Mengetuk Kesadaran Kolektif Melawan Kekerasan Sebagai Musuh Agama dan Kemanusiaan

Mengetuk Kesadaran Kolektif Melawan Kekerasan Sebagai Musuh Agama dan Kemanusiaan

- in Suara Kita
216
0
Mengetuk Kesadaran Kolektif Melawan Kekerasan Sebagai Musuh Agama dan Kemanusiaan

Syaikh Ali Jum’ah pernah berkata: “Agama tidak mengajarkan terorisme. Terorisme tidak mungkin lahir dari agama, ia hanya produk dari akal yang tidak sehat, hati yang keras dan jiwa yang sombong”.

Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari menulis: “Sungguh memerangi Khawarij lebih utama dari pada memerangi orang-orang musyrik. Hikmahnya karena memerangi Khawarij berarti memelihara modal pokok agama Islam, sementara memerangi musyrikin untuk mendapatkan laba. Menjaga modal pokok jauh seribu kali lebih utama dari pada mencari laba”.

Memerangi Khawarij disebut lebih utama untuk menjaga modal pokok agama Islam. Modal pokok Islam adalah damai dan menjaga perdamaian. Seperti telah dimaklum, Khawarij adalah kelompok muslim yang memiliki keyakinan tertentu dan dengan keyakinannya itu merubah ajaran agama Islam menjadi agama teror.

Khawarij tetap hidup sampai saat ini dengan ragam bentuknya meskipun namanya berbeda. Ciri umum Neo Khawarij era kini adalah mereka yang lebih banyak bicara tentang jihad, tentang musuh yang berbeda haluan dan tujuan. Yaitu, semua orang yang berbeda ideologi dan keyakinan. Kelompok ini hanya berbicara tentang kematian, tentang bagaimana menghabisi orang lain.

Padahal, Islam mengajarkan keadilan, toleransi, kedamaian dan kasih sayang. Karenanya kelindan kekerasan atas nama agama seperti intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme sangat dilarang. Dalam bahasa fikih diharamkan. Islam adalah agama yang humanis.

Sayangnya, kelompok mengatasnamakan Islam justru menampilkan agama Islam dengan wajah sebaliknya. Islam bukan lagi agama yang merahmati seluruh semesta, bukan agama yang dirisalahkan kepada Nabi Muhammad. Tapi menjelma menjadi ideologi kelompok tertentu dan aktif menyuarakan kekerasan terhadap pihak lain yang berbeda ideologi dan keyakinan.

Keberagamaan seperti ini oleh Sayyidina Ali disebut “Keberagamaan anjing gila”. Bentuk keberagamaan yang fanatik buta, kaku, tidak rasional, merasa paling benar dan memandang selain dirinya salah dan musuh yang harus dimusnahkan. Model beriman seperti ini yang kemudian menyemaikan bibit-bibit intoleransi dan melahirkan anak-anak yang bernama ekstremisme dan terorisme.

Musuh Bersama dan Harus Diperangi Bersama

Intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme adalah kelindan kekerasan kemanusiaan yang bisa menimpa siapa saja. Jadi, bukan hanya musuh satu orang, tapi musuh kita semuanya. Korban ekstremisme terorisme bukan hanya orang-orang tertentu, tapi melampaui etnik, ras, kelompok dan semua penganut agama.

Untuk melawan intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme seluruh elemen bangsa harus memiliki kesadaran kuat untuk melawannya, saling membenahi antara ulama dan tokoh agama, sinergitas antara kekuatan politik dan solidaritas anti terorisme, dan kesadaran seluruh pemeluk agama bahwa segala kekerasan seperti terorisme hanya membajak agama, bukan perintah agama.

Dalam konteks masa kini, jihad melawan intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme harus dilakukan berjamaah, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Di dunia nyata dibutuhkan kolaborasi dari tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda untuk bersama-sama melakukan upaya kontra radikalisme dan terorisme, termasuk pemotongan rantai penyebabnya yakni intoleransi dan radikalisme.

Gerakan kongkritnya, dan ini yang paling penting, semau lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, mesti memasukkan kurikulum perdamaian dan lebih menekankan lagi narasi kebangsaan. Mulai dari TK sampai perguruan tinggi, pesantren-pesantren dan lembaga diniyah, diharapkan akan melahirkan manusia yang menghargai kehidupan; toleran, cinta damai, dan adil.

Dalam dunia digital gerakan kongkritnya berupa kesadaran ulama, tokoh agama dan kaum intelektual muda yang memahami betul ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, mesti tampil ke permukaan menebarkan pesan-pesan perdamaian.

Semua pihak harus bersama-sama aktif membuat informasi tandingan untuk mengcounter segala konten yang berpotensi menimbulkan kebencian dan memicu aksi terorisme. Menampilkan keceriaan untuk melawan berjuta kutukan yang menakutkan.

Umat harus disadarkan dari kesalahannya selama ini yang memandang intoleransi, radikalisme, ekstremisme dan terorisme sebagai perintah agama. Semua tindakan tak manusiawi tersebut sangat jauh menyimpang dari norma-norma agama. Agama tidak mengajarkan hal itu, agama mengajarkan ta’adul (keadilan), tasamuh (toleransi), tawasuth (moderat) dan tawazun (keseimbangan).

Perintah Tuhan: “Jangan sekali-kali kebencianmu kepada kelompok lain (orang lain) membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. (Al Madinah: 8)

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (Yunus: 99)

Facebook Comments