalis yang berjuang melawan gerakan ekstrimis-radikal yang menginginkan Mesir menjadi negara Islam/negara khilafah. Fouda melahirkan satu buku yang berjudul Al-haqiqah al-ghaibah dalam bahasa kita (Kebenaran yang Hilang).

Dalam buku tersebut, Fouda menyadarkan umat Islam bahwa, gerakan formalisasi syariat Islam atau gerakan negara khilafah itu mutlak bukan perjuangan “demi Islam”, tetapi gerakan politik kekuasaan yang berdalih kebenaran agama. Bahkan, buku tersebut menjelaskan sisi kelam praktik politik kaum muslimin terdahulu yang sangat tidak layak untuk kita adopsi saat ini.

Fouda Mengungkap dengan lantang praktik kekuasaan yang otoriter, dinamika konflik antar umat Islam demi (kekuasaan) serta praktik kezhaliman yang terus diwariskan oleh kelompok radikal-ekstrimis hingga saat ini. Karena, semuanya bagi Fouda, murni gerakan (kepentingan politik kekuasaan) yang mengatasnamakan agama dan kebenaran-Nya.

Faraq Fouda mengungkapkan kebenaran etis bahwa tidak ada satu-pun kebenaran Islam di dalam Al-Qur’an yang mengacu terhadap negara Islam atau negara khilafah sebagaimana diperjuangkan kelompok radikal-ekstrimis. Karena Allah SWT hanya berbicara tentang manusia sebagai khalifah (Qs. Al-Baqarah:30) dan baldatun tayibatun warabun ghafur (Qs. Saba’:15).

Dalam peranannya, Al-Qur’an bersifat abstrak ketika berbicara tentang sistem negara dan di dalam memilih pemimpin. Dalam arti pengertiannya, sistem yang akan dibangun itu bersifat dinamis di mana setiap zaman harus memiliki ijtihad politik yang relevan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Dari sinilah alasan Fouda mengungkap sisi kelamnya politik kekuasaan umat Islam terdahulu serta, praktik kekuasaan yang otoriter hingga realitas kezhaliman yang selalu mengatasnamakan agama. Semua yang disampaikan Fouda adalah kritikan sejarah di masa lalu demi perubahan yang lebih baik di era kita hari ini, bukan kebencian terhadap Islam ketika anti gerakan negara Islam.

Bagi Fouda, negara itu sudah masuk dalam kategori negara Islami selama negara tersebut mampu membangun basis negara yang merangkul, menjamin keselamatan banyak umat manusia, menjaga tatanan, membangun keadilan serta kesejahteraan. Selama negara memiliki tata aturan yang mencakup hal demikian, maka itu sudah masuk dalam wilayah negara Islami tanpa harus berembel-embel negara Islam atau negara khilafah.

Bagi Fouda perjuangan negara Islam hanyalah motif atau alat politis kelompok ekstrimis dengan membawa dalih agama untuk menguasai tatanan serta berbuat kezhaliman. Maka, dari sinilah kita wajib mengenang Fouda yang yang berakhir di tangan kelompok ekstrimis. Dia adalah pejuang kemaslahatan umat dan berupaya ingin menjaga tatanan agar berada dalam keselamatan, keamanan, kedamaian dan tanpa konflik perpecahan.

Fouda adalah sosok penjuang yang menyadarkan kita untuk membangun satu spirit penting, yakni membersihkan segala gerakan yang mengatasnamakan agama di negeri ini. Sebab, mereka bukan berjuang demi Islam, tetapi demi sebuah kekuasaan dan menginginkan negara yang kita cintai ini hancur.

Facebook Comments